Istilah Syirik atau perilaku “mensekutukan” adalah konsep yang hidup di jantung teologi dogmatik agama-agama monoteistik dalam hal ini Islam, Kristen dan Yahudi. Tetapi karena penulis adalah orang yang lahir dari rahim Islam maka pengertian syirik teologik yang saya kemukakan dalam ruang tulisan ini berakar pada pandangan keagamaan Islam ortodoks.
Istilah syirik adalah sebuah terma yang merupakan salah satu kutub dari sebuah pasangan oposisi binerOposisi biner adalah pasangan penanda/terma/kata yang mempunyai paralelitas dengan pasangan petanda/makna/konsep mental, dimana oposisi biner ini dipakai untuk membaca realitas yang ada. Atau sederhanya oposisi biner adalah instrument atau strategi untuk menyederhanakan realitas yang kompleks menjadi tatanan sederhana yang terdiri dari dua kutub ekstrim, dimana salah satu kutub tersebut berkedudukan lebih superior dibanding kutub yang berlawanan. Misalnya jiwa dan tubuh, dimana bagi paradigma Cartesian jiwa memiliki posisi yang superior sekaligus mempunyai kualitas berlawanan dibanding tubuh. Begitu pula dengan syirik, terma tersebut beroposisi dengan tauhid. Dimana dalam agama monoteistik yang menekankan Tuhan sebagai persona yang Maha Tunggal atau Esa, terma tauhid mempunyai kedudukan yang lebih superior dibanding terma syirik, tetapi terma tauhid tidak akan pernah menghilangkan atau membinasakan terma syirik, sebab terma tauhid menemukan nilainya, signifikansinya saat dia mempunyai relasi dengan terma syirik.
Syirik dalam literature keagamaan Islam, adalah sesuatu yang sentral, bukan karena syirik merupakan sebuah kebaikan tertinggi, tetapi karena syirik adalah sesuatu yang menjadi batas bagi sesuatu yang menjadi poros konsep keberimanan Islam yaitu Tauhid. Tapi terma syirik sebagai dosa besar-yang tidak terampuni- dalam literature tersebut adalah sebuah wacana dari tradisi scholarship arab Islam. Muh. Arkoun mengatakan bahwa diskursus Islam secara sederhana melewati dua fase, fase pertama disebut dengan fase dimana Islam merupakan Prophetic discourse atau sebagai wacana kenabian, setelah melewati fase ini dalam jangka waktu yang agak singkat maka diskurusus Islam berubah menjadi Professorial discourse atau Islam sebagai wacana pengajaran.
                Saat wajah Islam masih merupakan wacana kenabian maka tidak ada pemisahan yang jelas antara diskursus-diskursus yang sakral- disebut sakral karena diskursus-diskursus tersebut di bawah  naungan legitimasi transenden- dengan peristiwa-peristiwa kesejarahan yang dialami oleh komunitas beriman dimana Muhammad termasuk didalamnya. Sehingga agama bukanlah sebagai wacana, atau konsepsi yang begitu sistematis, statis, formal serta rigid, sebab Islam dialami oleh Nabi beserta para sahabatnya atau pengikutnya sebagai peristiwa. Nabi dan para sahabat menghampiri Islam sebagi perisitiwa, menjalaninya sebagai peristiwa dan datang kepada mereka sebagai peristiwa. Nabi beserta sahabatnya ada bersama Islam sebagaimana manusia merupakan ada bersama dunia. Dengan kata lain Islam saat itu tidak “menunggangi” manusia agar eksis, ataupun para sahabat tidak menganggap Islam sebagai objek terpisah darinya, sebagaimana kita manusia adalah spesies yang tidak bisa membayangkan diri tanpa dunia. Saat Islam datang dan hidup bersama dengan Nabi beserta pengikutnya sebagai peristiwa, maka yang terjadi adalah pergulatan, dialektika serta dialog antara Nabi beserta pengikutnya dengan wacana Islam atau wahyu. Lalu apa yang membedakan antara Islam sebagai peristiwa dengan peristiwa-peristiwa profan lain?, sebenarnya yang membedakannya hanyalah legitimasi, Nabi adalah seseorang yang mengkombinasikan secara kreatif antara pengalaman keagamaan dan aksi ril dalam sejarah, setiap tindak sejarah yang dia inisiasi beserta pengikutnya dilegitimasi oleh sesuatu yang berada di luar ruang dan waktu, inilah yang disebut dengan wahyu atau Arkoun menyebutnya dengan Istilah Petanda Transendental. Tetapi wahyu tersebut tidak membuat dirinya asing bagi sejarah, maka dia menghampiri manusia sebagai peristiwa. Termasuk di dalamnya adalah terma syirik, terma tersebut menghampiri nabi dan pengikutnya bukan di luar bingkai sejarah walaupun dilegitimasi oleh sesuatu yang berada di luar sejarah. Islam , syirik beserta tauhid datang sebagai peristiwa dan berkaitan erat dengan peristiwa kemanusiaan kita.
                Saat Islam sebagai wacana kenabian menjelma menjadi wacana pengajaran, maka Islam menghampiri menusia bukan lagi sebagai peristiwa, tetapi sebagai sesuatu (something). Keberimanan tidak lagi diukur seberapa intens anda turut campur dalam sejarah sambil pasrah pada nilai-nilai universal, tetapi keberimanan diukur melalui seberapa besar anda mengetahui, mempelajari dan mengimani rumusan-rumusan dogma keimanan. Anda dikatakan sebagai musyrik bukan karena anda menyerahkan martabat, nalar dan eksistensi anda kepada sesuatu yang berada  luar diri anda , tetapi lebih karena anda tidak mengetahui dan mengimani konsep-konsep dogma Tauhid. Syirik telah di ubah dari kata kerja menjadi kata benda.
                Tulisan ini berusaha membalik syirik sebagai sesuatu (something)/ kata benda menjadi sebuah peristiwa/ kata kerja. Syirik bukan sekedar pemihakan doktrin tertentu, tetapi terlebih terma yang mewakili peristiwa kemanusiaan kita, yang terjadi di masa lalu, masa kini dan mungkin masa depan. Makna syirik sebagai peristiwa adalah alienasi.
                Manusia dalam al-Qur’an jika berhubungan dengan sumber misteri yaitu Allah, manusia dicitrakan sebagai hamba, abdi yang pasrah atau tunduk serta takjub berkeheningan,  tetapi jika berkaitan dengan bumi (ardh) sebagai realitas korporeal dimana peristiwa saling simpang siur dan saling merembesi  maka dia dicitrakan sebagai khalifah yang aktif, memanipulasi, mengkonstruksi dan memelihara bumi. Fakta yang tidak bisa kita tolak bahwa kita sekarang sedang berada di tengah-tengah jalinan peristiwa- apakah bersifat kasat mata atupun tidak- dan posisi manusia di tengah-tengah peristiwa tersebut adalah sebagai subjek atau agen yang aktif. Tetapi keagenan manusia yang aktif selalu terkepung pula oleh sesuatu yang merupakan negasi bagi keaktifan manusia yaitu alienasi.
                Marx berpendapat, bahwa sejarah manusia adalah sejarah perkembangan manusia yang terus meningkat, tetapi pada saat yang bersamaan juga merupakan sejarah alienasi. Saat manusia mengaktualisasikan keaktifannya dalam sejarah maka dia akan meninggalkan jejak yang disebut dengan karya apakah itu berupa karya seni, institusi politik, konsep ketuhanan atupun Negara. Tetapi karya tersebut yang nasibnya ditentukan manusia akan berubah menjadi barang yang akan menentukan balik nasib manusia, saat inilah manusia terasing dari kemanusiaanya inilah Alienasi atau syirik.
                Menurut Erich Fromm dalam bukunya Marx Concept Of Man, syirik bukanlah bahwa manusia menyembah banyak Tuhan, walaupun yang ada hanya satu Tuhan. Syirik berarti pemujaan atau pemberhalaan hasil karya manusia sendiri, yakni barang-barang. Manusia tunduk dan memuja barang-barang. Dalam proses pemberhalaan, pemujaan, ketundukan tersebut manusia mentransformasikan-dan proses ini seringkali berjalan tanpa disadari- menjadi benda-benda, barang-barang, konsep-konsep, objek-objek ataupun karya-karya yang dibuat manusia itu sendiri. Hal ini mirip dengan pendapat sisolog George Simmel, bahwa dalam rangka memenuhi kebutuhan hidupnya, manusia menciptakan struktur sosial, tetapi seiring dengan proses-proses sejarah yang mengiringnya struktur tersebut akan berbalik menjadi penghalang bagi manusia, inilah yang George simmel sebut dengan kondisi tragik manusia. Bahkan bagi konsepsi teologi yang apofatik – yaitu sistem teologi yang menekankan keheningan di hadapan misteri yang tidak mampu di gambarkan kata-kata dan tidak mampu dijangkau dengan pemahaman (intellectus)- konsepsi manusia mengenai Tuhan pun yang di absolutkan dan dianggap sebagai gambaran Tuhan yang sebenarnya, adalah sebuah proses pemberhalaan, karena bagaimanapun sistematisnya, canggihnya dan mempesonanya konsep tersebut dalam menggambarkan Tuhan yang tidak terbatas adalah sesuatu yang terbatas, karena konsepsi ketuhanan tersebut merupakan karya tangan-tangan manusia yang terbatas.
                Alienasi atau pemberhalaan dalam bahasa yang lebih religius, mentransformasi manusia menjadi barang-barang atau objek-objek yang dibuat oleh manusia. Dalam situasi eksistensial seperti ini manusia hanya mampu berinteraksi dengan dirinya atau kemanusiaanya hanya dan jika hanya dia berinteraksi terlebih dahulu dengan objek-objek, walaupun manusia menganggap dirinya sebagai pencipta, tetapi dia mendefinisikan dirinya jika menyembah terlebih dahulu atau dijinakkan terlebih dahulu oleh barang-barang yang diciptakan olehnya. Inilah syirik yang membuat manusia tidak dapat hadir (presence) bagi dirinya sendiri, yang membuat manusia makin menjauh dari kekuatan-kekuatannya sendiri, dari potensi-potensinya sendiri, manusia dengan demikian menjadi beku dalam objek-objek berhala.
                Almarhum Nurcholis Madjid dalam bukunya Islam,Doktrin dan Peradaban menjelaskan kenapa dalam Islam Syirik digolongkan sebagai dosa besar, ini karena aktivitas syirik atau pemberhalaan akan merendahkan harkat dan martabat manusia jauh di bawah objek berhalanya. Dan ini adalah sesuatu yang tidak sesuai dengan fitrah manusia sebagai khaliifah (pengganti, bayang-bayang/ mazhar) Allah di muka bumi. Jika perayaan adalah puncak dari proses affirmasi, maka penyembahan merupakan puncak dari kepasrahan. Penyembahan terhadap objek, barang, benda, hasil karya, institusi tertentu merupakan puncak perasaan menyerah, ketidak mampuan manusia dalam menantisipasi karyanya sendiri, puncak kejatuhan manusia karena dia kini lebih rendah dari apa yang diciptakannya apakah secara personal maupun kolektif social, puncak kepasrahan manusia karena tali nasibnya kini dipegang oleh sesuatu yang seharusnya manusia yang memegang tali nasibnya, puncak kebencian manusia terhadap hidup karena dia tidak mau dan mampu lagi melampaui  karya-karyanya. Manusia semakin dan semakin terjauhkan dari hidupnya, sesamanya dan alam.
Syirik, pemberhalaan dan alienasi adalah ekspresi dari kondisi nekrofilia– nekrofilia artinya benci kehidupan atau juga bisa diartikan sebagai pribadi,masyarakat ataupun perdaban yang strukturnya, sistem sosal dan sistem nilainya menganulir kehidupan yang autentik, menolak hidup yang sehidup-hidupnya- dengan kata lain ketiganya adalah sesuatu yang menghantarkan kita menuju kematian, kehampaan dan kekosongan. Ini membuat manusia tidak melihat sebagaimana manusia melihat, membuat manusia tidak mendengar sebagaimana manusia mendengar , dan membuat manusia tidak merasa dan berpikir sebagaimana manusia merasa dan berpikir. Tetapi manusia merasa, berpikir, melihat dan mendengar melalui objek-objek berhala yang mati dan kosong. Hal ini secara baik diisyaratkan dalam Al-Qur’an Surah Al Baqarah ayat 7 “Allah telah mengunci mati hati dan pendengaran mereka, dan penglihatan mereka ditutup….” Begitu pula dalam ayat 18 dalam surah yang sama “Mereka tuli, bisu dan buta…….”, hal yang sama juga diisyaratkan dalam Kitab Perjanjian Lama “ Mata yang mereka miliki tidak melihat, telinga yang mereka miliki tidak mendengar..”. “Yang Maha Suci” kata Goethe “berlaku di dalam apa yang hidup, tetapi tidak di dalam yang mati. Yang Maha Suci berada di dalam apa yang menjadi melibatkan diri, bukannya di dalam apa yang lengkap dan rigid. Inilah makanya mengapa akal (reason), yang cenderung menuju Tuhan, hanya berkenaan dengan apa yang menjadi (becoming) dan hidup, sedangkan intelek berkenaan dengan apa yang lengkap dan rigid, dalam penggunaannya”.
                Erich Fromm juga menjelaskan bahwa semua karya manusia, apakah itu berupa ide-ide, prestasi-prestasi manusia , karya seni dan lain-lain akan selalu terancam oleh alienasi. Semua karya yang diciptakan manusia seharusnya menjadi alat bantu bagi kehidupan manusia – bahkan dalam filsafat hegel karya manusia adalah objek refleksi manusia dalam proses dialektika, agar mampu bisa melampaui kekiniannya, tetapi dalam alienasi karya membuat mandul dan membuat manusia mengambil langkah mundur –tetapi di sisi lain alat bantu juga merupakan perangkap, godaan untuk membingungkan hidup dengan barang-barang, pengalaman dengan artifak, perasaan dengan penyerahan dan ketundukan.
                Jika bagi Marx alienasi terjadi saat proses produksi berjalan, saat buruh terpisah dan asing dari barang yang dihasilkannya, saat komoditas yang tidak lainadalah karya buruh,  mempunyai logika dan kuasa sendiri yang tidak dapat dikendalikan oleh buruh. Kita bisa melihat dalam kapitalisme Mutakhir saat ini alienasi justru terjadi dalam aktivitas konsumsi, manusia tidak dapat mengalami kemanusiaannya kecuali serta jika dan hanya jika dia mengkonsumsi semua objek atau barang yang dijejalkan kepada dirinya. Setiap barang, komoditas yang dijejalkan kepada konsumen tersebut mengklaim dirinya sebagi sesuatu yang lengkap, rigid serta dapat melengkapi kekurangan hidup anda, dan klaim tersebut didisseminasikan melalui iklan-iklan dimanapun dan kapanpun. Komoditas yang dijejalkan menuntut percepatan yang semakin meningkat dari interval konsumsi yang ada, sehingga anda menjadi pasif. Kalau kita meminjam analogi Yasraf amir Pilliang dalam bukunya Posrealitas, kita menjadi seperti sarang laba-laba, yang hanya bisa pasif serta pasrah dalam menadah apapun yang melalui kita, tanpa memberi kita kesempatan untuk menimbang-nimbang. Dan seperti yang saya kemukakan dalam tulisan saya yang berjudul kebebasan dan Objektivikasi, kemampuan untuk menimbang-nimbang adalah persyaratan utama bagi kebebasan manusia. “Manusia menjadi semakin miskin; dia memiliki kebutuhan akan uang yang makin banyak untuk mendapatkan ke-ada-an yang justru memusuhinya”, kata Erich Fromm.
Wassalam…………………….
Biodata Penulis :
Nama     : Muhammad Asratillah Senge
Alamat       : BTN Pepabri Makassar
No HP        : 085255341636

– See more at: http://www.sangpencerah.com/2013/06/syirik-dan-aleniasi_20.html#sthash.DbphoZ5A.dpuf

Iklan