Boleh jadi banyak orang tersinggung dengan
ungkapan lugas bahwa kriteria hisab wujudul hilal
itu usang dan jadi pemecah belah ummat. Tetapi
saya tidak menemukan kata-kata yang lebih halus, tetapi
tepat maknanya. Saya pun rela disebut “provokator” demi
membangunkan kita semua bahwa “ada kerikil tajam”
yang selalu mengganjal penyatuan ummat.
Mengapa wujudul hilal disebut usang? Ya, sebagai
produk sains, suatu teori bisa saja usang karena digantikan
oleh teori yang lebih baru, yang lebih canggih, dan lebih
bermanfaat. Teori “geosentris” yang menganggap bumi
sebagai pusat alam semesta sekarang dianggap usang,
karena sudah banyak teori lain yang menjelaskan gerak
benda-benda langit, antara lain teori gravitasi.
Ilmu hisab-rukyat (perhitungan dan pengamatan)
dalam lingkup ilmu falak (terkait posisi dan gerak benda-
benda langit) adalah ilmu multidisiplin yang digunakan
untuk membantu pelaksanaan ibadah. Setidaknya ilmu
hisab-rukyat merupakan gabungan syariah dan
astronomi. Syariah membahas aspek dalilnya yang
bersumber dari Al-Quran, Hadits, dan ijtihad ulama.
Astronomi memformulasikan tafsiran dalil tersebut dalam
rumusan matematis untuk digunakan dalam prakiraan
waktu.
Rasulullah menyebut ummatnya “ummi” yang tidak
pandai baca dan menghitung. Tetapi sesungguhnya pada
zaman Rasul sudah diketahui bahwa rata-rata 1 bulan =
29,5 hari, sehingga ada hadits yang bermakna satu bulan
kadang 29 dan kadang 30. Pengetahuan itu diperoleh
dari pengalaman empirik pengamatan (rukyat) hilal.
Pada zaman sahabat dikembangkan sistem kalender
dengan hisab (perhitungan astronomi) sederhan yang
disebut hisab Urfi (periodik) yang jumlah hari tiap bulan
berselang-seling 30 dan 29 hari.Bulan ganjil 30 hari dan
bulan genap 29 hari. Maka Ramadhan semestinya selalu
30 hari, tetapi rukyat tetap dilaksanakan untuk
mengoreksinya. Dengan perkembangan ilmu hisab/
astronomi, hisab urfi mulai ditinggalkan, kecuali oleh
kelompok-kelompok kecil yang tak tersentuh
perkembangan ilmu hisab, seperti kelompok
Naqsabandiyah di Sumatera Barat dan beberapa kelompok
di wilayah lain (termasuk di tengah kota Bandung —
walau tidak terliput media massa).
Dari hisab Urfi berkembang hisab Taqribi (pendekatan
dengan asumsi sederhana). Misalnya tinggi bulan hanya
dihitung berdasarkan umurnya. Kalau umurnya 8 jam,
maka tingginya 8/2 = 4 derajat, karena secara rata-rata
bulan menjauh dari matahari 12 derajat per 24 jam.
Termasuk kesaksian hilal dulu bukan didasarkan pada
pengukuran tinggi, tetapi hanya dihitung waktunya sejak
cahaya “hilal” (bisa jadi bukan hilal) tampak sampai
terbenamnya. Misalnya, cahaya tampak sekitar 10 menit,
maka dihitung tingginya 10/4=2,5 derajat, karena
terbenamnya “hilal” disebabkan oleh gerak rotasi bumi
360 derajat per 24 jam atau 1 derajat per 4 menit. Hisab
urfi pun sudah mulai ditinggalkan, kecuali oleh beberapa
kelompok kecil, antara lain kelompok pengamat di
Cakung yang dikenal masih menggunakan hisab taqribi
sebagai pemandu rukyatnya.
Dari hisan taqribi berkembang hisab hakiki
(menghitung posisi bulan sebenarnya) dengan kriteria
sederhana wujudul hilal (asal bulan positif di atas ufuk).
Prinsipnya pun sederhana, cukup menghitung saat bulan
dan matahari terbenam. Bila bulan lebih lambat terbenam,
maka saat itulah dianggap wujud. Sampai tahap ini hisab
dan rukyat sering berbeda keputusannya.Hisab wujudul
hilal sering ebih dahulu daripada rukyat, karena memang
tidak memperhitungkan faktor atmosfer. Masyarakat
awam (setidaknya di Cirebon, tempat masa kecil saya
tahun 1970-an) sudah maklum menyebut
Muhammadiyah yang sering puasa atau berhari raya
duluan, karena merekalah yang mengamalkan hisab
wujudul hilal.
Tulisan ini adalah salah satu pandangan yang sempat
menuai kritik oleh banyak kalangan, salah satu kritik
untuk tulisan tersebut, ditulis oleh Prof. Dr . H. Syamsul
Anwar , Guru besar UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, yang
dimuat pada edisi ini. namun untuk penyajian lebih
obyektif, kami dari redaksi harus menampilkan tulisan
Prof. Thomas berikut. Tulisan ini dikutip dari: http://
tdjamaluddin.wordpress.com Mengapa kriteria wujudul hilal sebagai lompatan
pertama hisab hakiki? Dalam sains dikenal
penyederhanaan dalam model perhitungan. Untuk
menghitung secara hakiki posisi bulan dan matahari
bukan perkara mudah pada tahun 1970-an. Ahli hisab
harus menghitung secara manual dengan berlembar-
lembar kertas, kadang-kadang berhari-hari. Satu problem
biasanya dihitung minimal oleh 2 orang. Kalau terjadi
perbedaan, kedua orang itu harus saling mengoreksi. Itu
tidak mudah. Tahun 1980-an kalkulator menjadi alat
bantu utama. Kemudian tahun 1990-an komputer
semakin mempermudah perhitungan.
Lalu berkembang hisab hakiki dengan kriteria imkan
rukyat (kemungkian bisa dirukyat) yang memadukan hisab
dan rukyat, sehingga antara kelender dan hasil hisab
diupayakan sama. Itulah konsep penyatuan kalender
Islam. Berdasarkan data rukyat di Indonesia sejak tahun
1960-an, ahli hisab di Indonesia pada awal 1990-an
memformulasikan kriteria imkan rukyat: (1) ketinggian
minimum 2 derajat, (2) jarak bulan-matahari minimum
3 derajat, dan (3) umur hilal minimum 8 jam. Kriteria
tersebut kemudian diterima di tingkat regional daam
forum MABIMS (Menteri-menteri Agama Brunei
Darussalam, Indonesia, Malaysia, dan Singapura).
Ormas-ormas Islam dalam kelompok Temu Kerja Badan
Hisab Rukyat menyepakati penggunaan kriteria tersebut
daam pembuatan kalender hijriyah di Indonesia, kecuali
Muhammadiyah.
Wakil Muhammadiyah beralasan tinggi hilal 2 derajat
tidak ilmiah. Mengapa tinggi hilal 2 derajat dianggap tidak
ilmiah, tetapi tetap bertahan wujudul hilal yang artinya
tinggi hilal minimum 0 derajat? Saya tidak tahu alasan
penolakan yang sebenarnya. Tetapi memang hisab dengan
kriteria imkan rukyat akan lebih rumit daripada hisab
wujudul hilal. Tetapi, dalam perkembangan pemikiran
astronomi, hisab imkan rukyat dianggap lebih modern
daripada hisab wujudul hilal. Faktor atmosfer yang
menghamburkan cahaya matahari diperhitungkan. Hilal
yang sangat rendah dan sangat tipis tidak mungkin
mengalahkan cahaya senja di ufuk dan cahaya di sekitar
matahari. Itulah sebabnya perlu adanya batas minimum
ketinggian bulan dan jarak bulan-matahari.
Kriteria imkan rukyat terus berkembang. IICP
(International Islamic Calendar Program) di Malaysia
berupaya mengembangkan kriteria astronomis yang kini
dikenal sebagai kriteria Ilyas. LAPAN pun berdasarkan
data rukyat di Indonesia 1962-1996 mengembangkan
revisi kriteria imkan rukyat MABIMS, yang dikenal
sebagai kriteria LAPAN (tahun 2000). Odeh dengan ICOP
(International Crescent Observation Program) dengan
menggunakan data internasional yang lebih banyak
mengembangkan kriteria yang kini dikenal sebagai kriteria
Odeh. Kelompok astronom amatir RHI (Rukyatul Hilal
Indonesia) yang mengkompilasi data rukyat di Indonesia
dan Australia juga menyusun kriteria imkan rukyat RHI.
LAPAN (2010) juga mengusulkan kriteria baru
berdasarkan data rukyat nasional dan internasional yang
diberi nama Kriteria Hisab-Rukyat Indonesia.
Kriteria imkan rukyat yang inilah yang dijadikan dasar
penyatuan kalender hijriyah. Dengan kalender
berdasarkan hisab imkan rukyat, hasil hisab dalam bentuk
kalender diharapkan akan sama dengan hasil hisab. Kalau
masih terjadi perbedaan, penyelesaiannya dalam forum
sidang itsbat. Lalu yang berbeda dari kriteria tersebut
nanti bisa dijadikan dasar untuk merevisi kriteria imkan
rukyat. Memang begitulah kriteria imkan rukyat adalah
kriteria dinamis yang bisa terus disempurnakan.
Kuncinya, kriteria tersebut harus disepakati oleh semua
pemangku kepentingan, terutama ormas-ormas Islam,
MUI, dan Pemerintah.
Dari kronologis perkembangan pemikiran hisab seperti
itu terlihat posisi hisab wujudul hilal sudah usang dan
harus diperbarui. Hisab wujudul hilal pun bisa jadi
pemecah beah ummat, karena hilal dengan ketinggian
yang sangat rendah tidak mungkin teramati. Keputusan
pengamal hisab wujudul hilal pasti akan berbeda dengan
keputusan pengamal rukyat. Walau sebagian orang
menganggapnya wajar saja terjadinya perbedaan, tetapi
kebanyakan orang akan merasakan ketidaknyamanan.
Perdebatan akan selalu muncul, yang tidak mungkin
diredam sekadar imbauan “saling menghormati”.
Lebih dari sekadar masalah ketidaknyamanan
(penghalusan dari keresahan) di masyarakat dan
kenyataan ummat terpecah dalam beribadah massal
(Ramadhan dan hari raya), dengan adanya perbedaan
itu kita tidak akan pernah punya kalenedr hijriyah yang
tunggal dan mapan. Dengan perbedaan kriteria yang
diterapkan oleh ormas-ormas Islam, kalender hijriyah
dikerdilkan hanya menjadi kalender ormas. Kalender
Muhammadiyah akan menjadi kalender yang berbeda
sendiri dari kalender ormas-ormas Islam lainnya di
Indonesia. Walau kalender Ummul Quro Saudi Arabia
sama masih menggunakan kriteria wujudul hilal, belum
tentu wujudul hilal di Indonesia sama dengan di Arab
Saudi.
Kalau ukhuwah yang dikedepankan, “mengalah demi
ummat” yang dilakukan Muhammadiyah sangat besar
dampaknya. Dengan meninggakan kriteria wujudul hilal
yang usang, menuju kriteria yang lebih baik, kriteria imkan
rukyat, insya-allah potensi perbedaan dapat
dihilangkan. Toh, kriteria imkan rukyat pun adalah kriteria
hisab, namun bisa diterapkan untuk mengkonfirmasi
rukyat. Dengan kriteria imkan rukyat, kita pun bisa
menghisab kalender sekian puluh atau sekian ratus tahun
ke depan, selama kriterianya tidak diubah. Kriteria imkan
rukyat juga menghilangkan perdebatan soal perbedaan
hisab dan rukyat, karena kedua metode itu menjadi setara
dan saling mengkonfirmasi.
l

Iklan