Bismillah,
Banyak tuduhan dari kaum kafir dan zindiq, bahwa umat islam adalah juga penyembah berhala, dimana mereka menyembah ka’bah ketika berhaji. Bagaiman menjawab perkara ini?

Berhaji adalah bagian dari syari’at islam yang mulia, ini ada pada rukun Islam yang ke lima.
Adapun syari’at agama ini berasal darimana? Dari Allah subhanahu wa ta’ala yang di wahyukan kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, dalilnya banyak sekali dalam Al Qur’an yang menyebutkan bahwa Allah telah mengutus Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai Rasul utusanNya, dan manusia yang beriman di haruskan taat kepada Allah dan RasulNya.

Maka setiap syari’at yang di jalankan oleh umat islam ini, berasal dari pembuat syari’at yaitu Zat yang kita sembah, Dialah Allah azaa wa jall.

Lalu bagaimana mungkin jika Allah saja melarang kita berbuat syirik, dan Allah memerintahkan kita berhaji dengan kaifiyat seperti yang dicontohkan oleh Nabi shallalllahu ‘alaihi wasallam, ini disebut Syirik?

Yang memerintahkan haji siapa? Allah
Melalui siapa? Melalui Rasul Allah, yaitu Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam,
Tata caranya bagaimana? Tatacaranya seperti apa yang di lakukan Nabi, berdasarkan apa yang telah di wahyukan Allah kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

—————————

Syaikh Sholeh Al Fauzan hafizhohullah ditanya,
Bagaimana membantah orang atheis yang mengatakan, “Wahai kaum muslimin, kalian sendiri menyembah batu (hajar Aswad) dan berputar mengelilinginya! Lantas kenapa kalian menyalah-nyalahkan yang lain menyembah berhala dan patung/gambar?

Syaikh Sholeh Al Fauzan memberikan jawaban sebagai berikut,

Ini jelas kebohongan yang nyata, kami sama sekali tidak menyembah batu (Hajar Aswad), melainkan kami menyentuhnya dan menciumnya sebagaimana yang Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lakukan. Ini artinya kami lakukan hal tersebut dalam rangka ibadah dan mengikuti Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mencium Hajar Aswad adalah bagian dari ibadah sebagaimana kita wuquf di ‘Arofah, bermalam di Muzdalifah dan thawaf keliling baitullah (Ka’bah).  Juga kita mencium Hajar Aswad dan menyentuhnya atau memberi isyarat padanya, itu semua adalah bentuk ibadah pada Allah, bukan berarti menyembah batu tersebut. Lebih dari itu, kita bisa beralasan dengan apa yang dilakukan oleh Umar bin Al Khattab radhiyallahu ‘anhuu ketika mencium Hajar Aswad. Ketika itu beliau mengatakan, “Memang aku tahu bahwa engkau hanyalah batu, tidak dapat mendatangkan manfaat atau bahaya. Jika bukan karena aku melihat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menciummu, aku tentu tidak akan menciummu.” (HR. Bukhari 1597 dan Muslim 1270)

Oleh karena itu, masalah ini adalah berkaitan dengan bagaimana umat Islam mengikuti tuntunan Nabinya dan bukan menyembah batu (Hajar Aswad). Jadi, sebenarnya mereka yang menyebarkan isu demikian telah merencanakan kebohongan atas umat Islam, kita sama sekali tidak menyembah Ka’bah. Bahkan yang kita sembah adalah Rabb pemilik Ka’bah. Begitu pula kita melakukan thawaf keliling Ka’bah dalam rangka ibadah pada Allah ‘azza wa jalla karena Allah-lah yang memerintahkan kita untuk melakukan seperti itu. Kita melakukan demikian hanya menaati Allah ‘azza wa jalla dan mengikuti tuntunan Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam.

 
[‘Aqidatul-Haaj Fi Dhouil Kitaab was Sunnah, Syaikh Sholeh Al Fauzan, hal.22-23].
Di-translate dari http://fatwaislam.com/fis/index.cfm?scn=fd&ID=890

Riyadh-KSA, 2 Jumadal Awwal 1432 H (05/04/2011)