Istiqomah Sebagai Conditio Sine  Qunon Kemajuan

Wawan Gunawan Abdul Wahid, MA

Alumni Darul Arqam Muhammadiyah GArut Staf Pengajr Fakultas Syari’ah Dan Hukum UIN Sunan Kalijaga

Pendahuluan

Sir Muhammad Iqbal, Filsuf Muslim modern asal Pakistan, menegaskan bahwa ajaran ijtihad dalam Islam adalah prinsip gerak dalam Islam. ljtihad adalah gerak dinamis yang terus menerus dan berkelanjutan untuk meraih kemulian dan kemajuan. Ketika ijtihad berhenti maka kemajuan pun terhenti dengan sendirinya kemuliaan pun surut bahkan punah. Pendek kata ijtihad adalah keniscayaan dalam meraih kemajuan. Yang menjadi pertanyaan uraian Hadits kali ini adalah apa yang menopang ijtihad itu dapat berlangsung berkesinambungan? Hemat penulis jawabannya adalah kualitas istigamah. Rasulullah saw bersabda yang artinya:

Aku bertanya:”Wahai Rasulullah saw sampaikanlah kepada saya satu ajaran dalam Islam yang tidak akan akutanyakan kepada seeorang pun. Nabi saw menjawab: “katakanlah aku beriman kepada Allahlaluberupayalahistigamah” (Hadits riwayat Muslim dari Abi ‘Amr Sufyan bin Abdullah ra).

Makna Hadits

Ungkapan Hadit sini sangat singkat namun padat. Karena itu para ulama mengelompokannya sebagai salah satuungkapan jawami’ulkalimnya Nabi saw. Ada dua hal yang diajarkan oleh Rasulullah dalamHadits di atas: pertama menegaskan ikrar keimanan dan kedua bersikap istiqamah.

Imam Muhammad bin Ali bin Wahb al Quyasyri yang lebih dikenal dengan ibnu Daqigil ‘Id menyatakan, Hadits di atas mengajarkan setiap Muslim untuk (1) selalu memperbarui keimanannya dengan lisannya dan menjaganya untuk selamanya bersemayam dalam relung sukmanya; (2) berlaku istigamah dalam melakukan pelbagai bentuk ketaatan kepada Allah seraya menuntaskan diri dari seluruh penyimpangan yang berselisih dengan spirit istiqamah. Kandungan makna dalam Hadits ini sejalan dengan firman Allah dalam surah Fushilat ayat 30 dan surah Hud ayat 112. Tentang ayat yang terakhir iniAbdullah ibn Abbas mengabarkan “tidak ada dalam keseluruhan Al-Qur’an yang paling berat ditunaikan oleh Rasulullah kecuali ayat ini”. Itulah sebabnya Nabi saw pernah bersabda:” Surah Hud dan rangkaiannya membuat kepala tumbuh uban” “syayyabatni huud wa akhwaatuha” ( H R at-Turmudzi).

Apa itu istiqamah? Istigamah adalah martabat keimanan paripurna yang dengannya seluruh kebajikan dapat terjadi secara teratur. Orang yang belum meraih martabat istiqamah seluruh upaya yang dilakukannya sia-sia belaka. Al-Wasithi menambahkan, “istigamah adalah budi pekerti yang menyempurnakan seluruh kebajikan yang jika ditemukan dalam diri seseorang maka sempurnalah kebajikannya dan jika hilang maka kebajikannya lenyap”. Kalimat terakhir ini jembatan untuk memahamisabda lainnya tentang istigamah  “istaqiimuu wa lan tuhshuu” beristiqamahlah anda pasti anda tak dapat menghitung  kebaikan anda”(HR lbnu Majah). Jika kemajuan itu dimaknai sebagai suatu kualitas keadaan seseorang yang terus membaik dan kebaikannya terus meningkat maka penopang utama yang melahirkan dan menjaga kemajuan dalam suatu kesinambungan adalah kualitas istigamah.

istigamah dalam optimisme (husn azhzhan)

Daiam kata istiqamah tersirat makna upaya terus-menerus. Terkadang seseorang dalam rangkaian dan tahap-tahap upayanya untuk meraib kemajuan terselip rasa putus asa apakah ja dapat tiba di pantai  kemajuan itu? Surah Fushilat ayat 30 dengan terang menjelaskan bahwa orang  yang berlaku istqamah tidak pemah terselip  rasa pesimis. Sebaliknya ja melawan keadaan itu dengan optimisme. Optimisme bagi seorang Muslim adalah berfikir positif bahwa Allah senantiasa menyertainya dalam kondisi apapun dan selalu membimbingnya dalam menapaki perjalanan panjang menuju kemuliaan dan kemajuan.

 Karena itu salah satu ekspresi dari sikap optimis adalah absennya ketergesa-gesaan untuk ingin segera merasakan kesuksesan. Dia menyadari benar bahwa ketergesaan untuk memetik kesuksesan adalah perangkap dan jebakan yang dipasang syaithan. Karena itu tatkala dalam satu tahapan upayanya itu dirasakannya suiit dan mendaki ja meyakini bahwa setelah puncak pendakian pasti diikuti jalan menurun, “karena sesungguhnya setiap kesulitan disertai kemudahan dan pastilah setiap kesulitan disertai kemudahan” (Al- Insyirah [94]:5-6).

Bahkan manakala dalam sekian tahapan dihadang ujian berupa kegagalan dia tidak akan melihatnya sebagai “malam pekat terakhir yang tidak akan disusuli matahari pagi menyingsing”.

Istigamah dalam “melayani” (‘amal shalih)

Iman yang dimiliki oleh seorang yang bermartabat istiqamah adalah iman yang dicirikan dengan suka berbagi dan melayani orang lain. Itulah keimanan yang diikuti dengan amal shalih, keimanan yang dicirikan senang melihat kebahagiaan yang dirasakannya juga dirasakan saudara-saudaranya. la tidak hendak bersuka riang sendirian betapa pun sederhananya kebahagiaan yang dicicipinya. Dengan budi pekertinya inilah Allah selalu mengiriminya fasilitas bantuan yang diperlukannya. la sadar betul bahwa “Allah akan memberi bantuan kepada seorang hamba manakala ia memberi bantuan kepada saudaranya”.

Tentu saja ia pun berterimakasih (baca: syukur) kepada Allah yang selalu membantunya. Tanda terimakasihnya ia tunjukkan dengan memelihara kesukaannya berbagi dan melayani orang lain. Bahkan la berikhtiar terus untuk memperluas pelayanannya itu kepada sebanyak orang.

Karena ia suka bersilaturahmi Allah pun bersilturahmi kepadanya dengan mengirim malaikat pemberi inspirasi (tatanazzala ‘alayhim al-malaaikah..) sehingga terbuka pengetahuan baru untuk menambah kuantitas dan kualitas kebahagiaannya. Orang-orang yang dilayaninya pun bertambah banyaknya.

Istigamah dalam mengevaluasi diri (muhasabah)

Manusia bukan malaikat dalam dirinya ada dua potensi kebaikan dan kesalahan sekaligus. Terkadang jebakan-jebakan baik yang tanpa disadarinya diciptakannya sendiri mengganggunya untuk merubah visi dan misinya tentang kemuliaan dan kemajuan. Boleh jadi ia mencoba untuk sementara waktu berpindah jalur ke jalan yang tampak lebih cepat dan sedikit anak duri. Atau tatkala ia berkompetisi bersama saudara-saudaranya ia melakukan cara yang “menyimpang” dari ketentuan dan aturan main Allah dan Rasul-Nya. Karena deposit kebajikan yang ditebarkan manusia istigamah mengantarkannya tercatat di sisi Allah sebagai seorang mushin (Hud [11j:12-15) sebab itulah juga yang menjadikannya segera tersadar mengevaluasi dirinya untuk segera menghapus kekhilafannya itu dengan berbagai kebajikan baik itu dengan ibadah ritual maupun ibadah social (Ar-Ra’d [13]: 22).

      Pendek kata kekeliruan yang dilakukan manusia istiqamah tidak menjadikannya terus surut dan bergelimang dosa. Manusia istigamah menjadikan kekeliruan menjadi vitamin pahit yang berbuah keindahan.Karena kekeliruan yang sempat dilakukannya malah menyadarkannya untuk membuka berbagai upaya perbaikan menuju perbaikan dan kebaikan yang menghasilkan kemajuan.

 

Istigamah dalam keteguhan dan ketabahan (shabr)

      Hati-hatilah dengan kesuksesan dan kemajuan kecil karena ia acapkali menyilaukan pandangan yang berbuah malapetaka. Itulah yang terjadi dengan peristiwa kegagalan kaum Musimin dalam Perang  Uhud. Sejak awal Sang Nabi telah mengingatkan supaya pasukan pemanah tidak  bergerak kecuali atas perintahnya. Tatkala  pertempuran dimulai terlihat Pasukan  Musyrikin Quraisy kewalahan akibat akumulasi tembakan anak panah yang terarah  kepada mereka. Mereka pun tunggang  langgang meninggalkan berbagai perkakas  dan harta benda yang melimpah. Siasat  pun disusun komandan perang mereka  yang terkenal Khalid bin Walid. Khalid  seolah hendak menarik pasukannya  mengisyaratkan kekalahan. Senyatanya la  membawa pasukannya mundur sementara dengan memutar ke arah bukit tempat bersembunyi para pemanah itu. Pada saat  yang sama pasukan pemanah ini rupanya  tidak bersabar untuk menunggu aba-aba  Nabi saw. Mereka mengira bahwa perang  sudah tuntas dengan pertempuran yang singkat. Merekapun turun dari bukit tempat persembunyian nya untuk berebut ghanimah yang menyilaukan itu. Dan kaum  Muslimin pun menderita kalah perang karena merasa puas dengan kemajuan atau kesuksesan kecil yang belum tuntas itu.

      Pada Perang Dunia Pertama saat Angkatan Laut Inggris Raya menyerang Turki tepatnya pada tanggal 15 Maret 1935 terjadi pertempuran sengit antara kedua belah pihak.Armada Laut Inggris dibujani meriam pantai Angkatan Bersenjata Turki. Pada awalnya pertempuran berjalan seimbang. Karena massifnya dan sporadisnya serangan meriam yang dilancarkan PasukanTurki membuat Armada Laut Inggris tidak dapat menjawab serangan secara maksimal. Mereka bahkan terpojok dalam jarak tembak Pasukan Turki. Armada Laut Inggris pun memutuskan untuk mundur dari pertempuran Dardanella yang terkenal itu. Mereka tidak bersabar untuk bertahan dari gempuran meriam Pasukan Turki. Padahal jika itu mereka lakukan mereka tinggal menunggu hitungan menit saja untuk menyerang balik dan memenangkan perang. Karena pada saat itu Pasukan Turki tinggal menyisakan amunisi yang cukup hanya untuk 60 detik tembakan meriam. Bahkan mereka pun sudah bersiap-siap untuk menyerah kalah kepada Armada Laut Inggris Raya.

     Demikianlah kedua misal di atas memperlihatkan bahwa kesuksesan atau kemajuan yang sudah di depan mata pun lenyap sia-sia karena daya tahan dan keteguhan hati (shabar) tidak tersedia dalam diri pelakunya. Dari kekuatan keteguhan hati selalu muncul kecerdasan menyiapkan diri dan kecakapan berhitung kualitas diriuntuk modal berkompetisi dengan yang lain. Itulah sikap ihsan yang menjadí puncak kesabaran itu (An-Nahl [16]:126-128).

Akhirul kalam

     Dari awal hingga akhir kiranya terungkap bahwa tiada kemuliaan berupa kesuksesan kemenangan sebagai isyarat terjadinya kemajuan tanpa sikap istiqamah. Istiqomah yang dieskpresikan dalam berbagai bentuknya, antara lain, bersikap optimis,  melayani, mengevaluasi diri dan bersabar.

Wallahu A’lam bish-Shawab.