Ajarkan Anakmu Tauhid Sejak Dini!

0

ilustrasi © bp.blogspot.com

Oleh: Hamizan Abqari

Pagi itu, jarum jam menunjukkan tepat pukul 06.00. Semua orang sibuk mempersiapkan aktivitas keseharian mereka. Di ujung jalan, dari sebuah rumah sederhana, terdengar seorang anak kecil menyanyikan lagu Sakitnya Tuh Di Sini. Usianya baru lima tahun. Tetapi ia hafal dan sangat fasih menirukan lagu yang biasa diputar tiap pagi oleh orang tuanya.

Dari gambaran di atas, semestinya seorang anak tidak seperti itu. Seusia anak 5 tahun yang masih duduk di bangku TK mestinya diajarkan hal-hal yang positif, karena masa-masa tersebut dalam fase meniru dan mengikuti. Maka sangat berbahaya jika apa yang dilihat dan didengarkannya sesuatu yang mungkar dan tidak ada manfaat sama sekali. Karena untuk menjadi anak yang sholeh, doa dari orang tua saja tidak cukup namun dari semua yang dilihat maupun didengar anak harus dijadikan idola maupun teladan yang baik sehingga anak menirukan atau mengikuti hal-hal yang positif bagi kehidupannya.

Seharusnya yang diberikan pertama kali kepada anak adalah kalimat tauhid. Kalimat itulah yang harus diulang-ulang kepada anak hingga fasih, dengan cara mendikte dan anak menirukan terus menerus dengan mendasari keimanan kepada anak-anak kita.

Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan Imam Hakim, Rasulullah SAW memerintahkan kepada umatnya untuk mengajarkan kalimat La ilaaha illallah kepada anak-anak sejak dini. Ibnu Qayim dalam Ahkamul Maulud menegaskan, pada saat anak-anak mulai belajar bicara, sudah menjadi kewajiban orang tua untuk mendiktekan kepada mereka kalimat La ilaaha illallah. Maka, dengan kalimat tersebut ita dapat menjelaskan kepada anak bahwasanya Allah maha pencipta, Allah maha pemberi, Allah yang mengatur semua yang ada di alam ini, Allah mendengarkan semua ucapan manusia, mengawasi gerak gerik manusia dan Allah bersama hamba-Nya di mana pun berada.

Sungguh sekiranya semua manusia mengetahui dan yakin betapa besarnya kalimat tauhid yang diperintahkan oleh Rasulullah SAW, niscaya orang tua akan mewajibkan dirinya mendiktekan dan mengajarkan kalimat Tauhid yang mempunyai makna terdalam dan terbesar jika disertai keimanan dalam hati, sehingga dalam mengajarkan kepada anak juga disertai pengamalan-pengamalan dari yang terkecil, misalnya:

  1. Belajar mensyukuri nikmat yang telah diberikan
  2. Pengenalan tokoh-tokoh yang agung dalam Islam
  3. Pengajaran etika/berperilaku terhadap orang lain
  4. Pengajaran akan tanggungjawab anak terhadap Rabb-Nya, kita bisa mengajaknya shalat ke masjid
  5. Mengembangkan rasa percaya diri dan tanggung jawab dalam diri anak

Doa orang tua mempunyai peranan penting sekali dalam pendidikan anak, bahkan dalam urusan kehidupan, dan hanya Allah ‘Azza wa Jalla yang memberikan taufiq dan hidayah. Orang tua mungkin telah berusaha maksimal mungkin dalam mendidik anaknya supaya menjadi anak shaleh tetapi tidak berhasil. Sebaliknya, ada anak shaleh sekalipun terdidik di tengah lingkungan yang menyimpang dan jelek bahkan mungkin dibesarkan tanpa mendapat perhatian pendidikan dari kedua orangtua jadi, petunjuk itu semata-mata dari Allah. Dialah yang berfirman:

إِنَّكَ لا تَهْدِي مَنْ أَحْبَبْتَ وَلَكِنَّ اللَّهَ يَهْدِي مَنْ يَشَاءُ وَهُوَأَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ

“Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya…” (QS. Al Qashash:56).

Maka kita sebagai orang tua tidak boleh melupakan aspek ini dan wajib memohon dan berdo’a kepada Allah semoga berkenan menjadikan kita dan anak keturunan kita orang-orang yang shaleh. Hanya Dialah yang memberi petunjuk kepada jalan yang lurus. Dan upayakan kalimat Tauhid sudah tertancap di hati anak sejak dini dan diiringi dengan pengamalan sesuai ajaran islam yang benar.

Sungguh, amat berbeda jauh dengan apa yang dilakukan para sahabat Nabi terhadap anak-anak mereka. Mereka tidak saja mengajarkan kalimat tauhid tetapi juga olahraga yang diperintahkan Rasulullah SAW, yaitu: memanah dan menunggang kuda. Para sahabat mengenalkan situasi dan kondisi pada saat berperang di medan jihad.

Wallahu a’lam.