Alhamdulillah, pak Thomas Djamaluddin dengan rajin mengkritisi konsep Wujudul Hilal Muhammadiyah (WHM). Sepedas apa pun kritik beliau, warga Muhmamdiyah khususnya kader falak Muhammadiyah harus berterimakasih kepada beliau. Kritik beliau membuat ahli falak Muhammadiyah ikut berfikir kritis. Terimakasih pak Thomas, sungguh kami menjadi kian solid dengan kritik demi kritik anda. Selanjutnya, ijinkan kami memberi cacatan tentang WHM
  1. Benar kritik anda tentang konsep WHM yang tidak jelas dalam arti hilal mau diartikan apa karena menggunakan kriteria Bulan tenggelam sebelum Matahari. Kami sedang berusaha merevisi bahwa WHM berarti hilal belum tenggelam ketika Matahari terbenam, dengan kata lain piringan bawah Bulan belum terbenam ketika Matahari tenggelam. (Nah, ini masih dalam usulan, harus dimusyawarahkan dulu karena kami bekerja di organisasi)

  1.  Kami memang tidak menggunakan imkanu ar-rukyat yang bagi kami imkanu ar-rukyat itu
    1. Tidak jelas parameternya. Sederhananya, itu adalah parameter yang mengada-ada. Saya pribadi tidak gembira dengan sesuatu yang tidak jelas dan suka-suka ini yakni ada yang ambil 2 derajat, 4 derajat, 5 derajat, 9 derajat sebagai criteria visibilitas. Apakah kalau diambil 2 derajat lalu ketika hisab menghasilkan ketinggian 3 derajat otomatis hilal bisa dilihat? Tidak kan?
    2. Dalam perspektif kefilsafatan, mengapa kita mendasarkan pada sestau yang tidak tetap dan variatif tersebut? Bukan dari variasi tersebut ada ujung yang konvergen, 2, 4, 5, 9 dan seterusnya bisa dibalik menjasi …9,5, 4, 2 dan tujung atau ujuannya adalah NOL. Inilah WHM.
    3. Sebagai fisikawan teoritik, saya memang cenderung menghindari parameter by hand atau given termasuk bagi visibilitas. Saya selalu berusaha bekerja mencari yang mendasar, first principle. Nah, yang mendasar dari angkaa tersebut adalah NOL, sedangkan bilangan 2, 4, 5, 9 dapat dipandang sebagai fluktuasi dari vakum yang mendasar. Vakum itu asal-usul dari system fisis tereksitasi. Jika berada di vakum berarti tersembunyi jika keluar dari vakum yakni keluar dari NOL berarti tereksitasi dan ada. Tereksitasi dari NOL berarti positip.
  2. Argumenn tersebut seolah tidak syar’I, karena tidak berdasar pada tekss yang ada selain teks ke-ummi-an Rasulullah saw dan para sahabat atas ilmu astronomi. Kami hanya berimajinasi, andai para sahabat saat itu ada yang ahli hitung dalam astronomi apa yang diminta Rasulullah saw untuk dihitung pada para sahabat tersebut. Saya bayangkan hal sederhana karena Islam memang sederhana, tidak menyulitkan. Hal tersebut tidak lain adalah konjungsi. Seharusnya konjungsilah yang jadi penanda akhir dan awal bulan lunar. Tetapi masalahnya, apakah bagian Bulan yang tersinari Matahari dan menghadap Bumi tidak lama setelah konjungsi dapat terlihat dari Bumi agar sesuai dengan hadits popular tentang keterlihatan hilal. Kami belum punya bukti pendukung keyakinan kriteria konjungsi sebelum maghrib ini . Betul, keyakinan kami baru sebatas keyakinan tanpa dasar data hilal teramati tidak lama setelah konjungsi.
  3. Alhamdulillah, akhirnya saat yang ditunggu datang juga. 5 Mei 2008 astronom Jerman Martin Elsasser (www.mondatlas.de/index_e.html) mencatat rekor dunia dengan mengamati hilal hanya beberapa menit sebelum dan setelah konjungsi. Artinya, kriteria ijtimak qabla al-ghurub menjadi benar, WHM gugur apalagi imkanu ar-rukyat. Ijtimak qabla al-ghurub bisa disebut wujudul hilal versi geometris-astronomis. Tetapi untuk sementara kami ambil jalan tengah dulu dengan WHM, kalau umat sudah siap kita beralih pada criteria IJTIMAK QABLA AL-GHURUB
  4. Jadi Pak Thomas benar, WHM salah, apalagi imaknurrukyat, lebih salah lagi. Allah adil dengan memperlihatkan kesalahan kita bersama. Jadi tidak perlu saling menyalahkan. Mari kita pindah ke kriteria baru kriteria ijtimak qabla al-ghurub, secara bersama-sama dan kompak. Jika ini kita lakukan, muslim Indonesia dengan kementerian agamanya akan naik pamor karena melakukan ijtihad besar di abad 21 ini. Siapkah?
Salam.
Agus Purwanto, Ketua Divisi Hisab Majelis Tarjih dan Tajdid, PWM Jawa Timur
Iklan