Lemahnya hadits yang masyhur : “Seandainya matahari diletakkan di tangan kananku dan bulan di tangan kiriku…”
Silsilah adh-Dha’ifah wal Maudhu’ah :

909 – ” يا عم! والله لووضعوا الشمس في يميني، والقمر في يساري، على أن أترك هذا الأمر حتى يظهره الله أو أهلك فيه ما تركته “.

” Wahai Paman, Demi Allah, kalau pun matahari diletakkan di tangan kananku dan rembulan di tangan kiriku, agar aku meninggalkan perkara ini (penyampaian risalah), sehingga Allah memenangkannya atau aku binasa , pastilah tidak akan aku meninggalkannya. “


Hadits dha’if.
Dikeluarkan oleh Ibnu Ishaq dalam al-Maghaazii (I/284-285 tentang “Sirah Ibnu Hisyam”) dengan sanad dari Ya’qub bin Utbah bin al-Mughirah bin al-Akhnas, ia mengisahkan, “Ketika kaum Qurfaisy mendatangi Abu Thalib untuk memprotes semua kegiatan dakwah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam, maka Abu Thalib menegur Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sebagai berikut, “Wahai anak saudaraku, sesungguhnya kaummu datang kepadaku lalu memprotes begini dan begitu, karena itu tetaplah denganku dan jagalah dirimu, serta jangaanlah engkau bebani aku sesuatu yang aku tidak mampu untuk mengembannya,” Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda…..”
Sanad riwayat ini dha’if lagi mu’dhal sebab ya’qub bin Utbah adalah seorang tabi’ut tabi’in tsiqah lagi masyhur dan wafat pada 128 Hijriyah.
Selain itu, saya dapatkan riwayat senada dengan sanad yang hasan dan lebih baik dari ini. Karenanya riwayat tersebut saya utarakan dalam kitab Silisilah Hadits-hadits sahih dengan nomor hadits 92.

===============

adapun di ash-shahihah no. 92 :

۹٢ – مَا اَنَابِاَقْدَرَ عَلٰى اَنْ اَدَعَ لَكُمْ ذٰلِكَ ، عَلٰى اَنْ تَشْعَلُوْا لِىْ مِنَهَا شَعْلَةً : يَعْنِى الشَّمْسَ .

“Aku tak kuasa meninggalkan hal itu, meskipun karenanya kalian akan meletakkan matahari di atasku.”

Hadits ini diriwayatkan oleh Abu Ja’far Al-Bakhtari di dalam Hadits Abil Fahdal Ahmad bin Mala’ib (47/1-2), Ibnu Asakit (11/363/1, 19/44/201) melalui Abu Ya’la dan yang lain, keduanya dari Yunus bin Bukair yang berkata, “Telah meriwayatkan kepada kami Thalhah bin Yahya dari Musa bin Thalha, ia berkata, “Ukail bin Abi Thalib meriwayatkan hadits kepadaku, ia mengisahkan:
“Orang-orang Quraisy datang kepada Abu Thalib, lalu mereka melaporkan: “Apakah Engkau melihat Ahmad? Ia benar-benar mengganggu dengan adzan dalam menyeru kepada kami di masjid kami. Tolong hentikan perbuatannya itu.” Kemudian Abu Thalib berkata: “Wahai Uqail, tolong panggilkan Ahmad (Muhammad-shallallahu ‘alaihi wasallam ) ke sini.” Perawi melanjutnya kisahnya: “Setelah itu aku mencarinya dan membawanya menghadap ayah. Setibanya di hadapan ayah, beliau memberi tahu: “Wahai keponkakanku, kaum Quraisy melaporkan bahwa engaku telah mengganggu mereka. JIka benar maka hentikanlah.” Perawi masih menuturkan: “Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melirik pamannya itu (riwayat lain menyebutkan: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengernyitkan matanya) kemudian menengadah dan bersabda: (Perawi kemudian menyebutkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam di atas). Perawi mengakhiri kisahnya: “Kemudian Abu Thalib berseru, “Keponakanku ini tidak berbohong, karena itu, pulanglah kalian.”
Saya berpendapat: Sanad hadits ini hasan, dan semua perawinya tsiqah disamping termasuk perawi-perawi yang dipakai oleh Imam Muslim. Mengenai Yunus bin Bukhair dan Yahya bin Yahya memang ada kritik yang dilontarkan kepada keduanya, tetapi kritik itu tidak berpengaruh.
Sedangkan hadits yang redaksinya: “Wahai paman, seandainya mereka meletakkan matahari di tangan kananku, dan bulan di tangan kiriku, agar aku mau meninggalkan dakwahku itu, maka aku tetap tidak akan meninggalkannya, sebelum Allah memberikan kemenangan kepadaku, atau aku sendiri yang hancur.”
Sanad hadits terakhir ini tidak kuat. Oleh karena itu saya memasukkannya ke dalam Al-hadits Adh-Dha’ifah (lihat hadits no. 909).

=======
maraji’ :
Silsilah ash-shahihah & adh-dha’ifah , maktabah syamilah
Silsilah Hadits Shahih & Silsilah Hadits Dha’if, penerbit GIP