Secara etimologi, emosi berasal dari akar kata bahasa latin movere yang berarti menggerakkan atau bergerak. Kemudian ditambah dengan awalan ‘e’ untuk memberi arti bergerak menjauh. Makna ini menyiratkan kesan bahwa kecenderungan bertindak merupakan hal mutlak dalam emosi. Menurut makna paling harfiah, Oxford English Dictionary mendefiniskan emosi sebagai setiap kegiatan atau pergolakan pikiran, perasaan, nafsu; setiap keadaan mental yang hebat atau meluap-luap.

Emosi juga merupakan suatu keadaan yang bergejolak pada diri individu yang berfungsi sebagai inner adjustment  (penyesuaian dalam diri) terhadap lingkungan untuk mencapai kesejahteraan dan keselamatan individu. Definisi yang lebih jelas mengartikan bahwa emosi adalah suatu gejala psiko-fisiologis yang menimbulkan efek pada persepsi, sikap, dan tingkah laku, serta mengejawantah dalam bentuk ekspresi tertentu.

Misalnya, emosi senang yang berkombinasi dengan penerimaan (acceptance) akan melahirkan cinta (love); emosi sedih (sadness) yang berkombinasi dengan kejutan (surprise) melahirkan kekecewaan mendalam (disappointment); cinta (love) berkombinasi dengan marah (anger) melahirkan kecemburuan (jealousy) (Hude, 2006: 23).

Di dunia Islam, kajian atas emosi bukanlah barang baru. Al Qur’an juga hadits banyak sekali menyinggung tentangnya.

”(Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepada kamu.” (QS Alhadiid [57]: 23).

Allah SWT telah memberi karunia kepada manusia berupa perasaan hati atau emosi. Saat menghadapi berbagai macam situasi dan kondisi, secara naluri, emosi akan bereaksi. Ayat di atas memberikan petunjuk agar emosi diekspresikan secara benar.

Hanya keteguhan iman yang akan membuat seseorang bisa mengendalikan emosi dengan izin Allah SWT. Sehingga, semua qadha dan qadar-Nya akan diterima dengan ridha. Baik itu yang sesuai dengan keinginan maupun yang tidak sesuai.

Allah SWT mahamengetahui apa yang baik untuk kita. ”Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu, Allah mengetahui sedangkan kamu tidak mengetahui.” (QS Albaqarah [2]: 216).

Apa pun yang terjadi, akan direspons secara positif dengan mengedepankan sikap sabar dan syukur. Ketenangan dan ketenteraman hati dirasakan. Tidak timbul kekecewaan, kegelisahan, kecemasan, dan kekhawatiran, karena yakin bahwa Allah SWT selalu menyertai kita.

Disadari bahwa kegagalan bersama keberhasilan, kekalahan bersama kemenangan, adalah siklus yang akan terus berputar. ”Dan bahwasanya Dialah yang menjadikan orang tertawa dan menangis.” (QS Annajm [53]: 43).

Tertawa dan menangis adalah ekspresi dari emosi yang bereaksi. Tertawa berlebihan akan mematikan hati nurani. Tertawa yang baik adalah yang dicontohkan Rasulullah SAW. ”Aku tidak pernah melihat Rasulullah berlebih-lebihan ketika tertawa hingga terlihat langit-langit mulut beliau. Sesungguhnya (tawa beliau) hanyalah senyum semata.” (HR Bukhari).

Rasulullah SAW bersabda, ”Dua mata yang tidak akan terkena api neraka, yaitu mata yang menangis karena takut kepada Allah dan mata yang berjaga di jalan Allah.”

Menangis yang dimaksud dalam hadis di atas bukan tangis cengeng tanda putus asa. Tapi, menangis karena Allah SWT, yang merupakan indikator kelembutan hati dan kepekaan jiwa. Tangisan yang ditimbulkan oleh getaran-getaran keimanan dalam sanubari.

Menanggapi maraknya kejahatan yang dihakimi oleh masyarakat sendiri. Tentunya itu merupakan keputusan emosional, jika kejahatan dibalas dengan kejahatan tidak akan membuat ujung yang baik. Menimbulkan dendam dan juga makin hilangnya aturan hukum di masyarakat tersebut. Sehingga bisa menimbulkan kegoncangan dalam tatanan masyarakat tersebut.

“Orang-orang yang bertakwa adalah mereka yang menafkahkan (harta mereka) baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya serta memaafkan (kesalahan) orang lain. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan” (QS Ali ‘Imran:134).

“Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa” (QS al-Maaidah:8).

Semoga kita termasuk orang-orang beriman yang mampu mengendalikan diri dalam menjalani hidup didunia untuk menuju hidup yang lebih baik dan kekal di akherat.