Yahudi sebagai sebuah bangsa digdaya di akhir zaman seperti ini, memiliki sebuah kunci “keberhasilan” dalam menjalankan misinya. Rumus mereka terletak dalam hal pendidikan. Yahudi sadar betul bahwa penanaman nilai-niai Yahudi adalah kunci dalam mengokohkan indentitas diri mereka. Ya sebuah bangsa kecil yang menjadi besar dan memiliki arti penting dalam menguasai dunia saat ini.

Di tengah sekularisasi dunia yang diciptakan mereka, Yahudi justru tampil dalam semangat militanisme yang terinternalisasi baik dalam kehidupan mereka. Bagi Yahudi, sekularisasi hanya berlaku bagi dunia Islam, namun bagi mereka tidak. Bahwa Al Qur’an hanya menjadi kitab suci berdebu bagi orang Islam, memang iya. Akan tapi sebaliknya bagi mereka, taurat adalah segala-galanya rujukan dalam menjalankan ritme kehidupan.

Eksplorasi ini bukan dalam tujuan untuk melemahkan semangat kita sebagai umat muslim, -kita adalah umat mulia yang diberikan Allah kenikmatan berupa dienul Islam dalam jiwa kita,- tapi ini adalah ajang muhasabah, intropeksi, dan juga antisipasi bahwa pada akhirnya kita akan berbenturan dengan mereka, ya dalam arti yang sebenarnya: Al Masihuddajal di pihak kaum kufar dan Al Mahdi di barisan kaum muslimin.

Menurut Rabbi Lev Baesh, Direktur pada The Resource Center for Jewish Clergy of InterfaithFamily.com, Taurat adalah lebih dari sebuah kitab suci. Ia menjadi pengacu dalam seluruh pembelajaran moral dan etika bagi orang tua dalam mendidikan anak seorang anak Yahudi.

Dalam tulisannya, Teaching Jewish Values To Your Children, pakar Parenting Yahudi itu menulis,

Pengajaran Taurat adalah tentang bagaimana mengajari seorang individu Yahudi berperilaku yang benar. Dimulai dari bagaimana mereka mampu mengurus diri sendiri, peduli terhadap sesama Yahudi, memiliki kepedulian tentang arti perjuangan, dan pembinaan terhadap generasi mendatang.

Rabbi yang aktif dalam kampanye pendidikan keluarga ini mengaku bahwa pendidikan seorang anak Yahudi tidak akan bisa dijalankan dengan misi sekularisme, dimana keluarga Yahudi terlepas dari millah mereka. Dimana terputusnya ajaran agama Yahudi dalam tiap keluarga Yahudi. Seorang keluarga Yahudi harus mendekatkan diri kepada ajaran agamanya.

Oleh karena itu, ia menekankan bahwa keberhasilan pendidikan Yahudi tidak akan terlepas pada tiga hal yang mutlak harus dimiliki seorang keluarga Yahudi, yakni bagaimana pelajaran Taurat harus diberikan kepada seorang anak, bagaimana menciptakan sebuah masyarakat Yahudi di sekitar keluarga, dan kesinambungan dalam menjalankan ibadah agama.

Dengan terlibat pada tiga hal ini, maka seseorang Yahudi memiliki fondasi kuat untuk mengajarkan nilai-nilai Yahudi bagi generasi berikutnya. “Akhirnya, jika Anda ingin menjadi guru terbaik dari nilai-nilai Yahudi, pertama menjadi murid terbaik Anda sendiri” pungkasnya

Rupanya, konsep yang ditawarkan rabbi terebut benar-benar terjalan baik di Israel. Jika di negeri ini anak-anak sudah sangat dekat dengan rokok, bahkan kita tidak asing mendengar berita seorang anak kecil yang sudah merokok dari umur dua tahun, di Israel merokok adalah sebuah hal tabu, jika tidak mau dikatakan haram.

Ya bangsa picik itu memang jahat. Ditengah Yahudi menjadi aktor produsen asap mematikan itu, namun di saat itu pula mereka mengukutuk penggunaan (bahkan pelarangannya) di negeri mereka sendiri. Perlu dicatat, Philip Morris, pabrik rokok terbesar di Amerika menyumbangkan 12% dari keuntungan bersihnya ke Israel.

Saat ini jumlah perokok di seluruh dunia mencapai angka 1,15 milyar orang, jika 400 juta diantaranya adalah perokok Muslim, berarti umat muslim menyumbang 35% dari jumlah perokok dunia. Laba yang diraih oleh produsen rokok bermerek Marlboro, Merit, Benson, L&M itu setiap bungkusnya pun mencapai 10%.

DR. Stephen Carr Leon yang pernah meneliti tentang pengembangan kualitas hidup orang Israel atau orang Yahudi. Mereka memiliki hasil penelitian dari ahli peneliti tentang Genetika dan DNA yang meyakinkan bahwa nikotin akan merusak sel utama yang ada di otak manusia yang dampaknya tidak hanya kepada si perokok akan tetapi juga akan mempengaruhi “gen” atau keturunannya.

Pengaruh yang utama adalah dapat membuat orang dan keturunannya menjadi “bodoh”atau “dungu”. Jadi sekali lagi, jika penghasil rokok terbesar di dunia ini adalah orang Yahudi ! Tetapi yang merokok, bukan orang Yahudi. Ironis sekali. Siapakah yang kemudian menjadi konsumen asap-asap rokok buatan Negara Zionis itu? Anda, orangtua anda, atau anak kita? Hanya kita yang bisa menjawab.

Dan yang lebih mengkhawatirkan lagi, kita sebagai umat Islam justru meninggalkan pilar asasi kita kepada seorang anak, yakni pendidikan Tauhid dan Al Qur’an sejak usia dini. Kita umat Islam kadang lebih sibuk pada asesoris parenting, seperti konsep “jangan katakan tidak” dan lain sebagainya. Pernah kami mendengar kenapa pendidikan Al Qur’an seperti menghafal diabaikan pada usia dini oleh psikolog muslim, dikarenakan mengganggu kognisi seorang anak. Ironis.

“There is no investment in Israel more vital than an investment in the children.” (Israel Children Centre)

Fenomena barbarisme dalam bangsa Yahudi tidak terlepas dari pendidikan Zionisme yang telah mereka tanamkan kepada anak sejak kecil. Yury Ivanof dalam bukunya yang berjudul “Hati-Hati Zionisme” menulis bahwa ajaran kekejaman, kekerasan dan kebiadaban dalam Talmud sudah diajarkan ke anak-anak sejak balita.

Para orangtua pun tidak segan-segan menanamkan prinsip mendasar pada anak-anak seperti tindak penindasan, pembunuhan dan terorisme adalah sah dan sangat dianjurkan dalam agama Yahudi. Selain orang Yahudi berhak untuk dibunuh, ini adalah perintah suci untuk bangsa Yahudi.

“Hanya orang-orang Yahudi yang manusia, sedangkan orang-orang non Yahudi bukanlah manusia, melainkan binatang.” (Kerithuth 6b hal.78, Jebhammoth 61a)

“Orang-orang non-Yahudi harus dijauhi, bahkan lebih daripada babi yang sakit.” (Orach Chaiim 57, 6a)

Namun dibalik itu semua, kunci penanaman nilai Zionisme kepada seorang anak adalah sebuah doktrin wajib bagi orang tua. Dalam Talmud, pengabaian pendidikan agama (baca: Zionisme) oleh orangtua adalah sebuah tindakan yang tercela.

“Menyangkal pengetahuan agama (sama dengan) merampas anak anak dari warisan.” (Talmud Sanhedrin 91b)

Maka itu betul kata C. Robb, “When you into the eyes your children, you can see the future of Israel”.Yahudi sadar betul bahwa pendidikan anak adalah keniscyaan bagi perlawanan selanjutnya kepada bangsa non Yahudi dan sebuah ideologi yang akan menghasilkan bibit-bibit baru.

Berdasarkan penelitian Dr. Wail al-Qodhi, bahwa materi pelajaran Sejarah, Geografi dan Bahasa Ibrani selalu menggunakan pendekatan ajaran Talmud, yaitu terorisme dan kekerasan. Anak-anak Yahudi pun sejak kecil sudah diajarkan, bahwa seorang Yahudi apabila menikah dengan Non Yahudi hukumnya tidak sah. Karena dalam ajaran Talmud wanita Non Yahudi dianggap sebagai binatang piaraan.

Dalam bahasa Talmud, maka wanita non Yahudi akan disebut dengan istilah Shiksa. Shiksa sendiri adalah kata turunan dari kata Ibrani “shegitz” yang mengacu pada bangkai babi. Oleh sebab itu, tak heran jika seorang anak kecil Yahudi di Israel pernah tertangkap kamera sedang menendang seorang ibu muslimah sebagai bentuk indoktrinasi Talmud dalam otaknya.

Bukti untuk memperkuat temuan itu adalah sebuah survei yang diadakan Ary Syerabi, mantan perwira dari Satuan Anti Teror Israel, terhadap 84 anak-anak Israel usia sekolah dasar, saat dia bergabung dengan London Institute for Economic Studies. Dari survey ini tampaknya kita akan melihat betapa mereka memang sudah bersiap untuk bertempur melawan kita (baca: umat muslim)

Ketika itu Ary Syerabi ingin mengetahui perasaan apa yang ada di dalam benak anak-anak Israel terhadap anak-anak Palestina sebaya mereka yang sesungguhnya. Kepada anak-anak Israel itu, Ary memberikan sehelai kertas dan pensil, lalu kepada mereka Ary berkata, “Tulislah surat buat anak-anak Palestina, surat itu akan kami sampaikan pada mereka.”

Hasilnya sangat mengagetkan. Anak-anak Israel yang menyangka suratnya benar-benar dikirim kepada anak-anak Palestina menulis surat mereka dengan sebenar-benarnya, keluar dari hati terdalam. Salah satu surat ditulis oleh seorang anak perempuan Israel berusia 8 tahun. Ia mengaku menulis surat kepada anak perempuan Palestina seusianya. Isi suratnya antara lain:

“Sharon (PM. Israel, red.) akan membunuh kalian dan semua penduduk kampung dan membakar jari-jari kalian dengan api. Keluarlah dari dekat rumah kami, wahai monyet betina. Kenapa kalian tidak kembali ke (tempat) dari mana kalian datang? Kenapa kalian mau mencuri tanah dan rumah kami? Saya mempersembahkan untukmu gambar (ini) supaya kamu tahu apa yang akan dilakukan Sharon pada kalian…ha…ha…”.

Dan gambar yang dimaksud anak Israel itu adalah sebuah sosok Ariel Sharon dengan kedua tangannya menenteng kepala anak perempuan Palestina yang meneteskan darah.

Menurut Dr. Wail Al Qadhi setidaknya ada 5 tujuan terselubung dalam pendidikan yang di ajarkan Yahudi terhadap anak-anak, yaitu:

1. Tercapainya keyakinan mutlak pada anak-anak bahwa bangsa Yahudi adalah bangsa pilihan dan mempunyai hak penuh atas tanah Israel.

2. Mewujudkan generasi yang benci terhadap bangsa Arab dan Islam dengan cara brutal, sadis dan teroris serta memperluas wilayah Israel dengan cara merampas dan merampok.

3. Memperjelas dan memberikan pemahaman pada anak-anak, orang Yahudi akan menjadi musuh bersama non Yahudi, dan tidak akan ada yang menolong Bangsa Yahudi kecuali orang Yahudi itu sendiri.

4. Mewujudkan generasi yang saling menolong dan melingdungi hanya untuk sesama Yahudi dan untuk non Yahudi berlaku sebaliknya.

5. Terbentuknya generasi yang bangga sebagai bangsa Yahudi, kaum termulia dari umat lainnya (sya’bu mukhtar), bangsa yang mendapat kehormatan mendapat “tanah yang dijanjikan” (al-ardhu al-mau’udah), dan sebagai bangsa pilihan yang mempunyai kelebihan dan keistimewaan.

Media Barat sering menggembar-gemborkan bagaimana kurikulum sekolah di Palestina kerap mengajarkan kebencian mereka kepada Israel, tanpa mereka melakukan kritik serupa kepada orangtua Israel yang mendoktrinasi anak-anaknya yang menyatakan bahwa anak-anak Palestina lebih buruk dari najis.

Mereka juga mensinyalir ajaran Jihad sebagai pemicu rusaknya perdamaian antara Israel dan Palestina, tanpa menunjuk hidung mereka sendiri dimana tidak ada ajaran yang lebih biadab dari Zionisme yang menyatakan selain golongannya lebih daripada babi yang sakit.

Inilah yang dilakukan oleh Arlene Khusner, seorang Jurnalis Israel, yang pernah menulis “Texts of Hate”pada tahun 2008 yang menyerang ajaran kekerasan dalam Al Qur’an sebagai “pihak tertuduh” dibalik kebencian anak Palestina kepada rezim Zionis. Atau juga tulisan “Hamas Steals Mickey Mouse Image to Teach Hate and Islamic Supremacy,” pada tahun 2007 yang ditulis oleh dua agen Israel Itamar Marcus and Barbara Crook yang mengkritik tayangan Televisi Hamas (Aqsa TV).

Hamas memakai serial anak Mickey Mouse untuk mendoktrin Jihad para anak Palestina dan meyakinkan Islam akan menguasai dunia. “Rafah Sings oh..os its answer is AK 47,” ya bunyi yang dilantunkan Mickey Mouse ala Hamas di Aqsa TV itu

Kini yang mengkhawatirkan adalah penyebaran doktrinasi Talmud kepada anak-anak tidak saja terjadi di Israel, tapi juga meluas ke dataran Asia, seperti Korea Selatan. Kantor Berita YNET, melaporkan bahwa hampir setiap rumah di Korea Selatan sekarang berisi Talmud terjemahan Korea. ibu-ibu di Korea sudah mulai mengajarkan Talmud kepada anak-anak mereka.

Dalam sebuah negara hampir 49 juta orang yang percaya pada ajaran Buddha dan Kristen, ada lebih banyak orang yang membaca Talmud – atau setidaknya memiliki salinan mereka sendiri di rumah – lebih dari di negara Yahudi. Bahkan lebih. Inikah memang tanda-tanda akhir zaman dimana nantinya dunia akan terbelah menjadi dua: antara kaum kafir dan umat muslim?

“We would like our students to be able to communicate in Hebrew, more importantly, we should try to allow them a life-long access to the stories and ideas of the Bible and the Rabbinic texts to the prayers.”

Kata-kata di atas berasal dari tulisan Rahel Halabe yang berjudul “Is Hebrew a ‘Second Language’ for our Children?”. Rahel Halabe adalah seorang praktisi pendidikan Bahasa Ibrani yang terkenal di kalangan Yahudi dan menulis sebuah pengantar bahasa Ibrani yang berjudul “The Introduction to Biblical Hebrew the Practical Way“. Uniknya, mayor pendidikan Halabe justru Sastra dan Bahasa Arab di Hebrew University, Israel.

Dalam tulisannya, Halabe menjelaskan betapa pentingnya penguasaan bahasa Ibrani bagi seorang anak Yahudi. Halabe berujar adalah tindakan fatal bagi bangsa Yahudi jika memperlakukan bahasa Ibrani sebagai bahasa kedua.

Alasan Halabe sangat beralasan, sebab bahasa Ibrani bagi seorang anak Yahudi, tidak saja semata-mata menjadi tuntutan teologis tapi bahasa Ibrani adalah representasi kultur atau budaya yang menjadi bagian tak terpisahkan dari identitas seorang Yahudi. Maka itu, menurutnya, cara awal agar seorang anak Yahudi dekat dengan bahasa Ibrani amat tergantung dari orangtuanya.

Orangtua Yahudi, kata Halabe, sudah harus memperkenalkan bahasa Ibrani-dan bukan bahasa lainnya- tepat ketika bayinya lahir. Orangtua dituntut untuk memperkenalkan bahasa Ibrani dengan cara seperti menyanyikan bahasa Ibrani dan membiasakan berbicara kepadanya saat awal-awal seorang anak Yahudi hadir dalam kehidupan nyata.

Halabe juga mendelegasikan tulisan Ibrani modern kepada seorang anak. Hal ini tidak saja untuk memudahkan jalan mereka menguasai percakapan bahasa Ibrani dan literatur modern Ibrani, tetapi juga akan mendukung studi mereka tentang teks-teks teologi klasik Yahudi seperti Siddur dan Mishnah.

“Introducing young students to modern Hebrew literature will not only ease their way into Hebrew conversation and modern Hebrew literature, but will support their study of the classical texts: Bible, Siddur, Mishnah and more. In fact, studying classical Hebrew will, in its turn, support the learning of modern Hebrew, which draws so much from its layered linguistic traditions.

Akhirnya ketika semua proses itu telah usai, pada gilirannya, Yahudi pun akan memetik hasilnya. Hasil itu adalah berupa generasi dewasa Yahudi yang terpelajar sekaligus menghargai warisan dan budaya mereka. Ya, bukan budaya yang lainnya.

“In fact, studying classical Hebrew will, in its turn, support the learning of modern Hebrew, which draws so much from its layered linguistic traditions. A rich program offering both past and present will help produce educated adult Jews who are well-read and appreciative of their heritage and culture.”

Hal ini seakan berbalik dengan dunia Islam. Kita memang banyak melahirkan sarjana-sarjana pintar, cerdas, dan trengginas tapi sayangnya mereka tidak bangga pada agamanya, pengetahuan agama mereka pun minim. Mereka pun tidak memiliki keterikatan terhadap warisan luhur agamanya.

Walhasil, banyak kita saksikan seorang Profesor ber-KTP Islam, tapi baru mempelajari Islam, justru ketika dirinya pensiun. Ia memang pakar sosiologi, ekonomi, dan politik tapi tidak memliki akses terhadap wacana klasik Islam, ini terjadi karena mereka tidak menguasai bahasa Arab sebagai bahasa resmi agamnya. Dampak ini cukup fatal, karena umat Islam kehilangan akses terhadap sejarah agamanya dan agama (Islam) itu sendiri.

Padahal Muhammad Assad (Leopold Weiss/1900-1922), mantan Yahudi yang masuk Islam dan menulis “Islam at the Crossroad” pernah mengatakan bahwa ketika suatu bangsa tidak memiliki akses kepada sebuah peradaban yang membesarkannya, maka peradaban itu akan terputus. Peradaban itu akan mati dan tinggal sejarah. Dampaknya, generasi mendatang dari bangsa tersebut akan terputus kepada akar sejarahnya dan tidak akan memiliki lagi perasaan bangga kepada warisan peradabannya.

Maka itu, Muhammad Quthb dalam bukunya “Kaifa Naktubu Attarikhal Islami” yang kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, “Mengapa Kita Perlu Menulis Ulang Sejarah Islam”. menyatakan sejarah adalah bagian penting bagi Umat Islam untuk mengetahui akar peradabannya.

Kini setelah mereka bersatu dalam Israel, Yahudi bisa dikatakan bangsa yang sangat memperhatikan warisan bahasanya. Di Israel kini Bahasa Ibrani menjadi kurikulum wajib di tiap sekolah. Mata pelajaran bahasa Ibrani menjadi mata pelajaran utama di tiap jenjang pendidikan. Jalan-jalan di Israel pun mayoritas ditulis dalam bahasa Ibrani. Zionis Israel memberikan nama-nama dengan bahasa Ibrani untuk beberapa desa, kota dan wilayah setelah mereka berhasil ‘menjajah’ wilayah Palestina pasca perang tahun 1948.

Bahkan baru-baru ini, dalam upaya menampilkan karakter Yahudi di negara Zionis Israel tersebut, pemerintahan sayap kanan Israel akan menghapus semua papan-papan tanda publik yang berbahasa Arab dan Inggris dari seluruh Israel. Yisrael Katz, Menteri Transportasi Israel, sekaligus anggota Knesset mengatakan tindakan tersebut dilakukan sebagai jawaban terhadap penolakan warga Palestina untuk menggunakan nama-nama Ibrani untuk beberapa kota yang ada di Israel. Israel Lihatlah bagaimana militansi mereka terhadap Ibrani.

Tentu kita masih ingat pada seorang orientalis Yahudi bernama Abraham Geiger yang pernah menulis buku kontroversial yang berjudul, Was hat Mohammed aus dem Judenthue aufgenommen? (Apa yang diambil Muhammad dari Yahudi). Buku ini mengantarkan penulisnya lolos seleksi ke Universitas Bonn dan kelak menjadi Doktor teologi terhebat abad 19. Dan anda mau tahu berapa umur Geiger saat menulis buku yang menjelaskan banyak hal yang “dicuri” Islam dari Yahudi itu? 23 tahun.

Sekalipun menjadi liberal, berkat penguasaannya pada bahasa Ibrani, Geiger kecil sudah akrab dengan literatur Ibrani teks-teks teologi Yahudi. Penguasaan bahasa itu pula yang membuatnya di umur 17 tahun pun konsisten mengkaji bahasa dan sastra Arab. Selama berjam-jam, Geiger tekun mengkaji Al Qur’an di dalam Universitas tua di Universitas Bonn.

Inilah yang harus menjadi instropkesi bagi dunia Islam. Sudahkah kita mendahulukan bahasa “ibu” kita sebagai umat Islam, yakni bahasa Arab ketimbang bahasa lain? Berapakah uang yang kita gelontorkan untuk memperdalam bahasa Al Qur’an itu ketimbang bahasa Inggris? Kenapa kita hanya melantunkan adzan kepada anak saat baru lahir namun terputus untuk mengajarkannya bahasa Arab sebagai hak seorang anak hingga dewasa. Maka itu jangan salahkan anak kita jika mereka tidak bangga kepada Islam.

Atau betul memang kata Umar bin Khaththab, bahwa sebelum anak durhaka kepada orangtuanya, orangtuanya dahulu yang telah durhaka kepada anaknya. “Engkau datang untuk mengadukan kedurhakaan anakmu, padahal engkau telah durhaka kepadanya sebelum ia mendurhakaimu. Engkau telah berbuat buruk kepadanya sebelum ia berbuat buruk kepadamu,” kata Umar kepada orangtua yang mengadukan kedurhakaan anaknya, dan usut punya usut, sang orangtua dululah yang memulai. Allahua’lam.

“Sesungguhnya Kami telah jadikan Al-Qur’an dalam bahasa Arab supaya kalian memikirkan.” (Surat Yusuf: 2).

“Jadilah berbuah dan berkembang biak” adalah perintah pertama dalam Yudaisme. Anak-anak berada di pusat visi Yahudi kehidupan keluarga. Saat ini Israel terus menempa anak-anak mereka untuk menjadi penerus tongkat estafet Yahudi. Dipundak mereka lah jalan Yahudi untuk menguasai dunia akan diemban. Termasuk menyambut sang mata satu, yakni Al Masihud Dajjal.

Israel adalah salah satu Negara yang sangat serius terhadap anak. Bisa dikatakan masa depan Israel akan sangat bergantung kepada anak-anak Israel itu sendiri. Maka itu tak heran, jika C. Robb mengatakan, “When you into the eyes your children, you can see the future of Israel”.

Hal ini pun diamini oleh Israel Children Centre (ICC), sebuah lembaga sosial Anak terbesar Israel sejak tahun 1976. Di situsnya, israelchildren.org, dituliskan bahwa program-program ICC seperti pengembangan diri, penempaan fisik, sosial dan lain sebagainya, akan membantu masa depan Israel yang lebih cerah, “they help guarantee a bright future for the State of Israel.”

Perhatian Israel kepada seorang anak memang perintah Talmud. Kitab rasis itu menerangkan peran penting orangtua Yahudi dalam menjaga millah anaknya. Tugas ini dilakukan tidak hanya oleh seorang ibu, tapi juga ayah. Maka itu ada sebuah ayat Talmud yang menerangkan peran seorang ayah dalam memainkan pendidikan anak.

Seorang ayah harus berhati-hati untuk menjaga anaknya dari kebohongan, dan ia harus selalu menjaga firman-Nya kepada anak-anaknya. (Talmud Sukkah 46b)

Dalam mazhab Hasidik pun ada sebuah riwayat ketika seorang ayah pernah datang ke Baal Shem Tov (Pemimpin Mazhab Hasidik Yahudi) dengan membawa suatu masalah seputar anaknya. Ia mengeluh bahwa anaknya meninggalkan ajaran moralitas Yahudi dan bertanya kepada rabbi Baal Shem Tov langkah apa yang harus ia lakukan. Maka, Baal Shem Tov pun menjawab: “Lebih cintai lagi anakmu.”

Artinya, anak adalah investasi terbesar dalam millah Yahudi dalam mewujudkan titah kejayaan Israel dalam suatu masa. Oleh karenanya, dalam perkembangan terakhir, tercatat ada tren dimana lembaga-lembaga anak mulai menjamur di Israel.

Selain ICC, salah satu lembaga yang concern menangani anak Yahudi Israel ialah National Council for The Child Israel (NCCI). NCCI didirikan pada tahun 1979. Jika ICC bergerak pada ranah sosial dan pendidikan, maka NCCI lebih begerak pada bidang penjagaan hak anak-anak Yahudi. Mereke banyak terjun dalam praktik lobi dan pengawas kebijakan Israel tentang hak-hak anak-anak Yahudi baik dalam segi pendidikan maupun masa depan.

Selain NCCI, LSM anak yang fokus terhadap anak-anak Israel dan Yahudi diantaranya seperti Children’s Rights Coalition, Civic Forum Institute (CFI), Conscience and Peace Tax International, Defence for Children International – Israel , Early Childhood Resource Centre, Israeli Residential Education and Care Association, Open line for Students , Palestinian Network for Children’s Rights, Save The Children USA – West Bank/Gaza Field Office, Spafford Children’s Centre, dan masih banyak lagi.

Apa sebenarnya yang menjadi misi dibalik menjamurnya Lembaga-lembaga anak di negara pembuat onar tersebut? Minimal ada dua misi utama dibalik itu semua. Pertama hal ini dilakukan sebagai kaderisasi Israel bagi generasi penerus bangsa Yahudi selanjutnya.

Kedua, ini dilakukan sebagai pengalihan isu bahwa Israel selama ini sangat memperhatikan hak-hak seorang anak. Hal ini akan berdampak pada pandangan dunia terhadap Israel tentang kiprahnya, menjaga masa depan seorang anak, termasuk juga anak muslim Palestina.

Padahal pada kenyataannya, hal itu tidak lah benar. Israel diam-diam mengorganisir anak-anak Israel untuk melakukan psy war terhadap anak-anak muslim Palestina dan dunia Arab pada umumnya. Hal inilah yang pernah terjadi pada tahun 2006 ketika Israel mengumpulkan anak-anak Yahudi di tengah lapang dan menuliskan kata-kata di roket militer Zionis sebelum melesat ke Palestina dan Libanon. Sambil tersenyum, bocah-bocah thaghut itu menulis:

Dear Lebanese, Palestinian, Arab, Muslim kids.
Die with love 
Yours, 
Israeli Kid

Israel pula yang menggorganisir bocah-bocah Yahudi untuk ikut melakukan aksi demo menentang perkawinan campur antara orang Yahudi dan non Yahudi serta menghina kaum non Yahudi dengan sumpah serapah. Mereka pun kerap mem-blow up pertemuan antara anak-anak Israel dengan anak Palestina untuk menutupi fakta seakan-akan mereka adalah bangsa yang baik dan menghargai orang lain.Padahal pertemuan itu hanyalah bagian dari pengalih isu dan tidak sebanding dengan apa yang telah mereka doktrinkan kepada anak-anak untuk menebarkan perang kepada Islam dan juga jutaan anak Palestina yang mereka bunuh.

Kita tentu masih ingat, pada tahun 2008 dimana Israel membabi buta membantai anak-anak Palestina. Ketakutan itu dilakukan Israel semata-mata karena anak muslim Palestina adalah bom waktu yang akan menghancurkan dan menghapus mereka dari muka bumi.

Kita ketahui bersama, bahwa pada bulan suci Ramadhan 1429 Hijriah, Khaled Misyal, pernah melantik sekitar 3500 anak-anak Palestina yang sudah hafidz Al Qur’an. Anak-anak yang sudah hafal 30 juz itu adalah “kenyataan pahit” bagi Yahudi yang akan menjadi malapetakan bagi Israel. Jika dalam usia semuda saja mereka sudah menguasai Al Qur’an, bayangkan bagaimana 20 tahun lagi, bahkan 10 tahun lagi akan berbondong-bondong mendatangi Yahudi dengan serentetan senjata di tangannya. Itulah yang berkecamuk dalam pemikiran para bajingan-bajingan Israel.

Seperti yang pernah mereka lakukan dengan memenjarakan 13.000 anak-anak Palestina pada tahun 1989. Mereka pun disiksa dan diabaikan hak-haknya. Semakin keras tangisan anak Palestina, maka semakin brutal mereka menyiksa.

Hal ini dilakukan pasca meletusnya Intifdha pertama tahun 1987 dimana Pemuda-pemuda Palestina melakukan aksi balas dendam atas syahidnya enam anak Palestina oleh tentara thaghut Israel. Bayangkan bagaimana takutnya tentara thaghut Israel hanya dilawan oleh enam palestina, bagaimana dengan seratus, seribu, bahkan sejuta.

Maka itu tidak akan pernah ada kata berhenti untuk melawan agresi Zionis Israel. Kita adalah bangsa mulia yang sudah dijanjikan menang oleh Allah dalam melawan Yahudi. Dan yakinlah, cepat atau lambat, anak-anak Muslim Palestina akan menjadi martir dan siap membunuh Israel selama mereka masih duduk di Palestina.

“(Ingatlah), ketika kamu memohon pertolongan kepada Tuhanmu, lalu diperkenankan-Nya bagimu: “Sesungguhnya Aku akan mendatangkan bala bantuan kepadamu dengan seribu malaikat yang datang berturut-turut.”(QS. Al Anfal: 9).

Anak Yahudi Mendaras Talmud

Salah satu metode yang dilancarkan Israel untuk mendoktrin anak-anak mereka adalah apa yang disebut dengan brainwash. Ini adalah cara ampuh bagi Yahudi mendekatkan anak-anak mereka kepada doktrin Talmud dan perlawanan terhadap anak-anak Palestina.

Israel memang terkenal dengan metode cuci otak ini. Di sebuah tampilan Youtube berjudul “Israel Paying to Brainwash Christian Children” digambarkan bagaimana Rabbi-rabbi Yahudi mengajarkan anak-anak Kristen untuk melawan agamanya. Mereka mengajarkan cerita-cerita palsu yang bertentangan dengan doktrin Kristen. Akhirnya anak-anak itupun sekejap kilat sudah menjadi seorang Yahudi sejati dengan mengangguk-anggukkan kepalanya di depan Tembok Ratapan.

Brainwash itu terus berlanjut kepada hal-hal teknis persenjataan. Sedari kecil biasanya anak-anak Yahudi sudah diajari untuk menembak. Mereka mempunyai jam khusus untuk pelatihan yang rutin diadakan. Di sekolahpun, dalam beberapa mata pelajaran, anak-anak Yahudi sudah dibiasakan untuk menganggap orang Palestina sebagai musuhnya.Misalnya saja, dalam pelajaran Matematika, anak-anak kecil Yahudi kerap diajarkan, “Jika ada anak Palestina berjumlah 10 orang, kamu tembak mati satu orang, berapa sisanya?”

Namun uniknya aktivitas ini jsutru tertutup dari sorotan media massa. Padahal selama ini pemberitaan sering kali memojokkan muslim Palestina yang mengajarkan jihad kepada anak-anaknya. Anak-anak Palestina pun kerap disebut sebagai calon teroris semata-mata untuk menggambarkan kekejaman umat Islam.

Inilah yang pernah di-blow up media Zionis di tahun 2007, ketika Hamas meluncurkan tokoh Kartun bernama Farfur yang menyerupai Mickey Mouse. Kala itu Farfur tampil di Aqsa TV dan memberikan semangat kepada anak Palestina untuk segera membebaskan Palestina dengan mengenyahkan Israel.

Atau tayangan TV Hamas pada tahun 2008 yang menampilkan sesosok boneka anak laki-laki Palestina yang menghunuskan pedangnya kepada AS, George W. Bush. Tayangan yang diputar untuk anak-anak ini menceritakan bagaimana semangat militansi jihad anak Palestina yang membunuh George Bush sambil berkata, “Engkau adalah seorang kriminal Bush, manusia yang tercela. Engkau telah membuatku menjadi yatim piatu. Engkau telah mencerabut segalanya dariku.” Maka anak-anak Palestina pun mereka cap sebagai calon-calon teroris atau future martyrs. Inilah yang pernah dikecam Hillary Clinton, Menlu AS saat ini, ketika masih menjadi senator pada tahun 2003.

How can you think about building a better future, no matter what your political views, if you indoctrinate your children to a culture of death?” kata Clinton.

Ya ucapan Clinton ini lahir setelah menonton video dari Itamar Marcus, seorang Agen Yahudi yang aktif di Palestina Media Watch tentang saluran TV Palestina yang kerap menggelorakan Jihad terhadap anak-anak muslim disana.

Padahal kalau kita mendalami lebih jauh, bahwa anak-anak Palestina memang dikondisikan untuk bisa mempertahankan diri dari serangan Zionis Israel. Anak-anak Palestina harus memiliki persiapan matang atas serang Zionis Israel yang sekonyong-konyong bisa datang kapan saja, dimana saja, dan melakukan pembunuhan terhadap siapa saja. Inilah yang sempat terjadi di Gaza, dimana ribuan anak Palestina dibantai.

Lagipula, senjata yang dipergunakan oleh anak-anak Palestina lebih banyak menggunakan batu atau ketapel. Hal ini berbeda dengan anak Yahudi yang memang sudah didoktrin senjata dan mereka hidup relatif aman di Tepi Barat.

Jikalah Israel mau mengecam apa yang dilakukan muslim Palestina kepada anaknya, harusnya Israel juga fair dan melakukan kecaman kepada Lion Schlisinger. Lion adalah seorang Yahudi Zionis yang menjadi produser serial Kartun anak-anak Ali Baba Bound keluaran Walt Disney. Dalam film Kartun berdurasi 7 menit itu, digambarkan tentang kesan buruk terhadap bangsa Arab, jika tidak mau dibilang Islam. Seperti tokoh Ali Baba (baca: seorang muslim) yang dijuluki “Mad Dog of The Dessert” atau Anjing Gila dari padang pasir.

Serial Kartun Ali Baba Bound

Dalam serial itu pula, bangsa Arab digambarkan penuh dengan permusuhan, kebencian, tipu daya, kelicikan, sampai bangsa pembunuh binatang. Tampaknya sang produser pun sengaja menampilkan tokoh Binatang Babi bernama Porky yang diburu-buru orang Arab, karena notabene babi adalah binatang najis dalam ajaran Islam.

Selain itu, Israel juga tidak boleh lupa bahwa pada tahun 2009, seperti diberitakan YNET News dimana Rabbi Yitzhak Shapira menulis dalam bukunya Raja Taurat bahwa membunuh anak-anak musuh diperbolehkan untuk mengalahkan raja jahat atau tiran. Rabbi Yitzhak berujar,

“Dengan asumsi bahwa pada saat perang, saya harus membunuh anak-anak untuk menang – jika prajurit saya akan mati, kemudian membunuh anak-anak prajurit musuh adalah hal benar untuk dilakukan daripada prajurit saya terbunuh.”

Bahkan Rabbi Yahudi laknatullah tersebut juga memperbolehkkan membunuh seorang anak demi alasan meraih simpati, melemahkan semangat musuh.

“Jika saya percaya ada seorang raja yang jahat, seorang tiran, yang terlibat dalam perang yang tidak dapat dibenarkan, dan saya ingin memenangkan perang, dan cara saya dengan melukai anak-anak akan melemahkan semangat mereka dan membuat dia berhenti mengirim tentaranya untuk perang, maka itu diperbolehkan.” Tambahnya kepada YNET.

Jadi kita bisa melihat bagaimana propaganda anti kekerasan anak yang dilancarkan Israel justru jauh panggang dari kenyataan. Israel tidak saja menerapkan standar ganda tentang seorang hak anak muslim Palestina, tapi juga menggiring pandangan dunia bahwa penanaman tauhid muslim Palestina kepada anaknya untuk melakukan perlawanan terhadap Yahudi adalah bagian dari barbarisme.

Faksi Jihad Islam Palestina

“Bapak, tolong aku! Jangan biarkan mereka membawaku pergi,”

Teriakan itu lahir dari mulut Ahmed Siyam, 12 tahun, ketika sekitar 50 tentara Israel bersenjata lengkap dan polisi menyeretnya dengan tangan terborgol dan mata tertutup.

Peristiwa yang terjadi beberapa bulan lalu ini, bermula saat Ahmed ditarik dari tempat tidur pada pukul 04.00 oleh pasukan keamanan Israel yang dipimpin agen Shin Bet dari badan intelijen dalam negeri Israel. Anak kecil itu kemudian dibawa bak teroris ke kantor polisi Russian Compound di Yerusalem Barat. Tuduhannya pun sangat menggelikan: Ahmed telah melempar batu ke tentara Israel dan polisi selama bentrokan dengan anak-anak Palestina di daerah sekitar Silwan, Yerusalem Timur.

Namun begitulah nasib anak-anak Palestina yang hidup penuh dengan keprihatinan. Kondisi mereka seperti berdiri di dua tepi jurang: hidup atau mati. Akan tetapi, anak-anak Palestina memang dikondisikan untuk siap menjemput syahid. Minimal kisah fenomenal itu pernah diukir oleh Faris Audah. Bocah Palestina berusia 11 tahun ini dengan gagah melempari tank Israel dengan batu dari jarak 10 meter. Tank Israel memang tidak mengalami kerusakan serius. Akan tetapi, bukanlah kehancuran tank yang dimaksud Faris, namun sebuah pesan bahwa perlawanan itu masih tetap ada diemban oleh bocah-bocah Palestina.

Faris Audah pun akhirnya syahid pada malam harinya setelah Komandan pasukan Israel memerintahkan para serdadunya untuk menggeledah seluruh rumah dan menghabisi nyawa Faris. Dalam benak Israel, membiarkan Faris tumbuh dewasa sama dengan memelihara bom waktu bagi kehancuran Israel. “Tragis!” Satu anak Palestina mampu membuat seorang komandan Israel ketakutan.

Kasus Ahmed dan Faris di atas hanyalah sebuah mata rantai dari penanaman jihad yang intens dilakukan oleh orang tua. Orang-orang tua Palestina memang menjadikan kurikulum perlawanan terhadap Yahudi sebagai silabus Tarbiyatul Aulad yang tidak bisa terpisah dari sejarah keIslaman mereka. Sebab orangtua Yahudi pun juga mendoktrin kebencian mereka terhadap Islam kepada anaknya.

Anak Palestina

Oleh karena itu, Asy Syaikh Muhammad bin Jamil Zainu, dalam bukunya “Kaifa Nurabbi Auladana” mendelegasikan bahwa penanaman pada anak-anak tentang arti pengobaran perang terhadap bangsa Yahudi menjadi suatu hal yang penting. Bahwa telah menjadi keniscayaan para pemuda muslim akan bahu membahu membebaskan tanah Palestina dari cengkaraman Israel dan itu tidak akan pernah terjadi kecuali dengan izin Allah.

Maka itu Asy Syaikh Muhammad bin Jamil Zainu menjelaskan empat hal yang mesti dilaksnakan oleh orang tua muslim terkait penanaman jihad kepada anak-anaknya. Diantaranya adalah:

1. Menyediakan waktu khusus untuk duduk bersama keluarga serta para murid dan membacakan buku tentang sirah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam dan sahabat. Hal ini dilakukan agar mereka mengetahui bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam adalah sosok yang pemberani dan sahabar beliau seperti Abu Bakr Ash Shidiq, Umar bin Khaththab, Utsman bin Affan, Ali bin Abi Thalib dan Muawiyah telah membebaskan banyak negeri. Dan orangtua mesti mengajarkan bahwa kesemua itu tidak terlepas interaksi keimanan mereka kepada Allah dan pengamalan mereka terhadap Al-Quran dan As-Sunnah, serta tak ketinggalan ketinggian akhlak yang dimilikinya.

2. Selanjutnya Asy Syaikh Muhammad bin Jamil Zainu meminta orangtua untuk mendidik anak-anak agar berani melakukan amar ma’ruf nahi munkar. Orangtua juga hendaknya mengajarkan anak-anak untuk tidak takut melainkan hanya kepada Allahuta’ala.

3. Orangtua pun diminta untuk memberikan kisah-kisah pendidikan Islam yang bermanfaat seperti serial kisah Al-Quran Al-Karim dan sirah nabawiyah serta tokoh-tokoh sahabat dan para pahlawan muslim yang gigih berjuang menegakkan agama ini.

4. Dan terakhir, seperti yang sudah disinggung dimuka, orangtua hendaknya menanamkan pada anak-anak sebuah dendam kesumat kepada Yahudi dan orang-orang zhalim.

Namun, penanaman Jihad tidak akan pernah terselenggara kecuali dimulai dari penanaman tauhid sejak dini. Sebab tauhid adalah fondasi, landasan, prioritas utama dalam berIslam. Apabila seseorang benar tauhidnya, maka dia akan mendapatkan keselamatan di dunia dan akhirat. Sebaliknya, tanpa tauhid manusia pasti akan terjatuh ke dalam kesyirikan dan akan menemui kecelakaan di dunia serta kekekalan di dalam adzab neraka. Allah subhanahu wa ta’ala sendiri berfirman:

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan mengampuni yanglebih ringan daripada itu bagi orang-orang yang Allah kehendaki” (An- Nisa: 48)

Tauhid pula lah yang menggerakan manusia untuk cepat merespon tuntutan Al Qur’an, bukan kemudian bernegosiasi dengan perintah Allah. Oleh karenanya, di dalam Al-Quran nasihat Luqman kepada anaknya pun dimulai dari perkara Tauhid.

“Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, Sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar”.(Luqman: 13)

Yakinlah jika kemantapan tauhid, yang dibarengi semangat dakwah dan jihad telah dimiliki anak-anak kita, maka orangtua muslim dan kita umat terbaik dimuka bumi ini, tidak perlu cemas melihat bagaimana orang Yahudi mendidik anaknya.

“Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah. ”(Ali Imran: 110).

Iklan