Hari ini Allah telah suratkan takdir hamba (Hasan al-Jaizy) membaca risalah ‘ilmiah’ teranyar karya Ustadz Muhammad Ma’ruf Khazin –semoga Allah menjaganya- dalam muslimedianews.com. Beliau adalah anggota LBM NU Jawa Timur. 
Judul risalah beliau adalah :
 
‘Syaikh Albani ‘Ahli Hadis’ Berdusta Dalam Hadits Qunut?’ 
 
Bolehlah kiranya jika pembaca risalah kecil hamba ini menoleh sejenak di:
 
 
Secara lahiriah, risalah beliau tampak begitu ilmiah, namun secara batiniah, ia memiliki celah salah. Jika tinjauan judul ditambah, maka kesalahan semakin parah. Akhirnya secara alamiah, hamba yang masih perlu bimbingan ini, menulis risalah ini untuk melakukan sebuah islah, karena ada salah yang perlu disanggah.
 
Dimulai dari judul, hamba kurang meridhai hingga ada 4 yang ingin dikritisi:
 
[1] Yang lebih tepat adalah al-Albany, bukan Albany. Namun, ini tidak begitu bermasalah.
 
[2] Tanda kutip (‘) dalam dua kata (Ahli Hadits) isyaratkan sebuah pencibiran; dan hamba fikir Pak Ustadz mengerti maksud hamba.

[3] Lafal ‘Berdusta’ dalam judul begitu jauh dari ketepatan dalam mengaitkan dengan seorang Mujtahid dan researcher selevel al-Albany. Bisa dikatakan vulgar, maka minimal hamba katakan ‘terlalu kasar’.

 
[4] Trik membubuhkan tanda Tanya (?) setelah judul. Apakah untuk mengesankan bahwa kalimat judul hanya sekadar bertanya atau menetapkan? Yang zahir di fitrah hamba, ini adalah trik menzahirkan Insya, padahal sejatinya memaksudkan Khabar. Yakni: Zahirnya bertanya, padahal menegaskan. Not questioning, but having a statement. Tidak mempertanyakan, melainkan menetapkan. Dan Pak Ustadz tidak perlu berkilah soal ini.
 
Kemudian, mari kupas matan risalah beliau:
 
MATAN: “Jika kalimat Syaikh Albani di bawah ini dibaca oleh pengikut Madzhab Syafiiyah dan Nahdliyin maka mereka akan goyah dan ragu untuk melakukan Qunut Subuh. Dan jika dibaca oleh pengikut Wahabi maka mereka akan keras memvonis bid’ah pada Qunut.”
 
Dari hamba :
 
I don’t think so. Yang tersurat di realita: Apapun kalam Syaikh al-Albany yang bertentangan dengan Madzhab Syafi’iyyah dan Nahdliyyiin di Indonesia ini takkan membuat penganutnya ragu dan goyah; melainkan justru melabeli ‘Wahabi’, antipati, langsung di-marjuh-kan, ditentang dan dicari kesalahannya, sebagaimana yang telah dilakukan Pak Ustadz –semoga Allah menjaga Anda-. Dan hamba yakin Pak Ustadz tahu itu; karena Pak Ustadz termasuk pelakunya.
 
Kalam al-Albany yang mana? Ini (kutipan dari Pak Ustadz):
 
فَأَقُوْلُ : قَدِ اسْتَقْصَيْنَا فِي هَذَا التَّحْقِيْقِ جَمِيْعَ الْوُجُوْهِ الْمُشَارِ إِلَيْهَا وَهِيَ كُلُّهَا وَاهِيَةٌ جِدًّا ، سِوَى الْوَجْهِ اْلأَوَّلِ ، فَإِنَّهُ ضَعِيْفٌ فَقَطْ ، وَلَكِنَّهُ مُنْكَرٌ لِمَا سَيَأْتِي بَيَانُهُ . (السلسلة الضعيفة – ج 3 / ص 237)
 
“Saya (al-Albani) berkata: Telah kami bahas secara tuntas dalam masalah ini semua riwayat hadis tentang Qunut, kesemuanya sangat dlaif, kecuali hadis yang pertama (dari Anas bin Malik). Ini hanya dlaif saja namun munkar (bertentangan dengan hadis yang lebih sahih) sebagaimana akan dijelaskan” (as-Silsilah adl-Dlaifah 3/237)
 
Lalu, Pak Ustadz berkata: “Percayakah anda pada perkataan Syaikh Albani? Benarkah semua hadis tentang Qunut salat Subuh adalah Dlaif? Ternyata Syaikh Albani bohong! Saya yakin ia tahu hadis berikut yang disampaikan oleh Amir al-Mukminin fi al-hadis, al-Hafidz Ibnu Hajar, yang bermadzhab Syafii, yaitu:
 
وَقَدْ وَجَدْنَا لِحَدِيثِهِ شَاهِدًا رَوَاهُ الْحَسَنُ بْنُ سُفْيَانَ عَنْ جَعْفَرِ بْنِ مِهْرَانَ عَنْ عَبْدِ الْوَارِثِ عَنْ عَمْرٍو عَنْ الْحَسَنِ عَنْ أَنَسٍ قَالَ : { صَلَّيْتُ مَعَ رَسُولِ اللَّه صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَلَمْ يَزَلْ يَقْنُتُ فِي صَلَاةِ الْغَدَاةِ حَتَّى فَارَقْتُهُ ، وَخَلْفَ أَبِي بَكْرِ كَذَلِكَ ، وَخَلْفَ عُمَرَ كَذَلِكَ } . (التلخيص الحبير في تخريج أحاديث الرافعي الكبير – ج 1 / ص 479)
 
“Sungguh kami menemukan hadis penguat bagi hadis Qunut, yang diriwayatkan oleh Hasan bin Sufyan (dalam Musnadnya) dari Ja’far bin Mihran dari Abdulwaris dari Amr dari Hasan dari Anas, ia berkata: Saya salat bersama Rasulullah Saw, maka beliau selalu membaca Qunut dalam salat Subuh hingga saya berpisah dengan beliau, saya salat di belakang Abu Bakar juga seperti itu, dan di belakang Umar juga seperti itu” (at-Talkhish al-Habir 1/479)
 
Masih perkataan Pak Ustadz –semoga Allah memberi hamba, beliau dan kita hidayah-:
 
Hadis ini sama sekali tidak disinggung oleh Syaikh Albani dalam kitab Silsilah-Silsilah apapun. Dlaifkah hadis tersebut? Murid Ibnu Taimiyah yang bernama Syaikh Ibnu Abdil Hadi menjawabnya:
 
قَالَ الْحَافِظُ أَبُوْ مُوْسَى وَجَعْفَرُ بْنُ مِهْرَانَ مِنْ جُمْلَةِ الثِّقَاةِ فَلَمْ يَبْقَ فِي هَذَا اْلإِسْنَادِ إِشْكَالٌ يُطْعَنُ بِهِ عَلَيْهِ (تنقيح التحقيق في أحاديث التعليق لابن عبد الهادي – ج 1 / ص 376)
 
“al-Hafidz Abu Musa berkata: Ja’far bin Mihran termasuk orang terpercaya. Maka tidak ada kejanggalan sedikitpun dalam sanad hadis ini yang bisa dijadikan cacatnya hadis tersebut” (Tanqih at-Tahqiq 1/376)
 
——————————————————————-
[Mengungkap Kelalaian Ustadz Muhammad Ma’ruf Khazin]
——————————————————————-
 
Mari kita ungkap perlahan-lahan.
 
Al-Albany –rahimahullah- telah berijtihad sesuai kemampuan beliau mentakhrij, menjamak dan memeriksa jalur-jalur hadits yang berkaitan dengan Qunut Subuh. Jikalau beliau telah ber-ishaabah dalam ijtihadnya, maka dua pahala, jika beliau salah, maka tetap berpahala. Kita doakan untuk beliau karena itu, bukan langsung kita curigakan berdusta. Kita tahu kesalehan dan keilmuan beliau –kecuali bagi yang tak mau mengakui namun terlalu banyak berkicau-.
 
Al-Albany mengklaim telah memeriksa semua jalur periwayatan hadits berkaitan dengan Qunut Subuh, dan tiada satupun yang terangkat ke derajat maqbul keseluruhannya adalah lemah sekali (dhaif jiddan) kecuali satu, dan itupun tetap dhaif (tanpa jiddan) yang ditambah kemunkarannya disebabkan bertentangan dengan yang lebih sah (valid). Sebagaimana terjemahan Pak Ustadz.
 
Lalu, Pak Ustadz mulai melakukan psywar. Dan dengan tegas (pakai tanda seru = !) menyatakan: Syaikh al-Albany telah bohong! Antara judul dengan isi beda tanda Tanya dan tanda seru. J Lalu berkata:
 
“Saya yakin ia tahu hadis berikut yang disampaikan oleh Amir al-Mukminin fi al-hadis, al-Hafidz Ibnu Hajar, yang bermadzhab Syafii, yaitu….”
 
Dan hamba pun yakin beliau tahu, sebagai praktek bab Husnu Zhann dan pembuktian bahwa Pak Ustadz lah yang bersalah, sementara Al-Albany lah yang benar.
 
Pak Ustadz pun menukil dari Talkhiis al-Habiir yang beliau alihbahasakan:
 
“Sungguh kami menemukan hadis penguat bagi hadis Qunut, yang diriwayatkan oleh Hasan bin Sufyan (dalam Musnadnya) dari Ja’far bin Mihran dari Abdulwaris dari Amr dari Hasan dari Anas, ia berkata: Saya salat bersama Rasulullah Saw, maka beliau selalu membaca Qunut dalam salat Subuh hingga saya berpisah dengan beliau, saya salat di belakang Abu Bakar juga seperti itu, dan di belakang Umar juga seperti itu” (at-Talkhish al-Habir 1/479)
 
Maka, hamba pun langsung cek ke kitab. Nukilah Pak Ustadz benar; sebagaimana kelalaian Pak Ustadz juga benar-benar terjadi. Sebelum kelalaian itu hamba ungkap, ada baiknya kita cerahkan sanad hadits yang ditemukan oleh Ibnu Hajar:
 
(Matan) <== Anas bin Malik [1] <== al-Hasan [2] <== AMR [3] <== Abdul Warits [4] <== Ja’far bin Mihran [5] <== Hasan bin Sufyan.
 
Kelalaian Pak Ustadz : Mengutip perkataan Ibnu Hajar setengah dan meliburkan sisanya; padahal justru yang beliau liburkan itulah yang menjadi al-Qawl al-Faashil. Tetapi hamba berbaik sangka Pak Ustadz lalai dan tidak membaca keterangan Ibnu Hajar di kitab yang sama, halaman yang sama, dan persis setelah kalimat yang dikutip oleh Pak Ustadz. Dan mengerikannya, ucapan Ibnu Hajar yang di-skip oleh Pak Ustadz malah meruntuhkan bangunan yang Pak Ustadz susun, menghapus nukilan terakhir dari Tanqih at-Tahqiiq dan bisa memenangkan al-Albany. Lalu Ibnu Hajar berkata “pada Pak Ustadz Muhammad Khazin (perhatikan yang digarisbawahi berwarna merah):
 
وَغَلِطَ بَعْضُهُمْ فَصَيَّرَهُ عَنْ عَبْدِ الْوَارِثِ عَنْ عَوْفٍ فَصَارَ ظَاهِرُ الْحَدِيثِ الصِّحَّةَ وَلَيْسَ كَذَلِكَ بَلْ هُوَ مِنْ رِوَايَةِ عَمْرٍو
 
“Dan telah BERSALAH sebagian dari mereka (dalam menyebut salah satu perawi), maka menjadikannya : ‘Dari Abdul Warits, dari Auf (عَوْفٍ)’. Sehingga zahir hadits menjadi sahih, padahal TIDAK begitu. Malah hadits itu dari dari riwayat AMR.”
 
Dan riwayat Amr ini yang Pak Ustadz nukil lho. Coba cek siapa itu Amr, Pak Ustadz. Kalau tidak mau cek, biar Ibnu Hajar sendiri yang bicara kepada Pak Ustadz mengenai Amr. Siapakah Amr ini? Ibnu Hajar berkata:
 
وَهُوَ ابْنُ عُبَيْدٍ رَأْسُ الْقَدَرِيَّةِ وَلَا يَقُومُ بِحَدِيثِهِ حُجَّةٌ
 
“Dan dia (Amr adalah) Ibnu Ubayd, pemimpin (madzhab) al-Qadariyyah, dan haditsnya tidak bisa dijadikan hujjah.”
 
Nah lho, sekarang Pak Ustadz yang mengutip dari kitab Ibnu Hajar di halaman itu demi ‘kebenaran’, dan Pak Ustadz lah yang melanggar kebenaran yang disampaikan Ibnu Hajar di halaman yang sama. Wah waah.
 
Apa tidak takut diomeli para Ulama Jarh wa Ta’dil, ustadz? Ini hamba datangkan deh kalam para ulama mengenai Amr bin Ubayd dari kitab Tahdziib al-Kamaal (22/124-125, ar-Risaalah, cet. 1):
 
قال أبو الحسن الميموني ، عَن أحمد بْن حنبل: ليس بأهل أن يحدث عنه
 
Telah berkata Abu al-Hasan al-Maymuny, dari Ahmad bin Hanbal: “(Dia) bukan seorang ahli yang (layak diambil) hadits darinya.”
 
وَقَال عَباس الدُّورِيُّ ، عَنْ يحيى بْن مَعِين: ليس بشيءٍ
 
Telah berkata Abbas Ad-Dury, dari Yahya bin Ma’in: “(Dia) bukan apa-apa.”
 
قَال عَمْرو بْن علي : متروك الحديث، صاحب بدعة.
 
Telah berkata Amr bin Aly: “Matruuk al-Hadiits, ahli bid’ah.” (Mungkinkah bid’ah hasanah yang dimaksud? J)
 
قَال أبو حاتم : متروك الحديث
 
Telah berkata Abu Hatim : “Matruuk haditsnya.”
 
قَال النَّسَائي: ليس بثقة، ولا يكتب حديثه
 
Telah berkata an-Nasa’iy: “Tidak tsiqah, tidak (layak) ditulis haditsnya.”
 
قَال أبو داود الطيالسي عَن شعبة، عَنْ يونس بْن عُبَيد: كان عَمْرو بْن عُبَيد يكذب في الحديث
 
Telah berkata Abu Daud ath-Thayalisy, dari Syu’bah, dari Yunus bin Ubayd: “Amr bin Ubayd itu berdusta dalam hadits.”
 
قَال عفان عَنْ همام : قال مطر: واللَّه ما أصدق عَمْرو ابن عُبَيد في شئ.
 
Telah berkata Affan bin Hammam, telah berkata Mathar: “Demi Allah, aku tidak percaya Amr bin Ubayd sedikitpun.”
 
Itu saja yang saya kutip. Masih ada beberapa. Tapi cukup segitu saja. Kalau para ulama hadits sudah mencacatkan perawi, apa Pak Ustadz mau menshahihkannya? Atau membuat riwayat baru? Atau memang sudah terbiasa dengan riwayat mardud? Nah, jawabannya mungkin bisa dipikir di sepertiga malam terakhir.
 
Dan mungkin rekan-rekan Pak Ustadz, serta yang bertaqlid dengan Pak Ustadz, akan gembira dengan hasil ijtihad Pak Ustadz. Namun, setelah tahu bahwa ada kecacatan dan kelalaian, apa malah akan tambah gembira?
 
————————-
[Kelalaian Berikutnya]
————————-
 
Kelalaian berikutnya adalah Pak Ustadz kok tidak menyebutkan silsilah sanad yang dituangkan di Tanqiih at-Tahqiiq ya? Apa takut ketahuan? Atau malah tidak membaca? Atau tidak memperhatikan? Ini biar hamba beri tahu sanadnya:
 
الحسن بن سفيان في “مسنده”: ثنا جعفر بن مهران السباك ثنا عبد الوارث بن سعيد ثنا عوف عن الحسن عن أنس
 
Al-Hasan bin Sufyan dalam “Musnadnya”: Telah ceritakan pada kami Ja’far bin Mihran as-Sibak, telah ceritakan pada kami Abdul Warits bin Said, telah ceritakan pada kami AUF, dari al-Hasan, dari Anas.
 
Hamba tertibkan ya:
 
(Matan) <== Anas [1] <== al-Hasan [2] <== AUF [3] <== Abdul Warits [4] <== Ja’far bin Mihran [5] <== al-Hasan bin Sufyan.
 
Sanad di atas ada di kitab Tanqiih at-Tahqiiq, karya Ibnu Abdil Hady (w. 744 H) dan juga karya adz-Dzahaby (w. 748 H).
 
MASALAHNYA: penulisan AUF itu salah, sudah diralat oleh Ibnu Hajar dalam Talkhiis al-Habiir; sebagaimana yang telah hamba jelaskan di atas. Yang benar adalah AMR, dan AMR di-jarh oleh para ulama. Haditsnya tidak hasan, apalagi shahih. Nah lho?
 
Sekarang, yang benar siapa? Muhammad M. Khazin atau Muhammad Nashiruddin al-Albany?
 
Orang baik itu adalah yang mau rujuk ketika sudah jelas bersalah. Tetapi, biasanya orang yang tidak mau rujuk ketika sudah dikenal bersalah adalah orang yang sedari awal sudah tahu bersalah tapi tetap saja bergaya gagah.
 
Akhirnya, saya sampaikan salam untuk Ustadz Muhammad Ma’ruf Khazin. Semoga Allah lindungi beliau, keluarga dan rekan-rekan Aswaja. Semua dari kita bersaudara.
 
Your little brother, Hasan al-Jaizy