Budaya kenduri kematian dalam ta’ziah seperti tahlil, bukanlah berasal dari budaya Hindu dan Budha seperti yang dikalim oleh segolongan orang. Sebab kedua agama ini tidak mengenal istilah itu. Demikian diungkapkan oleh pengamat budaya dan sejarah Agus Sunyoto. Menurutnya, dalam agama Hindu atau Budaha tidak dikenal kenduri dan tidak pula dikenal peringatan orang mati pada hari ketiga, ketujuh, ke-40, ke-100 atau ke-1.000.

Agus sunoyto mengemukakan bahwa catatan sejarah menunjukkan orang Campa memperingati kematian seseorang pada hari ketiga, ketujuh, ke-40, ke-100 dan ke-1.000. Orang-orang Campa juga menjalankan peringatan khaul, peringatan hari Assyuro dan maulid Nabi Muhammad SAW. “Mencermati fakta itu, maka saya berkeyakinan tradisi kenduri, termasuk khaul adalah tradisi khas Campa yang jelas-jelas terpengaruh faham Syi`ah. Demikian juga dengan perayaan 1 dan 10 Syuro, pembacaan kasidah-kasidah yang memuji-muji Nabi Muhammad menunjukkan keterkaitan tersebut,” katanya.

Bahkan, katanya, istilah kenduri itu sendiri jelas-jelas menunjuk kepada pengaruh Syi`ah karena dipungut dari bahasa Persia, yakni Kanduri yang berarti upacara makan-makan memperingati Fatimah Az Zahroh, puteri Nabi Muhammad SAW.

Agus Sunyoto yang juga dikenal sebagai penulis sejumlah novel dengan latar belakang wali, antara lain Syekh Siti Jenar yang bersambung hingga tujuh novel itu mengemukakan bahwa ditinjau dari aspek sosio-historis, munculnya tradisi kepercayaan di Nusantara ini banyak dipengaruhi pengungsi dari Campa yang beragama Islam.

“Peristiwa yang terjadi pada rentang waktu antara tahun 1446 hingga 1471 masehi itu rupanya memberikan kontribusi yang tidak kecil bagi terjadinya perubahan sosio-kultural religius di Majapahit,” kata mantan wartawan yang kini menjadi dosen budaya di Unibraw Malang itu. Ia memberi contoh kebiasaan orang Campa yang memanggil ibunya dengan sebutan “mak”, sedangkan orang-orang Majapahit kala itu menyebut “ibu” atau “ra-ina”.

Di Surabaya dan sekitarnya, tempat Sunan Ampel menjadi raja, masyarakat memanggil ibunya dengan sebutan “mak”. “Pengaruh kebiasaan Campa yang lain terlihat pula dalam cara orang memanggil kakaknya atau yang lebih tua dengan sebutan `kang`, sedangkan orang Majapahit kala itu memanggil dengan sebutan `raka`. Untuk adik, orang Campa menyebut `adhy`, sedangkan di Majapahit disebut `rayi`,” katanya.

Pada kesempatan itu, Agus membedakan pengaruh muslim Cina dengan Campa di masa-masa akhir kejayaan kerajaan Majapahit atau di era Wali Songo. Muslim Campa selama proses asimilasi melebur dengan penduduk setempat, hingga watak Campanya hilang dan berbaur dengan kejawaan.

“Tapi muslim Cina masih cukup kuat menunjukkan eksistensi kecinaannya sampai beberapa abad,” katanya Dihimpun dari pelbagai sumber, al: Pesanten Sumber : sekroh1.wordpress.com/…/asal-usul-haul-dan-kenduri-kematian- Seorang mantan Pendeta Hindu pernah menyatakan :

Pertama.

Panca Yajna adalah lima upacara selamatan di dalam agama Hindu, masing-masing: Dewa yajna yakni selamatan kepada Ida Sang Hyang Widi Wasa. Rsi yajnya adalah selamatan kepada orang-orang yang dianggap suci. Pitra yajna adalah selamatan kepada roh leluhur. Manusa yajna adalah selamatan kepada manusia. Butha yajna adalah selamatan kepada mahluk bawahan. Melakukan selamatan ini adalah wajib hukumnya di dalam Agama Hindu. Contoh selamatan pada hari kematian, acaranya berlangsungpada hari pertama, ke-3, ke-7, ke-40, ke-100 dan nyewu (hari ke-1000). “Kalau tidak punya uang untuk melaksanakan selamatan, wajib utang kepada tetangga. (jamaah tertawa) . Sebab bila keluarga yang meninggal tidak diselamatin, rohnya akan gentayangan, menjelma menjadi hewan, binatang, bersemayam di keris dan jimat, dll. Makanya pohon-pohon diberi sarung, dan pada setiap hari Sukra Umanis jimat dan keris diberi minum kopi. “Sedangkan yang melaksanakan selamatan, dapat tiket langsung masuk surga.” Di dalam Islam tidak ada selamatan-selamatan, tetapi yang ada adalah sedekoh. Sedekoh punya kelebihan dari selamatan yakni memberikan sedekoh ketika kita punya kelebihan yang biasanya dilakukan pada menjelang bulan puasa. Jadi bukan hasil utang. Kesaksian Mantan Pendeta Hindu Tentang Ritual ahl… Komentarku ( Mahrus ali ) Telah jelas bahwa acara haul adalah bukan dari ajaran Islam , tapi dari budaya Hindu dan Syi`ah yang ahli bid`ah bukan ahlus sunnah . Ia termasuk budaya yang tidak di ajarkan oleh Allah dan rasulNya tapi di ajarkan oleh setan dan tentaranya . Dan ini jelas tidak samar lagi di larang bukan di perbolehkan , termasuk juga membudayakan kebid`ahan bukan melestarikan sunnah , menyebarkan ajaran non Islam . Ia bukan syi`ar Allah tapi syi`ar setan . Allah telah menyatakan dalam ayatNya sbb : ذَلِكَ وَمَنْ يُعَظِّمْ شَعَائِرَ اللَّهِ فَإِنَّهَا مِنْ تَقْوَى الْقُلُوبِ Demikianlah (perintah Allah). Dan barangsiapa mengagungkan syi`ar-syi`ar Allah, maka sesungguhnya itu timbul dari ketakwaan hati.[1] Bila syi`ar setan yang di kumandangkan , maka termasuk hati yang paling taat pada setan dan ingkar kepada Allah . Acara haul itu ber arti menyemarakkan ke sesatan bukan kebenaran sebagaimana hadis :

مَنْ أَحْدَثَ فِي أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ

Barang siapa mengada-ngadakan sesuatu dalam urusan agama yang tidak terdapat dalam agama maka dengan sendirinya tertolak [2] Bahkan dalam haul juga ada kesyirikan sebagaimana haul di Jeddah yang di adakah oleh PCNU GP Ansor Gusdurian dengan membaca ya nabi salam alaika dan di dalamnya terdapat bait syirik sbb :

فَأَغِثْني وَأَجِرْنِي ياَمُجِيْرٌ مِنَ السَّعِيْرِ

Maka tolonglah aku wahai Rasulullah dan selamatkan aku wahai Rasul yang menyelamatkan dari neraka sair ياَغِياَثِي يَامَلاَذِي فِى مُلِماَّتِ الأُمُورِ Wahai penolongku dan pelindungku Dalam mengatasi setiap mara bahaya Ket:”Bacaan tsb syirik karena langsung minta kepada NabiSAW bukan minta kepada Allah ,” الَّلهُمَّ بِحُرْمَةِ هَذَا النَّبِي الكَرِيْمِ Ya Allah ! dengan kehurmatanNabiyang mulia ini وَاسْتُرْناَ بِذَيْلِ حُرْمَتِه Tutupilah kami dengan ekor kehurmatanNabi SAW وَارْزُقْناَ بِهِ يَوْمَ القِياَمَةِ مَقاَماً رَفِيْعاً Pada hari kiamat berilah kami kedudukan yang tinggi karena kemuliaanNabiSAW. Ket: “ Syirik disini karena menggunakan perantara orang mati dan kehurmatannya dalam berdoa kepada Allah.” “ Tidak layak bagi seseorang berdoa kepada Allah dengan hak makhlukNya, paraNabi, Rasul atau baitullah . Imam Abu Hanifah benci kepadanya , “ kata Abu Yusuf. “Minta pada Allah dengan perantara mahlukNya tidak boleh atau haram , “ kata Al Qaduri yang didukung oleh Ibnu taimiyah dalam kitab Al qaidah al jalilah .[3] “ Berhubung sulit untuk menggali ilmu syariat , maka masyarakat awam beralih kepada ajaran yang dibikin sendiri. Menurutku mereka adalah kafir seperti mengagungkan kurburan ,minta – minta pada orang mati,wahai tuanku berilah ini ………,” kata Ibnu Uqail Al Hambali. “Ini adalah syirik besar dan setiap jalan yang mengarah kepadanya harus di larang,” kata syekh Sholeh bin Abdul aziz [4] [1] Al haj 22 [2] HR Bukhori / Salat / 2499. Muslim / Aqdliah / 3242. Abu dawud/Sunnah / 3990. Ibnu Majah / Muqaddimah /14. Ahmad / 73,146,180,240,206,270/6 [3] Attawassul 52. [4] Hadzihi mafahimuna 32.

Iklan