KOREKSI SYARAT DAN ADAB DALAM BERDO`A, SERTA WAKTU, TEMPAT, KEADAAN DAN CARA PELAKSANAANNYA
Senin, 23 Juli 12

 Telah dibahas pada pasal pertama dalam kitab ini, pemaparan tentang substansi do`a yang masyru`, yaitu: adab-adab berdo`a dan syarat-syaratnya, waktu, tempat, keadaan dan cara pelaksanaannya, serta point-point lain yang merupakan ringkasan dari nash-nash al-Qur’an dan as-Sunnah yang ada.

Sekarang, kita beralih kepada tashhih (koreksi, meluruskan) ibadah do`a ini dari segala sesuatu yang telah menyusup kepadanya, adalah sebagai berikut:

Pertama

Dzikir Melalui Nyanyian 

Para ulama kaum muslimin telah sepakat (ijma`) mengharamkan nyanyian (lagu) beserta alat-alat musik yang mengiringinya, bahkan kesepakatan ini telah dinyatakan oleh banyak ulama, di antaranya: Ibnul Jauzi, Ibnu ash-Shalâh, Imam al-Qurthubi, Ibnu Taimiyah, Ibnul Qayyim, Ibnu Hajar al-Haitami, dan masih banyak lagi para ulama sebelum dan sesudah mereka. Atas dasar ini, maka ada beberapa pengecualian tertentu, seperti nyanyian dan rebana bagi para wanita untuk i`lân (walimah) pernikahan, sya’ir peperangan, nyanyian safar, dan puisi celaan terhadap orang-orang musyrik. Dan sesungguhnya sya’ir itu, yang baik adalah baik dan yang jelek adalah jelek, dan lain sebagainya dari apa yang sudah diketahui pada tempatnya. Lihat At-Tarâtîb al-Idâriyyah, (2/255, 299-300), yaitu dua bab penting pada awal penulisan sya’ir, dan anjuran menjaganya untuk dijadikan syahid (dalil) guna menjaga lisan Arab.

Dan sesungguhnya nyanyian selain yang dikecualikan, dan menabuh instrumen-instrumen selain ‘rebana’ pada momen yang telah dikecualikan adalah bentuk kemaksiatan dan kefasikan, dan pelakunya termasuk golongan orang-orang yang fasik. Berkaitan dengan masalah ini, telah dikarang banyak buku tersendiri dari dulu hingga kini. Inilah hukum umum tentang nyanyian (lagu) dan instrumen-instrumennya yang digunakan untuk tujuan permainan dan kesia-siaan.

Kemudian, para pelaku kebatilan dalam umat ini menjadikan nyanyian-nyanyian setan ini, berupa lagu beserta musik yang mengiringinya sebagai sarana ibadah kepada Allahta’ala di dalam berdzikir dan berdo`a. Lagu-lagu dan nyanyian mereka anggap sebagai bentuk qurbah (ibadah) yang dijadikan sebagai sarana taqarrub kepada Allah oleh para ahli dzikir. Mereka membumbui hal itu dengan berbagai ungkapan yang bermakna menyilaukan, seperti perkataan mereka: “Sesungguhnya lagu dan nyanyian bisa menambah kerinduan kepada Allah ta’ala, dan dapat menguatkan perasaan dan naluri, bahkan -menurut pengakuan mereka- hal itu tidak bisa dilakukan kecuali oleh orang-orang yang telah sampai pada tingkat hakikat.”

Para ulama kaum muslimin telah sepakat bahwa yang demikian ini termasuk bentuk pelanggaran yang paling jelek di dalam dzikir dan do`a, itu adalah bid’ah sesat dan perbuatan haram yang jelek, tidak boleh dijadikan wasilah beribadah oleh seorang muslim, ia termasuk fitnah, tindakan mengikuti hawa nafsu, merusak agama, menghalang-halangi dari dzikir dan do`a yang diajarkan Islam (masy-ru’), memusuhi Allah ta’ala terhadap apa yang telah Dia syariatkan bagi hamba-hamba-Nya, mendurhakai Rasul-Nya terhadap apa yang telah dia sampaikan melalui wahyu-Nya, dan merupakan tindakan melawan syariat-Nya yang suci.

Oleh karena itu, orang yang pertama-tama memunculkan benih bid`ah ini untuk pertama kali, adalah kaum zindik (sempalan). Merekalah yang melakukan dzikir dalam bentuk nyanyian, mendendangkan sya’ir disertai dengan menabuh gendang, yang mereka namakan dengan “taghbir.” Imam Syafi’i rahimahullah (w. 204) mengatakan: “Aku keluar dari kota Baghdad, dan meninggalkan sesuatu di sana yang dimunculkan oleh kaum zindik yang mereka beri nama ‘taghbir’, yang dengannya mereka justru menghalang-halangi orang-orang dari al-Qur’an.”

Ketika Imam Ahmad rahimahullah (w. 241) ditanya tentang hal ini, beliau berkata, “Itu adalah bid’ah yang dimunculkan.” Sementara itu guru beliau, Yazid bin Harun (w. 206), juga berkata, “Taghbir itu bid’ah sesat.”
Pada tahapan kedua keadaan dzikir dengan ‘taghbir’ ini berkembang menjadi berbagai macam nyanyian yang mereka beri nama ‘al-qaul’, dan pelakunya disebut ‘al-Qawwâl’. Ibnu Baththah rahimahullah. (w. 387) pernah ditanya tentang hal ini, lalu beliau menjawab dengan mengingkarinya dan bahwa hal semacam ini merupakan bid’ah yang menyesatkan.

Kemudian, pada tahapan ketiga, bid’ah ini menjadi nyanyian (lagu) yang disertai dengan tarian, seruling, siulan, dan tepukan tangan hingga alat-alat musik yang terdiri dari rebana dan alat musik milik kaum Yahudi yang bernama ‘kûbah’, (yaitu: genderang dan sejenis seruling).
Juga, beribadah dengan melantunkan sya’ir, qasidah (rajaz), dan menjadikannya sebagai bacaan wirid.
Cara orang-orang Nasrani di dalam nyanyian dan lagu ritualnya.
Cara orang-orang Yahudi pada saat membaca bacaan ritualnya dalam goyangan dan gerakan.

Pada tahapan yang paling buruk dan melanggar ini, para ulama sangat mengingkari para ahli bid’ah ini, dan memporak porandakan tipu muslihat mereka dengan menelorkan berbagai tulisan tersendiri dan fatwa-fatwa yang lurus, terutama Ibnul Jauzi rahimahullah di dalam kitabnya “Talbîs Iblîs”, hal. 222-264.

Dua Imam besar, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah dan Ibnul Qayyim al-Jauziyyah rahimahullah mempunyai sikap yang terpuji dalam mengritik orang-orang yang terpedaya tersebut. Di antaranya melalui kitab “al-Istiqâmah” karya Syaikhul Islam, “al-Kalâm `alâ Mas’alat as-Simâ’”, kedudukan as-simâ’ di dalam kitab “Madârij as-Sâlikîn” (1/ 481-504), Bantahan keras terhadap as-simâ’ setan di dalam kitab “Ighâtsat al-Lahfân.” Ketiga kitab yang terakhir ini adalah karya Ibnul Qayyim rahimahullah, muridnya Ibnu Taimiyah rahimahullah, dan Alhamdulillah, ketiganya sudah dicetak dan tersebar luas.

Yang ingin kami katakan di sini adalah bahwa dzikir dan do`a dengan nyanyian, lantunan sya’ir, suara merdu, berbagai instrumen musik, tepukan tangan dan badan bergerak adalah bid’ah yang sangat keji dan amalan yang sangat jelek, termasuk jenis pelanggaran di dalam dzikir dan do`a yang paling keji. Maka, wajib bagi setiap pelakunya atau yang melakukan sebagiannya agar segera meninggalkannya, dan hendaknya ia tidak menjadikan dirinya sebagai tungangan bagi hawa nafsu dan setan. Di samping itu, wajib pula bagi orang yang melihat sesuatu darinya untuk mengingkarinya, serta wajib pula bagi orang yang diberi kesempatan oleh Allah menjadi pemimpin kaum muslimin agar mencegahnya, membimbing pelakunya dan membuatnya jera serta memberi pencerahan di dalam agamanya.

Cukup di sini saya akan menyebutkan apa yang telah merasuki kebanyakan ahli dzikir dan do`a yang bukan berasal dari para penganut ajaran tasawuf. Mereka bersama para sufi membuat sebuah bid’ah, namun mereka tidak merasa. Hal itu adalah sebagaimana berikut ini:

1. Bergoyang-goyang dan mengangguk-anggukkan kepala ketika membaca dzikir dan do`a, seperti yang dilakukan orang-orang Yahudi.

2. Dzikir dan do`a dengan lagu dan paduan suara, seperti yang dilakukan orang-orang Nasrani.

3. Bertepuk tangan sewaktu berdzikir dan berdo`a, seperti perbuatan orang-orang musyrik, dan ditiru oleh kalangan sufi yang sesat.

4. Dzikir dan do`a dengan suara keras dan teriakan, seperti dilakukan oleh kalangan sufi sesat.

5. Beribadah dengan melantunkan sya’ir, seperti yang dilakukan kalangan sufi sesat. Dan berikut ini adalah penjelasannya:

DALIL-DALIL KOREKSI DO`A (I)
Termasuk bimbingan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam adalah membiasakan diri untuk berdzikir, yang mana dzikirnya beliau itu mencakup “permohonan dan berdo`a”, sehingga beliau berdzikir kepada Allah ta’ala pada setiap waktu. Petunjuk Nabishallallahu ‘alaihi wasallam juga adalah mengajarkan do`a kepada umatnya, sebagaimana terdapat di dalam hadîts yang menyatakan bahwasanya beliau mengajarkan kepada para sahabatnya do`a istikharah seperti beliau mengajari mereka al-Qur’an. (Hadits riwayat Imam al-Bukhari). Juga, sebagaimana terdapat hadîts yang menjelaskan bahwasanya beliau mengajarkan kepada para sahabatnya do`a ta’awwudz (memohon perlindungan) dari empat perkara berikut:

اَلَّلهُمَّ إِنِّي أَعُوْذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ جَهَنَّم.

“Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari adzab neraka Jahannam…dst.” (HR Muslim) seperti beliau mengajari mereka satu surat al-Qur’an.

Di samping itu, juga terdapat beberapa ayat al-Qur’an dan hadîts Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam yang menganjurkan agar menjaga ibadah ini (do`a) dari kesalahan dan pelanggaran. Maka, terdapat larangan meninggalkan do`a secara mutlak, mengabaikan do`a sewaktu hidup senang, serta larangan bermalas-malasan untuk memohon dan meminta. Jika seorang Muslim berdo`a kepada Tuhannya, maka dia dilarang melakukan bentuk pelanggaran. Maka terdapat larangan untuk melakukan pelanggaran di dalam berdo`a secara mutlak. Di antaranya adalah berdo`a kepada selain Allah ta’ala, mendo`akan buruk terhadap diri sendiri, memohon disegerakannya siksa di dunia, mendo`akan jelek terhadap orang lain secara zhalim, serta larangan mengomentari do`a, berbuat tahajjur (berdo`a agar kebaikan tercegah dari orang lain), dan mengeraskan suara sewaktu berdo`a.

Juga, terdapat larangan membuat kesalahan di dalam lafazh do`a dengan menjauhi redaksi do`a yang wârid (bersumber dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam), juga larangan merinci (permintaan) di dalam do`a, larangan tergesa-gesa berdo`a sebelum terlebih dulu memulainya dengan pujian dan tahmîd, larangan minta supaya ditunda pengabulan do`anya dan larangan mengeluhkan do`anya, larangan mengarahkan pandangan ke atas ketika berdo`a saat shalat, larangan berdo`a dengan kedua telapak tangan terbalik, serta larangan berisyarat dengan kedua jari dalam berdo`a. Lihat Mabhats Tashhîh al-Haihât fî ad-Du’â`.

Di antara tugas-tugas kaum Muslimin untuk menjaga agama ini, adalah: tindakan para sahabat radhiyallahu ‘anhum beserta orang-orang setelah mereka adalah melarang sikap berlebih-lebihan dalam dzikir dan do`a pada beberapa kejadian yang sukar dihitung; di antaranya: larangan berkumpul untuk do`a bersama, bertasbîh dengan batu kerikil, serta berdiri untuk berdo`a, dan lain sebagainya, yang semakin menambah urgensi kitab ini, yang menjelaskan bahwa bahasan ini bukan merupakan hal baru. Dan bahwasanya termasuk nasihat bagi kaum Muslimin dan menjaga agama ini adalah menunaikan kewajiban mengoreksi dan mengingatkan bentuk-bentuk kesalahan dan pelanggaran yang menyertai ibadah (dzikir dan do`a) yang agung ini. Sehingga, kaum Muslimin dapat melaksanakan ibadah ini dalam keadaan bersih dari campuran hal-hal baru dan bid’ah.

Selanjutnya, tiba pada pemaparan dalil-dalil koreksi (pelurusan) yang terdiri dari dalil al-Qur’an, as-Sunnah (Hadits) dan atsar yang bersumber dari para ulama as-salafus shaleh:

1. Larangan meninggalkan do`a secara mutlak. Allah ta’ala berfirman,

وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِي سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ {60}

“Dan Tuhanmu berfirman, “Berdo’alah kepadaKu, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembahKu akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina.” (Ghafir: 60).

2. Larangan meninggalkan do`a sewaktu hidup lapang dan makmur. Allah ta’alaberfirman,

وَإِذَا مَسَّ اْلإِنسَانَ الضُّرُّ دَعَانَا لِجَنبِهِ أَوْ قَاعِدًا أَوْ قَائِمًا فَلَمَّا كَشَفْنَا عَنْهُ ضُرَّهُ مَرَّ كَأَن لَّمْ يَدْعُنَآ إِلَى ضُرٍّ مَّسَّهُ كَذَلِكَ زُيِّنَ لِلْمُسْرِفِينَ مَاكَانُوا يَعْمَلُونَ {12}

“Dan apabila manusia ditimpa bahaya dia berdo’a kepada Kami dalam keadaan berbaring, duduk atau berdiri, tetapi setelah Kami hilangkan bahaya itu daripadanya, dia (kembali) melalui (jalannya yang sesat) seolah-olah dia tidak pernah berdo`a kepada Kami untuk (menghilangkan) bahaya yang telah menimpanya.” (Yunus: 12).

Dan senada dengannya adalah firman Allah ta’ala:

وَإِذَا مَسَّكُمُ الضُّرُّ فِي الْبَحْرِ ضَلَّ مَن تَدْعُونَ إِلآ إِيَّاهُ فَلَمَّا نَجَّاكُمْ إِلَى الْبَرِّ أَعْرَضْتُمْ وَكَانَ اْلإِنسَانُ كَفُورًا

“Dan apabila kamu ditimpa bahaya di lautan, niscaya hilanglah siapa yang kamu seru kecuali Dia. Maka tatkala Dia menyelamatkan kamu ke daratan, kamu berpaling. Dan manusia adalah selalu tidak berterima kasih.” (al-Isra’’: 67).

وَإِذَا غَشِيَهُم مَّوْجٌ كَالظُّلَلِ دَعَوُا اللهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ فَلَمَّا نَجَّاهُمْ إِلَى الْبَرِّ فَمِنْهُم مُّقْتَصِدٌ وَمَايَجْحَدُ بِئَايَاتِنَآ إِلاَّ كُلُّ خَتَّارٍ كَفُورٍ

“Dan apabila mereka dilamun ombak yang besar seperti gunung, mereka menyeru Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya maka tatkala Allah menyelamatkan mereka sampai di daratan, lalu sebagian mereka tetap menempuh jalan yang lurus. Dan tidak ada yang mengingkari ayat-ayat Kami selain orang-orang yang tidak setia lagi ingkar.”(Luqman: 32).

وَإِذَا مَسَّ اْلإِنسَانَ ضُرٌّ دَعَا رَبَّهُ مُنِيبًا إِلَيْهِ ثُمَّ إِذَا خَوَّلَهُ نِعْمَةً مِّنْهُ نَسِىَ مَاكَانَ يَدْعُوا إِلَيْهِ مِن قَبْلُ وَجَعَلَ لِلَّهِ أَندَادًا لِّيُضِلَّ عَن سَبِيلِهِ قُلْ تَمَتَّعْ بِكُفْرِكَ قَلِيلاً إِنَّكَ مِنْ أَصْحَابِ النَّارِ

“Dan apabila manusia itu ditimpa kemudharatan, dia memohon (pertolongan) kepada Rabbnya dengan kembali kepada-Nya; kemudian apabila Dia memberikan nikmat-Nya kepadanya lupalah dia akan kemudharatan yang dia pernah berdo’a (kepada Allah) untuk (menghilangkannya) sebelum itu, dan dia mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah untuk menyesatkan (manusia) dari jalan-Nya. Katakanlah: “Bersenang-senanglah dengan kekufuranmu itu sementara waktu; sesungguhnya kamu termasuk penghuni neraka.” (az-Zumar: 8).

فَإِذَا مَسَّ اْلإِنسَانَ ضُرٌّ دَعَانَا ثُمَّ إِذَا خَوَّلْنَاهُ نِعمَةً مِنَّا قَالَ إِنَّمَآ أُوتِيتُهُ عَلَى عِلْمٍ بَلْ هِيَ فِتْنَةٌ وَلَكِنَّ أَكْثَرَهُمْ لاَيَعْلَمُونَ

“Maka apabila manusia ditimpa bahaya ia menyeru Kami, kemudian apabila Kami berikan kepadanya nikmat dari Kami ia berkata, “Sesungguhnya aku diberi nikmat itu hanyalah karena kepintaranku.” Sebenarnya itu adalah ujian, tetapi kebanyakan mereka itu tidak mengetahui.” (az-Zumar: 49).

وَإِذَآ أَنْعَمْنَا عَلَى اْلإِنسَانِ أَعْرَضَ وَنَئَا بِجَانِبِهِ وَإِذَا مَسَّهُ الشَّرُّ فَذُو دُعَآءٍ عَرِيضٍ

“Dan apabila Kami memberikan nikmat kepada manusia, ia berpaling dan menjauhkan diri; tetapi apabila ia ditimpa malapetaka maka ia banyak berdo’a.” (Fushshilat: 51).
Dan ini berbeda dengan petunjuk para nabi ‘alaihimus salam Mereka seperti telah difirmankan oleh Allah ta’ala,

فَاسْتَجَبْنَا لَهُ وَوَهَبْنَا لَهُ يَحْيَى وَأَصْلَحْنَا لَهُ زَوْجَهُ إِنَّهُمْ كَانُوا يُسَارِعُونَ فِي الْخَيْرَاتِ وَيَدْعُونَنَا رَغَبًا وَرَهَباًوَكَانُوا لَنَاخَاشِعِينَ {90}

“Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang selalu bersegera dalam (mengerjakan) perbuatan-perbuatan yang baik dan mereka berdo’a kepada Kami dengan harap dan cemas. Dan mereka adalah orang-orang yang khusyu’ kepada Kami.” (al-Anbiya’: 90). Kata ‘’yad’ûnanâ’ dalam ayat ini berarti: “mereka selalu menyembah kami, karena berharap rahmat Allah ta’ala dan merasa cemas dari adzab-Nya.”

Dalil-Dalil Koreksi Do`a (II)

3.Larangan merasa tak mampu dan malas berdo`a. Alangkah kasihannya orang yang bermalas-malasan untuk berdo`a. Sungguh, dia telah menutup bagi dirinya sendiri banyak sekali pintu kebaikan dan karunia. Terdapat hadîts Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dari riwayat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, bahwasanya dia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

أَعْجَزُ النَّاسِ مَنْ عَجَزَ عَـنِ الدُّعَاءِ، وَأَبْخَلُهُمْ مَنْ بَخِلَ باِلسَّلاَمِ.

“Selemah-lemahnya manusia adalah orang yang tidak mampu berdo`a, dan sekikir-kikirnya mereka adalah orang yang kikir untuk memberi salam.” (HR. Abu Ya’la, ath-Thabrani dan Ibnu Hibban dari jalur Abu Ya’la, dan diriwayatkan pula oleh Abdulmughni al-Maqdisi di dalam kitabnya ‘Ad-Du’â’). Dalam redaksi lain, dikatakan: “Sesungguhnya manusia yang paling bakhil adalah orang yang bakhil untuk mengucapkan salam, dan manusia yang paling lemah adalah orang yang tidak mampu berdo`a.”

4.Larangan melakukan pelanggaran dalam berdo`a. Allah ta’ala berfirman,

ادْعُوا رَبَّكُمْ تَضَرُّعًا وَخُفْيَةً إِنَّهُ لاَيُحِبُّ الْمُعْتَدِينَ

“Berdo’alah kepada Rabbmu dengan berendah diri dan suara yang lembut. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.” (al-A’raf: 55). Hal ini mencakup semua bentuk pelanggaran dan sikap berlebih-lebihan dalam berdo`a. Di antaranya memunculkan bid’ah dalam do`a berdasarkan waktu, tempat, jumlah, dan cara pelaksanaannya. Lihat kaidah ketiga dari pasal kedua.

Dari Abdullah bin Mughaffal radhiyallahu ‘anhu, bahwasanya dia pernah mendengar anaknya mengucapkan, “Ya Allah, sesungguhnya aku meminta kepada-Mu istana berwarna putih di sebelah kanan surga tatkala aku memasukinya”, Lalu dia menegurnya: “Wahai anakku, mintalah surga kepada Allah ta’ala, dan berlindunglah kepada-Nya dari api neraka. Karena, aku pernah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

سَيَكُوْنُ فِيْ هَذِهِ اْلأُمَّةِ قَوْمٌ يَعْتَدُوْنَ فِيْ الطُّهُوْرِ وَالدُّعَاءِ.

“Di dalam umat (Islam) ini akan terdapat suatu kaum yang berbuat pelanggaran (berlebih-lebihan) dalam bersuci dan berdo`a.” (HR. Ahmad, (4/87); Abu daud, (1/169); dan Ibnu Majah, (2/1271). Ibnu Katsir di dalam tafsirnya (2/222), berkata, Isnadnya hasan dan tidak apa-apa.)

Diriwayatkan dari Ibnu Sa’ad bin Abi Waqqash, dari bapaknya radhiyallahu ‘anhu, dia berkata, “Bapakku pernah memperdengarkan kepadaku, sementara aku berdo`a: “Ya Allah, sesungguhnya aku meminta kepada-Mu surga beserta kenikmatan dan kesenangannya, juga ini dan itu, dan aku berlindung kepada-Mu dari api neraka beserta rantai-rantai dan belenggu-belenggunya, juga ini dan itu.” Lalu, beliau berkata, “Wahai anakku, sesungguhnya aku pernah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

سَيَكُوْنُ فِيْ هَذِهِ اْلأُمَّةِ قَوْمٌ يَعْتَدُوْنَ فِيْ الدُّعَاءِ.

“Akan terdapat suatu kaum yang berbuat melampaui dalam berdo`a.”

Maka hindarilah untuk menjadi golongan mereka. Jika kamu dikaruniai Surga, maka kamu diberi Surga beserta kebaikan yang ada di dalamnya, dan jika kamu dilindungi dari api neraka, maka kamu dilindungi darinya beserta kejelekan yang ada di dalamnya.” (HR. Abu Daud, 2/161; dan Ahmad, 1/183).

5.Berdo`a kepada selain Allah ta’ala , baik do`a ibadah maupun do`a permintaan:

Yang semacam ini adalah bentuk pelanggaran terburuk dan terkeji dalam berdo`a. Ia merupakan perbuatan kufur nyata yang bisa mengeluarkan si pelaku dari Islam, menyebabkannya murtad dan harus diminta bertaubat. Dan jika dia tidak mau bertaubat, maka dia harus dibunuh.

Kaidahnya: Melakukan satu macam jenis ibadah untuk selain Allah ta’ala, adalah tindakan syirik kepada Allah ta’ala dan bentuk pengingkaran terhadap-Nya, dan pelakunya dinyatakan musyrik dan kafir. Allah ta’ala berfirman,

‏ إِن تَدْعُوهُمْ لاَيَسْمَعُوا دُعَآءَكُمْ وَلَوْ سَمِعُوا مَااسْتَجَابُوا لَكُمْ وَيَوْمَ الْقِيَامَةِ يَكْفُرُونَ بِشِرْكِكُمْ وَلاَيُنَبِّئُكَ مِثْلُ خَبِيرٍ

“Jika kamu menyeru mereka, mereka tiada mendengar seruanmu; dan kalau mereka mendengar, mereka tidak dapat memperkenankan permintaanmu. Dan di hari kiamat mereka akan mengingkari kemusyrikanmu.” (Fathir: 14).

قُلْ إِنَّمَآ أَدْعُوا رَبِّي وَلآ أُشْرِكُ بِهِ أَحَدًا

“Katakanlah, “Sesungguhnya aku hanya menyembah Rabbku dan aku tidak mempersekutukan sesuatu pun dengan-Nya.” (al-Jin: 20).

وَمَن يَدْعُ مَعَ اللهِ إِلَهًا ءَاخَرَ لاَبُرْهَانَ لَهُ بِهِ فَإِنَّمَا حِسَابُهُ عِندَ رَبِّهِ إِنَّهُ لاَيُفْلِحُ الْكَافِرُونَ

“Dan barangsiapa menyembah ilah yang lain di samping Allah, padahal tidak ada suatu dalil pun baginya tentang itu, maka sesungguhnya perhitungannya di sisi Rabbnya. Sesungguhgnya orang-orang yang kafir itu tiada beruntung.” (al-Mukminun: 117).

وَمَنْ أَضلَُّ مِمَّن يَدْعُوا مِن دُونِ اللهِ مَن لاَّيَسْتَجِيبُ لَهُ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ وَهُمْ عَن دُعَآئِهِمْ غَافِلُونَ

“Dan siapakah yang lebih sesat daripada orang yang menyembah sembahan-sembahan selain Allah yang tiada dapat memperkenankan (do’anya) sampai hari kiamat dan mereka lalai dari (memperhatikan) do’a mereka..” (al-Ahqaf: 5).

Kaum Muslimin (para ulama) telah bersepakat akan hukum haramnya hal tersebut, dan perbuatan itu merupakan jenis syirik besar. Insya Allah, Anda akan melihat dalam bahasan ‘Pelurusan Tauhid’ penjelasan yang lebih komplit berkaitan dengan masalah ini, serta peringatan terhadap do`a yang bisa merusak tauhid yang dilakukan oleh sebagian orang.

6.Memperinci permintaan dalam do`a adalah pelanggaran.

Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, ia berkata,

كَانَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَسْـتَحِبُّ اْلجَوَامِعَ مِنَ الدُّعَاءِ وَيَدَعُ مَا سِوَى ذَلِكَ.

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menyukai do`a yang singkat tapi padat dan beliau meninggalkan yang selain itu.” (HR. Ahmad dan Abu Daud). Hal ini, juga berdasarkan hadîts Abdullah bin Mughaffal dan hadîts Sa’ad bin Abu Waqqash terdahulu.

7. Larangan mendo`akan keburukan terhadap diri sendiri, atau terhadap orang lain secara zhalim, dan itu merupakan bentuk pelanggaran. Allah ta’ala telah berfirman,

وَيَدْعُ اْلإِنسَانُ بِالشَّرِّ دُعَآءَهُ بِالْخَيْرِ وَكَانَ اْلإِنسَانُ عَجُولاً

“Dan manusia berdo’a dengan kejahatan sebagaimana ia berdo’a dengan kebaikan. Dan adalah manusia bersifat tergesa-gesa.” (al-Isra’: 11).

Artinya, seorang yang dirundung kegelisahan mendo`akan jelek terhadap dirinya sendiri dan anaknya, seperti do`anya kepada Tuhannya untuk kebaikan dirinya dan anaknya. Ini termasuk sikap tergesa-gesa, karena memohon keburukkan seperti dia meminta kebaikan. Dan ini merupakan bentuk pelanggaran dalam do`a.

Dari Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha, dia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menemui Abu Salamah radhiyallahu ‘anhu, dan ketika itu mata Abu Salamah terbuka; lalu beliau pun memejamkannya dan bekata: “Sesungguhnya ruh jika telah diambil maka dia akan diikuti oleh mata.” Seketika, anggota keluarganya gaduh, lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

لاَ تَدْعُوْا عَلَى أَنْفُـسِكُمْ إِلاَّ بِخَيْرٍ فَإِنَّ الْمَلآئِكَةَ يُؤَمِّنُوْنَ عَلَى مَا تَقُوْلُوْنَ.

“Janganlah kalian mendo`akan diri kalian kecuali dengan kebaikan, karena sesungguhnya para malaikat akan mengamini apa yang kalian ucapkan.”, lalu beliau berdo`a:

الَّلهُمَّ اغْفِـرْ لِأَبِيْ سَلَمَةَ وَارْفَعْ دَرَجَتَهُ فِي الْمَهْدِيِّيْنَ، وَاخْلُفْهُ فِيْ عَقِبِهِ فِي اْلغَابِرِيْنَ، وَاغْفِـرْ لَنَا وَلَهُ يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ، وَافْسَحْ لَهُ فِيْ قَبْرِهِ وَنَوِّرْ لَهُ فِيْهِ.

“Ya Allah, ampunilah dosa Abu Salamah, angkatlah derajatnya di tengah-tengah kaum yang mendapat hidayah, berilah dia penggantinya di dalam orang-orang yang ditinggalkan sesudahnya, ampunilah dosa-dosa kami dan dosanya, wahai Tuhan semesta alam, lapangkanlah kuburnya dan sinarilah dia di dalamnya.” (HR. Muslim, Abu Daud, an-Nasa’i, dan Ibnu Majah).

Dari Jabir bin Abdullah radhiyallahu ‘anhu, dia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah bersabda,

لاَ تَدْعـُوْا عَلَى أَنْفُـسِكُمْ وَلاَ تَدْعُوْا عَلَى أَوْلاَدِكُمْ لاَ تَدْعُـوْا عَلَى أَمْوَالِكُمْ، لاَ تَوَافِقُـوْا مِنَ اللهِ سَاعَةً يَسْأَلُ فِيْهَا عَطَاءً، فَيَسْـتَجِيْبُ لَكُمْ.

“Janganlah kalian mendo`akan keburukan kepada diri kalian, janganlah mendo`akan buruk kepada anak-anak kalian, janganlah mendo`akan buruk kepada harta-harta kalian, dan janganlah sampai (doa buruk kalian itu) bertepatan dengan waktu Allah ta’ala mengabulkan do`a, karena Allah akan mengabulkan do`a kalian.” (HR. Muslim dan Abu Daud, lalu Abu Daud menambah: ‘…dan janganblah kalian mendo`akan buruk kepada pembantu-pembantu kalian…..”

Dan do`a buruk orang-orang kafir terhadap kaum Muslimin itu adalah bentuk kezhaliman dan permusuhan, maka tidak akan dikabulkan. Oleh karena itu, Imam al-Bukhari rahimahullah di dalam Shahih-nya (11/199), berkata, “Bab sabda Nabishallallahu ‘alaihi wasallam, Dikabulkan do`a kami terhadap orang-orang Yahudi, dan tidak dikabulkan do`a mereka terhadap kami.”, lalu ia menuturkan hadîts ‘Aisyahradhiyallahu ‘anha.

Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah dalam menjelaskan kalimat tersebut, beliau berkata, “Itu karena kita mendo’akan mereka dengan kebenaran, sedangkan mereka mendo`akan kita dengan kezhaliman.” Lalu, beliau juga berkata, “Hikmah yang dapat dipetik dari hadîts tersebut bahwa pemohon jika dia berbuat zhalim terhadap orang yang dido`akannya, maka do`anya tidak akan dikabulkan. Hal itu, dikuatkan oleh firman Allah ta’ala: “Dan tidaklah do`a orang-orang kafir melainkan di dalam kesesatan.”

Larangan berdo`a untuk suatu dosa dan memutus silaturrahim. Telah diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam telah bersabda,

لاَ يَزَالُ يُسْتَجَابُ لِلْعَبْدِ مَا لَمْ يَدْعُ بِإِثْمٍ أَوْ قَطِيْعَةِ رَحِمٍ مَا لَمْ يَسْتَعْجِلْ … الحديث.

“Akan selalu dikabulkan do`a seorang hamba selama dia tidak berdo`a untuk suatu dosa atau memutus hubungan sanak kerabat dan selagi tidak tergesa-gesa…dst.” (HR. Muslim).

Juga telah diriwayatkan dari Ubadah bin Shamit, bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

مَا عَلَى اْلأَرْضِ مُسْلِمٌ يَدْعُـوْ اللهَ بِدَعْـوَةٍ إِلاَّ آتَاهُ اللهُ إِيَّاهَا أَوْ صَرَفَ عَنْهُ مِنَ السُّوْءِ مِثْلَهَا، مَا لَمْ يَدْعُ بِإِثْمٍ أَوْ قَطِيْعَةِ رَحِمٍ، مَا لَمْ يُعَجِّلْ يَقُوْلُ: قَدْ دَعَـوْتُ وَدَعَـوْتُ فَلَمْ يُسْـتَجَبْ لِيْ.

“Di atas bumi ini, tidaklah seorang Muslim berdo`a kepada Allah ta’ala dengan suatu do`a, melainkan Allah ta’ala pasti mengabulkan do`anya, atau melepaskannya dari keburukan semisalnya, selama dia tidak berdo`a untuk suatu dosa dan memutus hubungan silaturahim, dan selama dia tidak tergesa-gesa (minta segera dikebulkan), sambil mengucapkan: “Sungguh, aku telah berdo`a dan berdo`a, namun do`aku tidak pernah dikabulkan.” (HR. Tirmidzi dan al-Hakim, namun al-Hakim menambah: “Atau, Allah ta’ala akan menyimpan baginya pahala yang semisalnya.”, lalu dia menshahihkan hadîts ini, dan disepakati oleh Imam adz-Dzahabi).

8. Larangan mengomentari do`a, dan itu merupakan bentuk pelanggaran. Telah diriwayatkan dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

إِذَا دَعَا أَحَدُكُمْ فَلْيَعْزِمِ اْلمَسْأَلَةَ وَلاَ يَقُوْلَنَّ: اللَّهُمَّ إِنْ شِئْتَ فَأَعْطِنِيْ فَإِنَّهُ لاَ مُسْتَكْرَهٌ لَهُ.

“Jika seorang dari kalian berdo`a, hendaknya dia serius memohon dan jangan sekali-kali mengucapkan: “Ya Allah, jika Engkau berkendak, berilah aku”, karena tidak ada yang dipaksakan kepada-Nya.” (Muttafaq ‘Alaih). Al-Bukhari, (13/139) dan Fathul Bârî; Muslim, (4/2063).

Telah diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu , bahwasanya Rasulullahshallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

لاَ يَقُوْلَنَّ أَحَدُكُمْ: اللَّهُمَّ اغْـفِرْ لِيْ إِنْ شِئْتَ، الَّلهُمَّ ارْحَمْنِيْ إِنْ شِئْتَ، لِيِعْزِمِ اْلمَسْأَلَةَ فَإِنَّهُ لاَ مُسْتَكْرَهٌ لَهُ.

“Janganlah salah seorang di antara kalian mengucapkan: “Ya Allah, ampunilah dosaku jika Engkau mau. Ya Allah, kasihanilah aku jika Engkau mau.” Akan tetapi hendaklah ia berbulat hati memohon, sebab tidak bisa dipaksakan kepada Allah.” (Muttafaq ‘Alaih). Di dalam lafazh Muslim:

وَلَيُعَظِّمِ الرَّغْبَةَ فَإِنَّ اللهَ لاَ يَتَعَاظَمُهُ شَيْءٌ أَعْطَاهُ.

“Hendaklah dia memperbesar pengharapan, karena sesungguhnya Allah ta’ala tidak merasa agung oleh sesuatu yang telah Dia berikan.”

9. Larangan minta supaya do`anya cepat dikabulkan. Telah diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah bersabda,

يُسْتَجَابُ لِأَحَدِكُمْ مَا لَمْ يُعَجِّلْ يَقُوْلُ: دَعَـوْتُ فَلَمْ يُسْتَجَبْ لِيْ.

“Akan dikabulkan do`a seseorang di antara kalian selama dia tidak tergesa-gesa untuk dikabulkan, seraya mengucapkan: “Aku telah berdo`a, namun do`aku belum terkabulkan.” (HR. Imam al-Bukhari, 11/140; dan Muslim, 4/2095). Di dalam lafazh Muslim:

لاَ يَزَالُ يُسْتَجَابُ لِلْعَبْدِ مَا لَمْ يَدْعُ بِإِثْمٍ أَوْ قَطِيْعَةِ رَحِمٍ ومَا لَمْ يَسْتَعْجِلْ. قِيْلَ: يَا رَسُوْلَ اللهِ، مَا اْلاِسْتِعْجَالُ؟ قَالَ: يَقُوْلُ: قَدْ دَعَوْتُ وَ قَدْ دَعَوْتُ فَلَمْ يُسْتَجَبْ لِيْ، فَيَسْتَحْسِرُ عِنْدَ ذَلِكَ وَيَدَعُ الدُّعَاءَ.

“Akan selalu dikabulkan do`a seorang hamba selagi dia tidak berdo`a untuk suatu dosa atau memutus tali silaturahim, dan selagi dia tidak tergesa-gesa supaya dikabulkan.” Beliau ditanya: ‘Wahai Rasulullah, apa yang dimaksud minta segera dikabulkan?’ Beliau menjawab: ’Seorang hamba itu mengucapkan: ‘Sungguh aku telah berdo`a dan berdo`a, namun tidak pernah do`aku itu dikabulkan’. Sehingga, pada saat itu dia akan merasa mengeluh (frustasi), lalu tidak mau berdo`a’.”
Telah diriwayatkan dari Abu Sa’id al-Khudri radhiyallahu ‘anhu, bahwasanya Nabishallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

مَا مِنْ مُسْلِمٍ يَدْعُوْ بِدَعْوَةٍ، لَيْسَ فِيْهَا إِثْمٌ وَلاَ قَطِيْعَةُ رَحِم، إِلاَّ أَعْطَاهُ اللهُ بِهَا إِحْدَى ثَلاَثٍ: إِمَّا يُعَجِّلُ لَهُ دَعْوَتَهُ، وَإِمَّا أَنْ يَدَّخِرَهَا لَهُ فِي اْلآخِرَةِ، وَإِمَّا أَنْ يَصْرِفَ عَنْهُ مِنَ السُّوْءِ مِثْلَهَا.

“Tidaklah seorang muslim berdo`a dengan suatu do`a, yang tiada terkandung di dalamnya dosa dan terputusnya tali silaturahim, melainkan Allahta’ala pasti memberinya karena do`anya itu salah satu dari tiga hal: Allahta’ala akan mempercepat terkabulnya do`a hamba tersebut, atau Dia akan menyim-pannya sebagai tabungan baginya di akhirat, atau Dia akan menghindarkannya dari keburukan yang semisalnya.”(HR. Ahmad dan al-Hakim, lalu al-Hakim menshahihkannya dan disepakati oleh Imam adz-Dzahabi).
Dari ‘Ubadah bin Shamit radhiyallahu ‘anhu, bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

مَا عَلَى اْلأَرْضِ مُسْلِمٌ يَدْعُـوْ اللهَ بِدَعْـوَةٍ إِلاَّ آتَاهُ اللهُ إِيَّاهَا، أَوْ صَرَفَ عَنْهُ مِنَ السُّـوْءِ مِثْلَهَا، مَا لَمْ يَدْعُ بِإِثْمٍ أَوْ قَطِيْعَةِ رَحِمٍ، مَا لَمْ يُعَجِّلْ يَقُوْلُ: قَدْ دَعَوْتُ وَدَعَـوْتُ فَلَمْ يُسْـتَجَبْ لِيْ.

“Di atas bumi ini, tidaklah seorang muslim berdo`a dengan suatu do`a, melainkan Allah akan mengabulkan do`anya, atau menjauhkannya dari kejelekan yang semisalnya, selama dia tidak berdo`a untuk suatu dosa dan memutus hubungan silaturahim, dan selagi dia tidak tergesa-gesa untuk mengucapkan: ‘Sungguh aku telah berdo`a dan berdo`a, namun do`aku tidak pernah dikabulkan’.” (HR. Tirmidzi dan al-Hakim, lalu al-Hakim menshahihkannya dan disepakati oleh Imam Dzahabi).
Coba Anda perhatikan sebuah hadîts yang terdapat di dalam kitab Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim, berkaitan dengan qunut (nâzilah) Nabi shallallahu ‘alaihi wasallamyang ditujukan kepada kaum Ra’l dan Dzakwan selama satu bulan yang isinya mendo`akan keburukan terhadap mereka. Di dalam hadîts tersebut terdapat pemahaman agar pemohon tidak minta do`anya diperlambat untuk dikabulkan. Bagaimana seseorang di antara kita tidak minta do`anya agar diperlambat, sementara berbagai kemaksiatan kita telah menyumbat jalannya? Maka, Tidak ada daya dan kekuatan kecuali karena pertolongan Allah ta’ala.

10. Larangan mengeluh (lesu, frustasi). Maksudnya, tidak mau berdo`a karena merasa frustasi dan bosan.
Allah ta’ala ketika memuji para malaikat-Nya seraya berfirman,

وَلَهُ مَن فِي السَّمَاوَاتِ وَاْلأَرْضِ وَمَنْ عِندَهُ لاَيَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِهِ وَلاَيَسْتَحْسِرُونَ {19} يُسَبِّحُونَ الَّيْلَ وَالنَّهَارَ لاَيَفْتُرُونَ {20}

“Dan kepunyaan-Nyalah segala yang ada di langit dan di bumi. Dan malaikat-malaikat yang di sisi-Nya, mereka tidak mempunyai rasa angkuh untuk menyembah-Nya dantiada (pula) merasa letih. Mereka selalu bertasbîh malam dan siang tiada henti-hentinya.” (al-Anbiya’: 19-20). Kata ‘la yastahsirûn’ di sini, berarti: mereka tidak merasa lelah.

Az-Zubaidi di dalam kitabnya ‘Taj al-‘Arus’ (11/12), menyebutkan: “ Di dalam sebuah hadîts disebutkan:

اُدْعُـوْا اللهَ وَلاَ تَسْتَحْسِرُوْا.

“Berdo`alah kalian kepada Allah dan janganlah kalian ber-istihsar (lelah/letih).”Maksudnya, jangan merasa bosan.
Dan hadîts-hadîts tentang larangan agar do`a diperlambat untuk dikabulkan, menunjukkan larangan merasa lelah (frustasi) dalam berdo`a. Oleh karena itu, di dalam hadîts Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu yang diriwayatkan oleh Imam Muslim disebutkan: “Ditanyakan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam:

يَا رَسُوْلَ اللهِ، مَا اْلاِسْتِحْسَارُ؟ قَالَ: يَقُوْلُ: قَدْ دَعَـوْتُ فَلَمْ يُسْتَجَبْ لِيْ: يَسْتَحْسِرُ عِنْدَ ذَلِكَ وَيَدَعُ الدُّعَاءَ.

“Wahai Rasulullah, apakah yang dimaksud dengan merasa lelah tersebut?’ Beliau menjawab: “Pemohon mengucapkan: ‘Sungguh aku telah berdo`a, namun do`aku tidak pernah dikabulkan’, sehingga pada saat itu dia pun merasa lelah dan tidak mau do`a.”Wallahu A‘lam.

11. Larangan kepada orang-orang yang hatinya lalai dalam do`a.
Telah diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, bahwsanya Rasulullahshallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

اُدْعُـوْا اللهَ وَأَنْتُمْ مُوْقِنُوْنَ بِاْلإِجَابَةِ، وَاعْـلَمُوْا أَنَّ اللهَ لاَ يَسْتَجِيْبُ دُعَاءً مِنْ قَلْبٍ غَافِلٍ لاَهٍ.

“Berdo`alah kalian kepada Allah ta’ala, sementara kalian meyakini terkabulnya do`a tersebut. Dan ketahuilah bahwasanya Allah ta’ala tidak akan mengabulkan do`a yang berasal dari hati yang lalai.” (HR. Tirmidzi, 5/517; ath-Thabrani di dalam ‘Ad-Du’â’, 2/812; dan yang lainnya. Di dalam sanadnya terdapat catatan, dan kebanyakan cenderung mendha’ifkannya Akan tetapi, hadîts ini memiliki syâhid (penguat) dari hadîts Abdullah bin ‘Amr bin al-‘Ash di dalam Musnad Imam Ahmad, 2/177).

12. Larangan mengabaikan pujian kepada Allah, serta shalawat dan salam kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallamsewaktu memulai do`a. Allah ta’ala telah membuka kitab-Nya (al-Qur’an) dengan pujian: “Segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam….”(al-Fatihah: 1).
Telah diriwayatkan dari Fudhâlah bin ‘Ubaid radhiyallahu ‘anhu berkata, “Rasulullahshallallahu ‘alaihi wasallam pernah mendengar seseorang sedang berdo`a di dalam shalatnya, tapi tidak memuji Allah dan tidak bershalawat kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, lalu beliau berkata, ‘Orang ini sangat tergesa-gesa’, kemudian beliau memanggilnya, lalu bersabda kepadanya dan kepada orang selain dia:

إِذَا صَلَّى أَحَدُكُمْ فَلْيَبْدَأْ بِتَحْمِيْدِ اللهِ، وَالثَّنَاءِ، ثُمَّ يُصَلِّي عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ثُمَّ يَدْعُوْ بِمَا شَاءَ.

“Jika salah seorang dari kalian shalat, maka hendaknya dia memulai dengan memuji Allah ta’ala, lalu bershalawat kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, lalu setelah itu, barulah dia berdo`a memohon apa yang ia kehendaki.” (HR. Abu daud, 2/162; hadîts ini akan dibahas di awal pembahasan tentang Dzikir pagi dan petang.
Allah ta’ala telah berfirman,
دَعْوَاهُمْ فِيهَا سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَتَحِيَّتُهُمْ فِيهَا سَلاَمٌ وَءَاخِرُ دَعْوَاهُمْ أَنِ الْحَمْدُ للهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ
“Dan penutup do`a mereka ialah: “Alhamdulillahi Rabbil’alamin.” (Yunus: 10)

12. Larangan mengganti lafazh do`a yang wârid (berasal dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam) dengan yang bukan wârid (tidak ada sumber riwayatnya). Telah diriwayatkan dari al-Bara’ bin ‘Azib radhiyallahu ‘anhu, dia berkata, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam telah bersabda,

إِذَا أَتَيْتَ مَضْجَعَكَ فَتَوَضَّأْ وُضُوْءَكَ لِلصَّلاَةِ، ثُمَّ اضْطَجِعْ عَلَى شَقِّكَ اْلأَيْمَنِ، ثُمَّ قُلْ: اللَّهُمَّ أَسْلَمْتُ نَفْسِيْ إِلَيْكَ، وَوَجَّهْتُ وَجْهِيْ إِلَيْكَ، وَفَوَّضْتُ أَمْرِيْ إِلَيْكَ، وَأَلْجَأْتُ ظَهْرِيْ إِلَيْكَ، رَغْبَةً وَرَهْبَةً إِلَيْكَ، لاَ مَلْجَأَ وَلاَ مَنْجَا مِنْكَ إِلاَّ إِلَيْكَ، اللَّهُمَّ آمَنْتُ بِكِتَابِكَ الَّذِيْ أَنْزَلْتَ، وَبِنَبِيِّكَ اَّلذِيْ أَرْسَلْتَ، فَإِنْ مِتُّ مِنْ لَيْلَتِكَ فَأَنْتَ عَلَى اْلِفطْرَةِ، وَاجْعَلْهُنَّ آخِرَ مَا تَتَكَلَّمُ بِهِ.

“Jika engkau mau tidur, maka berwudhu’lah terlebih dulu dengan wudhu’ (yang biasa dilakukan) untuk shalat, lalu berbaringlah miring ke arah kanan, lalu bacalah do`a: (“Ya Allah, kuserahkan jiwa ragaku kepada-Mu, kuhadapkan mukaku kepada-Mu, kulimpahkan (semua) urusanku kepada-Mu, dan kusandarkan punggungku kepada-Mu, dengan berharap dan cemas kepada-Mu, tidak ada tempat berlindung dan mencari keselamatan dari-Mu selain hanya kepadaMu. Ya Allah, aku beriman kepada kitab-Mu yang telah Engkau turunkan, dan Nabi-Mu yang telah Engkau utus”). Jika engkau mati pada malammu ini, maka engkau berada pada fitrah (tauhid). Dan jadikanlah do`a ini sebagai akhir ucapan yang engkau katakan.” Bara’ bin ‘Azib berkata, Lalu aku selalu mengulang-ulanginya di hadapan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Namun, ketika aku telah sampai pada bacaan: “Ya Allah, aku beriman kepada kitab-Mu yang telah Engkau turunkan”, tiba-tiba aku mengucapkan: ‘…dan rasul-Mu’, maka Nabi pun menegur: ‘Tidak, akan tetapi: ‘…dan Nabi-Mu yang telah Engkau utus’. (Muttafaq ‘Alaih).

13. Larangan berdo`a agar dipercepat siksanya di dunia. Telah diriwayatkan dari Anas bin Malik rahimahullah, bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah menjenguk seseorang dari kaum Muslimin yang sekarat hingga menjadi seperti anak burung, lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bertanya kepadanya: ‘Apakah kamu pernah berdo`a (kepada Allah ta’ala) agar ditimpa sesuatu (adzab), atau kamu meminta hal tersebut kepada-Nya?” Orang itu pun menjawab: ‘Benar, aku pernah berdo`a: ‘Ya Allah, apa yang akan Engkau siksakan kepadaku di akhirat nanti, maka percepatlah siksaku itu di dunia’. Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,‘Mahasuci Allah, kamu tidak akan kuat -atau tidak akan sanggup menanggungnya- tidakkah aku pernah bersabda, ‘Ya Allah, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, dan lindungilah kami dari siksa api neraka?. Anas berkata, Lalu beliaushallallahu ‘alaihi wasallam berdo`a kepada Allah bagi pemuda tersebut, sehingga Allahta’ala memberi kesembuhan kepadanya.” (HR. Muslim, at-Tirmizi, dan an-Nasa’i).

14. Larangan berbuat tahajjur (berdo`a agar kebaikan tercegah dari orang lain). Silâh al-Mukmin, hal. 148; al-Azhiyah, hal. 102; dan al-Mausû’ah al-Fiqhiyyah, (20/265). Telah diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Rasulullahshallallahu ‘alaihi wasallam berdiri di dalam shalat, dan kami pun mengikutinya, lalu tiba-tiba seorang Badui berdo`a dalam shalatnya: ‘Ya Allah, kasihanilah diriku dan Muhammad, dan jangan Engkau kasihani seseorang pun bersama kami’. Maka ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam telah mengucapkan salam, beliau berkata kepada orang Badui tersebut: ‘Sungguh, kamu telah membatasi (rahmat Allah) yang sangat luas itu.”(HR. Imam al-Bukhari, dan yang lainnya).

15. Mendo`akan kembalinya sesuatu yang telah berlalu. Silâh al-Mukmin, hal 16.
Seperti yang disebutkan di hadîts Ummu Habibah radhiyallahu ‘anhu yang diriwayatkan oleh Imam Muslim, dan hadîts ini sangat masyhur.

16. Mensajakkan do`a dengan dipaksakan adalah bentuk pelanggaran. Fathul Bârî, (11/138-139, 149, 208); dan ad-Du’â`, karya al-‘Arûsî, (1/177, 180-182, 2/580). Maksud sajak di sini, adalah mengurut ucapan pada satu bentuk ritme. Upaya pemohon mensajakkan do`a itu bisa mencegah kekhusyu’an dalam berdo`a, dan bertentangan dengan rasa tunduk dan patuh. Oleh karenanya, hal semacam itu dilarang. Adapun sajak yang tidak disengaja dan tidak dibuat-buat oleh pemohon, yaitu yang muncul dari pemohon tanpa disengaja dan dibuat-buat, maka tidaklah mengapa, sebagaimana yang terdapat dalam beberapa do`a yang wârid, dan karenanya, justeru menjadi sangat indah.
Allah ta’ala berfirman,

ادْعُوا رَبَّكُمْ تَضَرُّعًا وَخُفْيَةً إِنَّهُ لاَيُحِبُّ الْمُعْتَدِينَ

“Berdo’alah kepada Rabbmu dengan berendah diri dan suara yang lembut. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.” (al-A’raf: 55).
Sebagian Ahli Tafsir berkata, “Melampaui batas di sini artinya adalah berlebih-lebihan dalam sajak.” Dan ini termasuk penafsiran dengan salah satu maknanya.

Telah diriwayatkan dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu di dalam wasiatnya kepada budaknya, Ikrimah radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata, “Perhatikanlah sajak dari do`a-do`a yang ada, lalu (kalau ada) maka jauhilah. Sebab aku melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam beserta para sahabatnya sangat menjauhi hal tersebut.” (Hadîts diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari, (11/138); dan beliau menerjemahkannya dengan membuat: ‘Bab bersajak dalam do`a yang dimakruhkan)’.

Ibnu Wahb di dalam kitabnya telah meriwayatkan dari seorang ulama tabi’in terkemuka dan merupakan salah satu dari ketujuh ahli fikih kesohor, yaitu Urwah bin Zubair, bahwasanya jika disodorkan kepadanya suatu do`a yang ada unsur sajaknya yang disandarkan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam atau para sahabatnya, beliau berkata, “Mereka telah berbohong, karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallambeserta para sahabatnya bukanlah orang-orang yang suka bersajak’. Hal ini dituturkan oleh ath-Tharthusyi di dalam kitabnya ‘al-Hawâdits wa al-Bida’, hal. 157.

Larangan terhadap do`a yang disajakkan ini juga menjadi pendorong bagi al-Hafizh Abul Qasim ath-Thabrani rahimahullah (w. 360) untuk menulis kitab (yang diberi judul)“ad-Du’â.” Beliau berkata, “Ini adalah kitab yang saya karang sebagai kumpulan do`a-do`a Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, dan yang mendorong saya melakukan ini, adalah saya melihat banyak orang telah berpegang kepada do`a-do`a yang disajakkan dan juga kepada do`a-do`a yang dibuat berdasarkan hitungan hari, yaitu do`a-do`a yang dikarang oleh para penulis yang tidak bersumber dari Rasulullahshallallahu ‘alaihi wasallam, ataupun berasal dari salah seorang sahabatnya, ataupun dari seorang tabi`in. Padahal telah diriwayatkan dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, bahwasanya beliau sangat tidak suka bersajak atau berlebihan dalam berdo`a.”

17. Larangan mengangkat pandangan ke langit sewaktu berdo`a dalam shalat. Lihat al-Fatâwâ, (6/577); dan Fahras al-Fatâwâ, (37/64).

Telah diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dia berkata, “Rasulullahshallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

لَيَنْـتَهِيَنَّ أَقْوَامٌ عَـنْ رَفْعِهِمْ أَبْصَارَهُمْ عِنْدَ الدُّعَاءِ فِي الصَّلاَةِ إِلَى السَّمَاءِ أَوْ لَتُخْطَفَنَّ أَبْصَارُهُمْ.

“Hendaklah orang-orang itu berhenti mengarahkan pandangan mata mereka ke langit ketika berdo`a dalam shalat atau mata mereka akan dicungkil.” (HR. Muslim, (1/321).

18. Larangan berdo`a dengan membalik kedua telapak tangan.
19. Larangan berdo`a dengan berisyarat dengan dua jari tangan. Hadîts-hadîts yang berkaitan dengan kedua larangan ini -insya Allah- akan dibahas pada bab: “Pelurusan etika pemohon dalam berdo`a’.

20. Larangan meninggikan dan mengeraskan suara sewaktu ber-do`a. Allah ta’alaberfirman,

وَلاَتَجْهَرْ بِصَلاَتِكَ وَلاَتُخَافِتْ بِهَا وَابْتَغِ بَيْنَ ذَلِكَ سَبِيلاً

“…Dan jangan kamu mengeraskan suaramu dalam shalatmu dan janganlah pula merendahkannya dan carilah jalan tengah di antara kedua itu.” (al-Isra’: 110). Kata ‘bi shalâtika’ di sini, berarti: dalam do`amu. Aisyah radhiyallahu ‘anhu berkata, “Ayat ini turun berkaitan dengan do`a.” (Muttafaq ‘Alaih).

Allah ta’ala berfirman,

ادْعُوا رَبَّكُمْ تَضَرُّعًا وَخُفْيَةً إِنَّهُ لاَيُحِبُّ الْمُعْتَدِينَ

“Berdo’alah kepada Rabbmu dengan berendah diri dan suara yang lembut. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.” (al-A’raf: 55).

Sebagian ulama tafsir berkata, “(yang melampaui batas di dalam ayat ini) adalah orang-orang yang berlebihan dengan meninggikan suara mereka dalam do`a.”

Ibnu Juraij di dalam tafsirnya, berkata, “Di antara bentuk pelanggaran, adalah meninggikan suara, panggilan, do`a dan teriakan. Padahal, mereka diperintahkan untuk tunduk dan merendahkan diri.”

Dalam kaitannya dengan dzikir, Allah ta’ala telah berfirman,

وَاذْكُر رَّبَّكَ فِي نَفْسِكَ تَضَرُّعًا وَخِفْيَةً وَدُونَ الْجَهْرِمِنَ الْقَوْلِ بِالْغُدُوِّ وَاْلأَصَالِ وَلاَتَكُن مِّنَ الْغَافِلِينَ

“Dan sebutlah (nama) Rabbmu dalam hatimu dengan merendahkan diri dan rasa takut, dan dengan tidak mengeraskan suara, di waktu pagi dan petang, dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang lalai.” (al-A’raf: 205).
Sedangkan larangan yang bersumber dari atsar, di antaranya:
21. Larangan untuk mengucapkan kalimat: “Ya Allah, Rabb al-Qur’an.” Telah diriwayatkan dari Ikrimah, dia berkata, “Suatu hari, Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuberada pada acara pemakaman. Namun, pada saat si mayit diletakkan di dalam liang lahatnya, tiba-tiba seorang pemuda berdiri sambil berkata, “Ya Allah, Rabb al-Qur’an, lapangkanlah liangnya. Ya Allah, Rabb al-Qur’an, ampunilah dosanya.” Lalu, Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu berpaling kepadanya, seraya berkata, “Diamlah, al-Qur’an adalah kalam Allah, dan bukan yang dimiliki. Dari-Nya dia berasal dan kepada-Nyalah dia akan kembali.” (HR. Baihaqi dan Dhayya dengan sanad dha’if).

22. Larangan berdo`a secara berjama’ah. Ad-Du’â`, karya al-Arûsi, 92/582, 666-672).

Telah diriwayatkan dari Abu Utsman an-Nahdi, dia berkata, “Seorang pejabat pemerintahan Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu pernah menulis surat kepadanya, bahwasanya di tempatnya terdapat kaum yang berkumpul, mereka mendo`akan kaum muslimin dan sang amir (gubernur). Kemudian Umar menulis surat kepadanya: “Bawalah mereka menghadap kepadaku bersamamu.” Lalu dia pun menghadap, dan Umar berkata kepada penjaga pintu: “Sediakanlah pecutan.” Ketika mereka telah menghadap Umar, beliau memukul gubernur mereka dengan pecut tersebut.” (HR. Ibnu Wadhhah di dalam “al-Bida’ wa an-Nahy ‘Anhâ”, hal. 19; dan Ibnu Abi Syaibah di dalam “al-Mushannif’, (8/558), hadîts no. 6242).

23. Larangan berdo`a setelah mereka berkumpul membaca al-Qur’an. Berkaitan dengan orang-orang yang berkumpul untuk membaca al-Qur’an, Imam Malikrahimahullah berkata, “Tidak masalah bila mereka berkumpul, tapi makruh hukumnya bagi mereka untuk berdo`a setelah itu.” Perkataan ini dituturkan oleh ath-Tharthusi di dalam kitabnya “al-Hawâdits wa al-Bida’” hal. 63.

24. Larangan berdiri untuk berdo`a sewaktu masuk dan keluar masjid. Imam Malikrahimahullah sangat mengingkari perbuatan ini, sebagaimana disebutkan di dalam “al-Hawâdits wa al-Bida’” karya ath-Tharthusyi, hal. 64.

Semua ini adalah sedikit contoh dari sekian atsar, dan yang tidak disebutkan sangat banyak lagi. Dan ketika manusia semakin jauh dari masa generasi pertama, maka semakin lebar ruang lingkup tashhîh (koreksi) ini, mengingat begitu banyaknya hal-hal baru yang dimunculkan dalam agama. Wallahu a’lam.

[Sumber: Dinukil dari kitab Tashhîh ad-Du’â`, karya Syaikh Bakar bin Abdullah Abu Zaid, edisi bahasa Indonesia: Koreksi Doa dan Zikir, pent. Darul Haq Jakarta]

 

 

 

Iklan