Indonesianis George McTurman Kahin pada tahun 1948 tengah berada di Yogyakarta, Ibukota Republik yang masih muda. Satu hari dia diundang datang dalam suatu acara yang dihadiri para pejabat negara. Setibanya di tempat acara, Kahin menyalami satu demi satu para pejabat yang ada. Tibalah Kahin pada seorang lelaki berusia 40 tahun yang berwajah teduh dan berkacamata bulat, dia memakai baju dan pantalon dari bahan yang amat murah dengan potongan yang amat sederhana. Ketika diperkenalkan bahwa lelaki tersebut adalah seorang Menteri Penerangan RI, Kahin terkejut. Dia sama sekali tidak menyangka, lelaki yang kelak dikenalnya dengan nama Muhamad Natsir itu ternyata sangatlah bersahaya, tidak ada beda dengan rakyat kebanyakan. Apalagi dirinya mendengar jika baju itu merupakan satu-satunya baju yang dianggap pantas untuk acara-acara resmi.

Kahin mengenang, “Saya dengar, beberapa pekan kemudian, para anak buahnya di Kementerian Penerangan berpatungan membelikan Pak Menteri Natsir sehelai baju yang lebih pantas. Setelah baju itu dipakai Pak Menteri Natsir, para anak buahnya berkata, ‘Nah ini baru kelihatan menteri betulan’.”

Kesederhanaan merupakan prinsip hidup seorang Muhammad Natsir. Prinsip ini terus dipegangnya sejak kecil hingga menjadi pejabat negara. Dan kemudian memang terbukti, kesederhanaan inilah yang akhirnya menjadikan kekuatannya, menjadikan harga diri dan martabatnya sedemikian tinggi, dan semua orang dari berbagai kalangan menghormatinya.

Ulama Akherat dan Ulama Dunia

Kata “ulama” berasal dari bahasa Arab dan semula berbentuk jamak dari kata ‘alim, yang memiliki arti orang yang memiliki ilmu atau orang yang pandai. Imam Al-Ghazali membagi pengertian “ulama” ke dalam dua kelompok besar: Ulama Dunia dan Ulama Akherat. Ghazali dan para muhaqqiq, sepakat menyebut Ulama Dunia sebagai Ulama sû’.

Berbeda dengan Ulama Akhirat, Ulama Dunia atau Ulama sû’ ini adalah mereka yang menggunakan ilmunya bukan lillahi ta’ala, melainkan menggunakan ilmunya dan juga pengaruhnya untuk mencari kedudukan di mata umat, mencari jabatan duniawi, mengumpulkan kekayaan dunia, atau hanya mencari popularitas dan sebagainya. Ulama jenis ini adalah ulama yang lebih mencintai dunia ketimbang akherat, dan salah satu ciri yang utama adalah mereka ini lebih merasa nyaman bila berada dekat dengan penguasa ketimbang berdekatan dengan orang banyak. Untuk mencapai ambisi duniawinya, ulama dunia tidak segan-segan memanfaatkan istilah-istilah syariat atau pun memperalat hukum agama, untuk menipu umat—dan juga menipu dirinya sendiri—agar kelihatan seolah-olah apa yang diperbuatnya adalah halal.

Ulama dunia memiliki banyak harta dan sedikit menghasilkan kitab-kitab yang bermutu. Ulama dunia lebih sigap dalam melayani penguasa ketimbang melayani umatnya. Fatwa-fatwanya bersifat sementara dan sangat bercorak kekuasaan, sebab itu hampir seluruh fatwanya tidak menyentuh mata batin umatnya.

Bagaimana dengan Ulama Akherat? Ulama jenis ini adalah ulama pengikut para nabi. Waratsah al-anbiya’. Mereka berani menyampaikan yang haq itu haq dan yang bathil itu bathil, tanpa membedakan apakah itu disampaikan kepada rakyat biasa atau kepada penguasa. Ulama akherat tidak menyukaimemutar-mutar lidah di hadapan penguasa. Banyak ulama jenis ini, karena membela dan menegakkanal-haq, mendapat fitnah dan cobaan berat, bahkan nyawa pun menjadi taruhannya. Ulama Akherat lebih menyukai berada di tengah-tengah umat ketimbang berada di tengah-tengah penguasa. Ulama Akherat lebih nyaman mengatur strategi dakwah dari masjid, bukan dari hotel atau pun gedung mewah. Ulama akherat banyak menghasilkan kitab dan menghindari kepemilikan harta dunia. Jika pun memiliki banyak harta dunia, maka dia segera menyumbangkannya untuk orang-orang yang tidak mampu, sebagaimana Rasulullah SAW yang walau memiliki banyak harta dari hasil perniagaannya namun semuanya disumbangkan kepada kaum miskin, sedang dia sendiri hidup dalam kesederhanaan. Sangat banyak hadits yang meriwayatkan kesederhanaan, bahkan kemiskinan, beliau.

  1. Didin Hafidhudin (Republika, 7/8/08) menulis,“Salah satu faktor yang menyebabkan runtuhnya nilai-nilai perjuangan dalam dunia politik adalah saat materi menjadi tujuan utama dan gaya serta penampilan lebih diutamakan.”Banyak orang-orang yang awalnya lurus menjadi bengkok bahkan patah saat mendapat cobaan harta seperti ini. Sebab itu, Thufail al Ghifari, seorang munsyid, berkata, “Selamatkan dakwah, selamatkan dakwah, selamatkan dakwah kita! Apa artinya sebuah kekuasaan jika kita telah menggadai keimanan dan aqidah kita?”

Dengan tegas, Dr. Daud Rasyid menyatakan bahayanya harta dunia dalam artikelnya berjudul ‘Fitnah Harta’ : “Kalau ada orang menceritakan dirinya mendambakan punya rumah mewah, kendaraan mewah, atau apa saja yang menyenangkan dari dunia, sebenarnya dia sedang menceritakan kenaifan dirinya, sekaligus menyingkap keruntuhan ma’nawiyah (jati diri)nya di hadapan orang lain… apakah pantas seorang pemimpin merangsang anggotanya untuk mengejar harta, sementara Nabi SAW menyuruh umatnya agar berhati-hati dengan harta dan dunia? Orang-orang mukmin tak perlu diajari mencintai harta. Ajaran itu justru adalah ajaran syetan. Hanya syetan yang mengajarkan cinta harta. Yang perlu diajarkan kepada orang-orang mukmin, agar tetap tabah menghadapi rintangan dalam perjuangan.”

Pemahaman Islam yang lurus dan benar sangat dipahami oleh para ulama bangsa ini terdahulu. Sebab itulah, orang-orang seperti Muhammad Natsir, Haji Rasul, KH. Zainal Mustofa, KH. Isa Anshary, dan sebagainya senantiasa menjaga kebersihan hati dan akidahnya dengan memalingkan wajahnya dari godaan harta dunia dan berkosentrasi mendidik umat dengan ilmu yang benar.

Sosok ulama-ulama akherat seperti Muhammad Natsir merupakan tokoh yang amat langka di “zaman edan” seperti ini. Sebab itu, dalam serial tulisan ini, Eramuslim akan memaparkan riwayat hidup dan kisah-kisah kesederhanaan seorang Muhammad Natsir, dan juga ulama-ulama akherat kita lainnya, agar kita semua bisa belajar dan meneladani sikap hidup mereka. Sekaligus bisa menghindari tipuan-tipuan yang tengah dilancarkan oleh ulama-ulama dunia. Taqlid, Tsiqoh, dan Thoat hanyalah kepada Allah SWT dan Rasul-Nya, dan kepada ulama akherat, bukan kepada ulama dunia. Semoga kita tidak tertipu.

Muhamad Natsir Datuk Sinaro Panjang, demikian nama aslinya. Beliau dilahirkan pada 17 Juli 1908 di di kampung Jambatan Baukia, Alahan Panjang, masuk dalam Kabupaten Solok, Sumatera Barat. Natsir merupakan anak ketiga dari empat bersaudara. Natsir dibesarkan dalam keluarga yang sederhana namun menjunjung tinggi ilmu pengetahuan berdasarkan ketauhidan Islam. Hal ini membentuk karakter seorang Natsir hingga dewasa dan menjadi tokoh, bukan saja tokoh nasional namun juga tokoh dunia Islam.

Dunia mengenal Natsir tidak saja sebagai intelektual Islam ternama, namun lebih disebabkan sikap rendah hati dan kesederhanaannya. Orang yang cerdas sudah banyak, orang yang pintar bersilat lidah juga banyak, dan orang yang menjadi pejabat negara juga sudah teramat banyak, namun orang yang sekaligus cerdas, pintar bersilat lidah, berilmu tinggi, ditambah lagi menduduki “jabatan basah” sebagai pejabat negara, tetapi orang itu sengaja memilih hidup dengan penuh kesederhanaan, maka orang ini tentulah luar biasa.

Seperti anak-anak Minangkabau pada umumnya, setiap hari Natsir menempuh pendidikan di dua lembaga pendidikan, pagi hari menempuh pendidikan ‘sekuler’ di lembaga pendidikan umum, dan sore hari menempuh pendidikan di madrasah. Dan pada malam harinya, selepas Maghrib, Natsir bersama anak-anak lainnya belajar mengaji di surau terdekat. Di surau itu pula Natsir belajar bahasa Arab.

Sejak anak-anak Natsir telah memperlihatkan kecerdasannya. Dia berhasil menamatkan pendidikan HIS di Padang dengan prestasi yang sangat baik sehingga mendapat beasiswa penuh dari pemerintah kolonial Belanda agar Natsir bisa melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi, yakni MULO (Meer Uitgebreid Lager Onderwijs). Di kelas ini Natsir belajar bersama sama dalam satu kelas dengan murid-murid keturunan Belanda. Di Mulo pun Natsir berhasil lulus dengan predikat terbaik sehingga dia pun kembali mendapatkan beasiswa. Kali ini beasiswa untuk melanjutkan pendidikan ke AMS (Algemeene Middelbare School) di Bandung, pendidikan setara SMU untuk jurusan Sastra Barat Klasik.

Di Bandung Natsir tinggal bersama tantenya yang bernama Latifah. Di AMS inilah Natsir yang telah menginjak usia 19 tahun selain mempelajari bahasa Belanda juga bahasa latin dan kebudayaan Yunani. Walau bisa mengikuti jenjang pendidikan di lembaga milik Belanda ini, Natsir ternyata memendam perasaan tidak puas disebabkan pola pendidikan Belanda tersebut banyak yang tidak sesuai dengan akidah Islamnya.

Memilih Islam

Di tahun 1930 Natsir lulus dengan peringkat terbaik dari AMS dan ditawari Belanda untuk melanjutkan studi ke Fakultas Hukum di Batavia agar mendapat gelar Mister in de Rechten, atau ke fakultas Ekonomi di Rotterdam, atau menjadi pegawai negeri dengan gaji yang sangat cukup. Namun Natsir menolak ketiga tawaran itu dan lebih memilih untuk memperdalam ilmu agama di Persatuan Islam Bandung di bawah bimbingan Ustadz A. Hassan. Sejak saat itulah Natsir menceburkan diri ke dalam kawah candradimuka gerakan Islam yang mencita-citakan Indonesia merdeka.

Bersama Ustadz. A. Hassan, M. Natsir mengelola majalah “Pembela Islam” hingga tahun 1932. Kemudian, Natsir mendirikanYayasan Pendidikan Islam di Bandung dan memimpin langsung sebagai direkturnya dari tahun 1932 hingga 1942. Sebelumnya Natsir memang telah mengikuti pendidikan diploma keguruan di kota yang sama.

Penguasaan Natsir terhadap beberapa macam bahasa asing menyebabkan dia bisa menimba ilmu dari berbagai macam literature dan dari berbagai tokoh dunia. Wawasan politik dan sejarah pun terasah dengan baik. Dalam zaman Jepang, Natsir mulai bergerak dalam bidang politik praktis dengan bergabung pada Partai Islam Indonesia dan memimpin organisasi Majelis Al Islam A’la al-Indunisiya. Organisasi ini kian berkibar di bawah kepemimpinan Natsir. Dalam masa itu pula lahir Majelis Syura Muslimin Indonesia atau Masyumi sebagai salah satu wadah perjuangan untuk memerdekakan Indonesia.

Bandung merupakan kota di mana Natsir memulai gerakan politik berlandaskan dakwah Islamnya. Dalam organisasi Jong Islamiten Bond Bandung yang diketuainya, Natsir bertemu dengan kawan-kawan seideologi seperti Mr. Kasman Singodimejo, Mr. Moh.Roem, dan Prawoto Mangkusasmito. Di Bandung pula Natsir bertemu dengan Nur Nahar, seorang aktifis pandu puteri “Natipij” yang kemudian dinikahinya pada 20 Oktober 1934 dan menjadi teman pendamping hidup beliau dan perjuangan beliau sampai akhir hayatnya.

Poligami, Antara Natsir dan Soekarno

Natsir merupakan seorang Muslim yang patuh dan taat pada syariat Islam. Dalam hal perkawinan, Natsir termasuk seorang pendukung poligami. Poligami, menurut Natsir, adalah seperti apa yang dilakukan Rasulullah SAW, yakni didasari niat untuk menolong para janda korban perang yang masih memiliki anak-anak yang kecil yang harus dibesarkan atau melindungi keimanannya.

Sirah Nabawiyah telah memperlihatkan bahwa Rasulullah SAW yang berusia 25 tahun menikah dengan Khadijah yang sudah berusia 40 tahun. Usia pernikahannya hingga Khadijah meninggal dunia adalah 25 tahun, yang dijalaninya dengan monogami. Setelah Khadijah meninggal, Muhammad SAW yang sudah berusia 50 tahun menduda selama lebh kurang enam tahun dan kemudian menikah lagi dengan seorang janda berusia 70 tahun dengan 12 anak bernama Saudah. Lalu Rasulullah SAW menikah lagi dengan Zainab binti Jahsy, janda 45 tahun, dan juga dengan Ummu Salamah, janda 62 tahun. Setahun kemudian menikah lagi dengan Ummu Habibah, janda 47 tahun dan Juwairiyah, janda 65 tahun. Dari 11 isterinya yang dinikahi, hanya dua yang gadis yakni Mariyah binti Qibtiyah, hadiah dari Raja Mauqaqis, yang berusia 25 tahun, dan Aisyah, yang diminta oleh ayahnya, Abu Bakar Ash-Shiddqiq. Ketika menikah dengan Muhammad, Aisyah telah berusia 19 tahun, bukan 9 tahun! (baca “Muhammad SAW The Super Leader”; Dr. M. Syafii Antonio; h. 302-304).

Disebabkan memahami dengan baik dan lurus, maka walau pun menyetujui poligami dalam Islam, namun Natsir tetap setia dengan satu isteri hingga akhir hayatnya. Karena untuk menjalankan poligami, terdapat syarat-syarat teramat khusus yang tidak bisa diplintir seenaknya.

Dalam hal poligami terdapat satu episode lucu ketika Soekarno menyatakan kepada Natsir dengan terbuka bahwa dirinya tidak setuju dengan poligami, namun hal ini dibantah Natsir yang mendukung syariat poligami. Walau demikian, merupakan fakta jika Soekarno ternyata memiliki isteri banyak dan Natsir setia dengan satu isteri.

Nah, sekarang banyak orang Islam—walau tidak semuanya—yang mengambil “kebaikan” dari keduanya: menjalankan poligami yang memang dibolehkan dalam Islam, namun untuk itu mereka menikahi perempuan-perempuan muda nan molek, bahkan perawan, ikut “sunnah”nya Soekarno, dan tidak mengikuti Rasulullah SAW yang berpoligami dengan janda-janda tua, bahkan nenek-nenek, dengan bawaan anak yang banyak. Hal ini banyak dilakukan oleh pengikut madzhab “Daripada-Mendingan”.

Sejak muda api Islam telah membakar seluruh semangat hidupnya.

Dengan tegas Natsir berkata, “Pilihlah salah satu dari dua jalan: Islam atau Atheis!” Ketika di parlemen Indonesia di masa kemerdekaan, Natsir mengulangi sikap tegasnya ini tanpa sedikit pun malu atau risih, berbeda jauh dengan tokoh-tokoh Islam di masa kini yang sedapat mungkin berusaha menghindari pengucapan  kata “Islam” atau bahkan ada yang sampai hati menyatakan jika perjuangan politik Islam sudah ketinggalan zaman dan bagian masa lalu.

Walau tengah duduk di pusat pemerintahan, sikap M. Natsir tidak pernah berubah: sangat tegas jika menyangkut akidah, namun lembut dalam hal hubungan sesama manusia. Terhadap para misionaris Kristen yang di masanya sangat gencar dan terang-terangan ingin memurtadkan umat Islam, Natsir dengan berani menentangnya. Juga ketika Soekarno dan para yes-man di sekitarnya menyatakan jika kemerdekaan Indonesia disebabkan oleh semangat nasionalisme, Natsir menolak keras dan menandaskan jika Islam-lah titik-tolak, penyebab, dari kemerdekaan dan kedaulaan Indonesia.    

Sejarawan Islam Ahmad Mansyur Suryanegara menyatakan, “Rakyat Indonesia melawan penjajah dengan semangat jihad, teriakan mereka “Allahu Akbar!”, bukan yang lain.”

Ketika Soekarno sudah bersekutu dengan PKI, Natsir tanpa ragu melawannya walau itu berarti keselamatan jiwa dan karir politiknya terancam, Natsir sama sekali tidak perduli. Hidup bagi Natsir, dan ini harusnya juga bagi umat Islam lainnya, adalah berjuang di jalan dakwah untuk meninggikan kalimat Allah SWT, apa pun resikonya.

Dalam hal ini, lawan-lawan politik Natsir dan kaum Islamophobia sering mengungkit keikutsertaan Natsir dalam PRRI yang melawan kekuasaan Soekarno. Terkait hal tersebut, di masa tuanya, Natsir pernah menuturkan, ”PRRI itu gerakan perlawanan terhadap Soekarno yang sudah sangat dipengaruhi PKI. Melihatnya tentu harus dari perspektif masa itu. Ini masalah zaman saya. Biarkanlah itu berlalu menjadi sejarah bahwa kami tidak pernah mendiamkan sebuah kezaliman.”

Di arena Sidang, Natsir mampu berdebat dengan amat keras dengan lawan-lawan politiknya, tapi setelah itu mereka bisa makan-minum semeja di kantin dan mengobrol dengan akrab.

“Saya sebagai tokoh Masyumi biasa minum teh bersama-sama tokoh-tokoh PKI,” akunya. “Jadi kita memusatkan diri kepada masalah, bukan kepada person”, tambah Natsir. Bahkan menurutnya beberapa masalah penting bisa diselesaikan melalui pertemuan informal seperti itu.

Islam Sebagai Pedoman Pribadi dan Negara

Dalam berbagai ceramah, Natsir berkata, “Islam tidak terbatas pada aktivitas ritual muslim yang sempit, tapi pedoman hidup bagi individu, masyarakat dan negara. Islam menentang kezaliman manusia terhadap saudaranya. karena itu, kaum muslimin harus berjihad untuk mendapatkan kemerdekaan. Islam menyetujui prinsip-prinsip negara yang benar.

Karena itu, kaum muslimin harus mengelola negara yang merdeka berdasarkan nilai-nilai Islam. Tujuan ini tidak terwujud jika kaum muslimin tidak punya keberanian berjihad untuk mendapatkan kemerdekaan, sesuai dengan nilai-nilai yang diserukan Islam. Mereka juga harus serius membentuk kader dari kalangan pemuda muslim yang terpelajar.”

Seorang M. Natsir sangat menekankan pendidikan yang benar terhadap umat Islam, agar umat Islam memiliki akidah yang benar, bersih, dan lurus, yang bertauhid, yang hanya menyerahkan wala’ atau loyalitasnya kepada Allah SWT dan Rasul-Nya, hanya kepada kitab suci Al-Qur’an dan Hadits, bukan kepada yang lain. Jika para pemuda Islam telah memiliki akidah yang lurus seperti itu, tauhid yang murni, maka perjuangan mereka juga akan lurus dan bersih, tidak mencla-mencle, tidak plintat-plintut, tidak mengutak-atik syariat yang ada demi kepentingan duniawi sesaat.  Itu tergambar dalam buku yang ia tulis yaitu : Fiqh Da’wah.

Dalam pidatonya di depan Sidang Majlis Konstituante, 13 November 1957, M. Natsir berkata, ”Seorang sekularis tidak mengakui adanya wahyu sebagai salah satu sumber kepercayaan dan pengetahuan. Ia menganggap bahwa kepercayaan dan nilai-nilai itu ditimbulkan oleh sejarah atau pun oleh bekas-bekas kehewanan manusia semata-mata dan dipusatkan kepada kebahagiaan manusia dalam kehidupan sekarang ini belaka… Jika dibandingkan dengan sekularisme yang sebaik-baiknya pun, maka adalah agama masih lebih dalam dan lebih dapat diterima oleh akal. Setinggi-tinggi tujuan hidup bagi masyarakat dan perseorangan yang dapat diberikan oleh sekularisme, tidak melebihi konsep dari apa yang disebuthumanity (perikemanusiaan). Yang menjadi soal adalah pertanyaan, ”Dimana sumber perikemanusiaan itu?” Natsir menjawabnya sendiri, “Islam-lah sumber segala kehidupan dan keteraturan di dunia ini.”

Apa yang ditegaskan Natsir dahulu, di dalam kehidupan berbangsa dan bernegara sekarang ini sama sekali tidak diperhatikan oleh mereka yang mengklaim sebagai “tokoh-tokoh Islam”, baik yang duduk di parlemen, di partai politik, maupun di kabinet. Malah sebagian tokoh-tokoh itu malah mulai teracuni oleh pemikiran-pemikiran sekuler dengan menempatkan pluralitas—dengan konsekuensi juga paham pluralismenya—berada di atas dan menempatkan perintah Allah SWT di bawahnya.

Bahkan untuk membohongi suara hati nuraninya sendiri, untuk menipu fitrah kemanusiaannya sendiri, ada yang memakai dalil jika Islam adalah “Rahmatan lil’alamin”. Maka tanpa malu sedikit pun mereka mulai memberikan loyalitasnya kepada kaum kufar, seolah mereka tidak pernah mendapat materi pengajian Wala wal Barra.

Padahal tidak pernah sekali pun Rasulullah SAW memberikan loyalitasnya kepada kaum kuffar. Keluarga merupakan bentuk paling kecil dari pemerintahan, bukankah Islam mengatakan bahwa pernikahan otomatis batal jika seorang perempuan Muslim ternyata menikah dengan lelaki kafir?. Demikian juga dalam kehidupan bernegara.

Sebab pangkalnya adalah masalah pembinaan atau pendidikan. Dalam wawancara dengan Jurnal Inovasi, Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY, 1987), Natsir yang waktu itu telah berusia 79 tahun mengutarakan ada tiga unsur yaitu, masjid, pesantren, dan kampus, yang apabila dipertemukan, niscaya akan menjadi modal utama pembinaan umat maupun pembangunan bangsa dan negara, entah di bidang ekonomi, pendidikan, budaya dan sebagainya.

Sayangnya, sekarang ini tiga pilar kekuatan umat tersebut ditinggalkan dan digantikan dengan tiga pilar lainnya: hotel, hotel dan hotel. Sebab itu tidaklah mengherankan jika ada segelintir “tokoh Islam” yang tidak malu-malu lagi melarang umat Islam untuk menghadiri kajian ilmu di sebuah masjid di Jakarta, namun menggelar dangdutan di tempat lain.

Andai saja Natsir di zaman sekarang masih hidup dan melihat semua ini, maka bukan mustahil beliau akan berkata, “Ulangilah syahadat kalian!” Seperti yang biasa dikatakan oleh sahabat Natsir, Kasman Singodimedjo, ketika melihat ada yang tidak beres dalam tokoh-tokoh umat Islam.

Muhamad Natsir adalah orang yang besar dan sulit mencari bandingnya di masa sekarang. Ini diakui banyak orang, di antaranya Prof. Jimly Ashiddiqie, mantan Ketua Mahkamah Konstitusi menyatakan, ”Saat ini sulit mencari tokoh yang bisa kita sebandingkan dengan Natsir. Natsir bukan pengusaha, bukan orang kaya. M.Natsir tiga kali menjadi menteri penerangan dan sekali menjadi perdana menteri, bukan untuk mencari uang atau memperkaya diri.”

George McTurman Kahin, salah seorang Amerika yang kenal dengan Natsir sempat terheran-heran dengan kesederhanaan seorang Natsir, hingga baju yang dikenakannya saat menjabat sebagai Menteri adalah baju yang penuh dengan tambalan. Dan di saat masa jabatannya habis, Natsir meninggalkan kantor kementriannya pulang menuju rumah dengan mengayuh sepeda. Mobil dinasnya langsung diserahkan saat itu juga kepada negara.      

Selama menjabat sebagai menteri penerangan tiga kali, dan juga menjabat sebagai perdana menteri, kehidupan keluarga Natsir tidaklah banyak berubah. Rumahnya tetap sederhana dan pintunya terbuka bagi siapa saja yang ingin bersilaturahim. Sikap seorang Natsir ini sangat bertolak-belakang dengan orang-orang yang sekarang mengaku tokoh umat, yang setelah menjadi pejabat negara atau pejabat partai bisa mendadak kaya raya, padahal mereka tidak punya usaha lain selain pejabat partai. Dan bukan rahasia umum lagi jika kerjaan partai politik, apa pun ideologinya, tidak jauh-jauh dari jual-beli suara umat, sehingga rakyat banyak menganggap bahwa para elit partai politik sesungguhnya tidak beda dengan para pedagang, yang menjadikan suara umat atau suara rakyat sebagai barang dagangan dengan memberikan janji-janji manis saat pemilu, dan secepatnya melupakan semua itu ketika sudah berkuasa. Natsir jelas bukan tokoh umat yang seperti ini.

Salah satu peristiwa yang menunjukkan kebesaran seorang Natsir adalah saat pertemuan antara Prabowo yang telah menjadi seorang perwira dengan Muhamad Natsir. Saat iklim politik Indonesia sejak tahun 1988 telah mulai kondusif bagi dakwah Islam. Suatu hari, Prabowo, yang saat itu masih menantu Presiden Suharto, diiring sejumlah perwira Muslim hendak bersilaturahim ke kediaman Natsir di Jalan HOS. Cokroaminoto, Jakarta. Natsir yang telah tua menunggu di dalam kamarnya. Sebelum masuk ke dalam rumah, Pabowo Subianto menyempatkan diri untuk melolosi arloji dan cincin emasnya, lalu dititipkan ke ajudannya. Hal ini dilakukan Prabowo karena dia tahu jika Natsir adalah seseorang yang sangat memegang erat kesederhanaan, dan Prabowo pun sangat menghormatinya.

Apa yang dilakukan Natsir sungguh beda dengan kelakuan sebagian orang-orang yang mengklaim sebagai pemimpin umat, yang lebih sering mendatangi rumah penguasa ketimbang berjalan menyusuri pasar becek menyapa kaum mustadh’afin. Natsir tidak punya istana, namun orang-orang istana sering mendatanginya. Bukan sebaliknya. 

Tauhid Yang Benar

Salah seorang sahabat dekat Natsir adalah (alm) Hussein Umar. Suatu hari tokoh Pelajar Islam Indonesia (PII) ini menegaskan kepada penulis jika salah satu pilar yang sangat dipegang Muhammad Natsir adalah keistiqomahan dalam dakwah. Bang Hussein, demikian sebutannya, berkata, “Dakwah itu merupakan sebuah proses yang panjang. Sebab itu sama sekali tidak perlu adanya sikap tergesa-gesa ingin menikmati hasil. Semua perlu proses dan kesabaran. Jangan kita bisa dijebak lagi, karena ingin cepat-cepat menuai hasil, lalu masuk dalam skenario yang justru akan menghancurkan gerakan dakwah itu sendiri.”

Bang Hussein juga mengulangi pesan Natsir kepadanya, “Umat Islam itu diwajibkan berusaha dengan sebaik mungkin, dibatasi oleh kaidah-kaidah syariat, akidah, dan keimanan. Sedangkan hasilnya kita serahkan kepada Allah SWT, karena Allah-lah yang Maha Mengetahui dan Maha Bijaksana. Manusia wajib berusaha, sedangkan hasilnya Allah SWT yang menentukan.”

Hal inilah yang melandasi sikap perjuangan Natsir. Walau secara pribadi dia kenal dan berteman dengan para politikus dari PKI maupun dari partai-partai Kristen, namun di dalam perjuangan politiknya, Natsir tidak pernah memberikan loyalitasnya, walau sedikit pun, kepada mereka. Natsir sangat paham jika hal tersebut, wala wal baro, termasuk dalam pilar-pilar ketauhidan. Hal ini dibuktikan dengan Partai Masyumi yang tidak pernah sekali pun mengangkat calegnya dari kalangan non-Muslim. Sangat beda dan jauh dengan yang ada sekarang.

Sikap Natsir terhadap misi pemurtadan yang dilakukan Gereja sungguh jelas. Dalam satu artikel yang ditulis Natsir (1938), yang berjudul ”Suara Azan dan Lonceng Gereja”, Natsir membuka dengan tulisan: ”Sebaik-baik menentang musuh ialah dengan senjatanya sendiri! Qaedah ini dipegang benar oleh zending dalam pekerjaannya menasranikan orang Islam. Tidak ada satu agama yang amat menyusahkan zending dan missi dalam pekerjaan mereka daripada agama Islam.” Hal ini dilakukan Natsir untuk menyikapi hasil Konferensi Zending Kristen di Amsterdam, 25-26 Oktober 1938. Natsir sangat peduli dengan Konferensi tersebut, yang antara lain menyorot secara tajam kondisi umat Islam Indonesia.

Menanggapi rencana pemurtadan tersebut, Natsir menghimbau umat Islam agar, ”Waktu sekaranglah kita harus memperlihatkan kegiatan dan kecakapan menyusun barisan perjuangan yang lebih rapi. Jawablah Wereldcongres dari Zending itu dengan kongres Al-Islam yang sepadan itu ruh dan semangatnya, untuk memperteguh benteng keislaman. Sebab tidak mustahil pula di negeri kita ini, suara adzan bakal dikalahkan oleh lonceng gereja. Barang bathil yang tersusun rapi, akan mengalahkan barang haq yang centang-perenang.!” (Pandji Islam, ed. 33-34). Natsir tidak pernah memberi loyalitas perjuangan umat Muslim ini kepada kaum kuffar dengan alasan Islam itu rahmatan lil’alamin.

Terhadap usaha-usaha pemurtadan yang dilancarkan musuh-musuh Islam, Natsir sangat tegas dan tidak kenal takut maupun kompromistis. Sekarang ini, hanya ormas-ormas Islam seperti FPI-lah yang mengikuti jejak Pak Natsir dalam membela Islam dari rongrongan kaum salib maupun kaum liberalis. Sedangkan “tokoh-tokoh Islam” yang sudah keenakan duduk di kursi empuk di DPR maupun DPRD, mereka lebih memilih diam seribu bahasa, lebih memilih aman, ketimbang membela Islam. Bagi orang-orang seperti ini, belanja di Singapura bahkan sampai ke Paris, kongkow di hotel internasional, semuanya jauh lebih nikmat, dan sebab itu harus dipertahankan terus sepanjang hayat dikandung badan, ketimbang ikut berpanas-panas ria di tengah terik matahari di jalanan seperti halnya yang dilakukan para pembela Islam.

Sekarang, sangat sulit mencari sosok pejuang Islam seperti Muhammad Natsir. Sosok seperti ini sekarang hanya bisa ditemukan di masjid-masjid kampung dan di pesantren-pesantren pedalaman. Manusia besar ini berpulang kerahmatullah pada 5 Februari 1993 di Jakarta, meninggalkan berjuta hikmah dan kisah.