Umumnya orang berpandangan, bahwa beda pendapat, termasuk beda lebaran itu merusak dan ber- tolak belakang dengan ukhuwah dan akan menimbulkan masalah. Karena itu, banyak pihak tidak siap mental menghadapi per- bedaan. Mereka beranggapan, ukhuwah itu identik dengan keseragaman. Sudut pandang seperti ini bisa menim- bulkan peminggiran kreativitas. Orang akan malas berkreasi, khawatir menimbulkan perbedaan yang akan berujung pada stig- ma merusak ukhuwah. Ukhuwah memang memerlukan fondasi yang seragam untuk terbangunnya ukhuwah itu sendiri. Tanpa fondasi yang kokoh dan seragam, sulit dibangun suatu ukhuwah. Apalagi kalau substansi ukhuwah diacuhkan dan diabaikan. Tulisan ini hendak menjelaskan fondasi bangunan ukhuwah, substansi ukhuwah dan mengelola serta menghin- darkan terganggunya ukhuwah. Untuk kepentingan menjelaskan fon- dasi bangunan ukhuwah, substansi ukhu- wah dan mengelola serta menghindarkan terganggunya ukhuwah, pertama-pertama akan dijelaskan kategorisasi perbedaan. Ada beberapa kategori perbedaan. Perta- ma, kategori al-tanawwu’ fi al-’ibadah; ke- anekaragaman dalam kaifiat dan bacaan dalam beribadah. Istilah ini berasal dari Ibn Taimiyah (Majmu’ Fatawa) untuk menyebut keanekaragaman kaifiat; tatacara dan bacaan dalam ibadah yang diajarkan oleh Rasulullah saw. Misalnya doa iftitah. Kedua, khilafiah. Beda pendapat kate- gori ini, berasal dari produk pemikiran atau penafsiran terhadap suatu nash; baik Al- Qur’an ataupun Al-Sunnah. Contoh yang relatif populer di kalangan umat Islam dalam hal ini adalah perbedaan pendapat menge- nai batal tidaknya wudhu seseorang bila bersentuhan dengan lawan jenis. Ketiga, al-Khuruj ‘an al-haqq; keluar dari kebenaran atau penyimpangan. Per- bedaan pendapat yang dapat dimasukkan ke kategori ini, adalah pendapat yang ber- tentangan dengan nash; Al-Qur’an dan al- Sunnah. Contoh populer dalam hal ini ada- lah pengakuan seseorang sebagai nabi atau rasul. Perbedaan dalam kategori al-tanawwu’ fi al-’ibadah, disikapi dengan menerima apa adanya keanekaragaman kaifiat dan ane- ka ragam bacaan dalam ibadah sepanjang hal itu diajarkan oleh Rasulullah saw. Dalam soal khilafiah, toleransi antar sesama mutlak diperlukan. Ada baiknya beda pendapat yang masuk kategori khi- lafiah dikelola secara baik dengan ber- azaskan kemaslahatan. Untuk beda pendapat yang masuk kate- gori al-Khuruj ‘an al-haqq, sikap yang perlu dikedepankan adalah mengajak para peng- anutnya kembali ke jalan yang benar de- ngan bijak dan hikmah, menghindari cara- cara kekerasan dan tidak main hakim sendiri dengan tetap mengacu pada Qs. 16: 125). Kepada umat Islam dihimbau untuk berhati-hati dan menolak ajaran yang sudah keluar dari kebenaran tersebut. Pertanyaan kemudian, masuk kategori apa perbedaan dalam menentukan 1 Ra- madlan, 1 Syawal dan 1 Dzulhijjah? Ja- wabannya, penentuan 1 Ramadlan, 1 Sya- wal dan 1 Dzulhijjah masuk kategori khila- fiah karena ia merupakan produk ijtihadiah. Perbedaan tersebut merupakan produk pemahaman terhadap suatu nash. Yang diperdebatkan adalah cara memastikan kapan hilal dianggap telah ada. Dalam hal ini, sekurang-kurangnya ada tiga cara yang dipergunakan untuk penetapan awal bulan: Pertama, ru’yat al-hilal bi al-fi’li: meli- hat hilal (bentuk semu bulan/bulan sabit yang paling kecil) dengan mata telanjang. Metode ini memutlakkan terlihatnya hilal oleh mata telanjang sebagai penentu awal bulan. Jika hilal tidak kelihatan disebabkan oleh cuaca mendung, tertutup awan atau sebab lainnya yang menyebabkan hilal tidak terlihat, maka jumlah hari dalam satu bulan digenapkan menjadi 30 hari. Argumentasi untuk metode ini adalah hadis riwayat Bukhariy dari Abu Hurairah dan Hadits riwayat Bukhâriy dari Ibn Umar ra Pada Hadits dari Abu Hurairah itu Nabi saw menegaskan bahwa, kewajiban ber- puasa karena melihat hilal dan berbuka ka- rena melihatnya. Apabila terhalang melihat- nya, maka umur bulan sya’ban disempur- nakan dalam bilangan 30 hari. Pada Hadits dari Ibn Umar ra, Nabi saw berpesan untuk tidak berpuasa Ramadlan sehingga hilal dilihat, dan tidak berbuka sebelum melihat hilal. Jika terhalang (melihat) hilal, usia Ra- madlan digenapkan 30 hari. Kedua, imkan al-ru‘yah (Kemungkinan terlihat hilal): Dalam metode ini, hadis Rasulullah saw mengenai ru’yaþ al-hilâl di atas dijadikan dalil sebagaimana pada metode pertama (ru’yat al-hilâl bi al-fi’li), namun yang menjadi substansi dari Hadits tersebut dalam metode ini, bukan terletak pada melihat hilal akan tetapi terletak pada mungkinnya hilal itu dapat dilihat. Untuk menentukan kemungkinan terlihatnya hilal, dalam metode ini digunakan ilmu hisab atau astronomi. Namun para ahli hisab yang mendukung aliran ini masih berbeda pendapat dalam menetapkan kriteria hilal yang mungkin dapat dilihat. Ada yang hanya menetapkan ketinggian hilal saja dan ada yang menambah dengan kriteria sudut pandang (angular distance). Kriteria ketinggian hilal pun masih terdapat perbedaan, ada yang menetapkan minimal 7 derajat, ada yang 6 derajat dan ada pula yang hanya 3 derajat. Bahkan di Indonesia ditetapkan minimal kemungkinan terlihatnya
hilal 2 derajat. Penetapan batas minimal di
Indonesia tersebut banyak ditentang oleh
ahli Astronomi/Hisab karena sangat kecil
kemungkinan atau bahkan mustahil hilal
bisa terlihat.
Ketiga, Hisab Hakiki/ wujûd al-hilâl:
metode ini menegaskan bahwa awal bulan
Qamariah (termasuk Ramadlan, Syawal
dan Dzulhijjah) dimulai sejak saat
terbenam Matahari setelah terjadi ijtimâ’
(konjungsi atau batas dan tanda usia bulan
berakhir), dan Bulan (hilal) pada saat itu
belum terbenam, tapi masih berada di atas
ufuk (horizon). Dengan demikian, secara
umum, kriteria yang dijadikan dasar untuk
menetapkan awal bulan Qamariah adalah
dimulai sejak saat terbenam matahari
setelah terjadi ijtimâ’ dan pada saat
terbenam matahari hilal belum terbenam
atau masih berada di atas ufuk berapapun
ketinggiannya. Metode terakhir ini,
sebagaimana Imkân al-Ru’yah dan Ijtimâ’
qabl al-ghurûb menggunakan ilmu Hisab/
Astronomi. Adapun perbedaannya, metode
wujûd al-hilâl tidak mempermasalahkan
tingkat ketinggian atau besarnya hilal
sebagaimana dalam imkân al-ru‘yah. Yang
penting hilal itu telah wujud berapapun
ketinggiannya. Sedangkan perbedaan
dengan Ijtimâ’ qabl al-ghurûb, wujûd al-
hilâl mensyaratkan kedudukan bulan
masih belum terbenam atau masih di atas
ufuk saat Matahari terbenam.
Sebagaimana diketahui, upaya
mencari titik temu selalu dilakukan. Namun
demikian, belum ditemukan kriteria yang
disepakati dalam menentukan awal bulan
Ramadlan, Syawal dan Dzulhijjah. Para
pihak dengan keyakinan masing-masing
bertahan pada posisi masing-masing
sesuai dengan pemahaman yang sudah
diyakini kebenarannya. Penganut rukyat
bertahan dengan rukyatnya. Penganut
Imkân al-Ru’yah bertahan dengan Imkân
al-Ru’yah-nya. Penganut wujûd al-hilâl
bertahana dengan wujûd al-hilâl-nya.
Ketiga aliran ini terkadang bisa memulai
puasa atau berlebaran bareng ketika posisi
hilal tiga hingga lima derajat. Ketiga aliran
memulai puasa bareng pada awal
Ramadlan lalu, karena posisi hilal yang lima
derajat dan ada laporan hilal dapat dilihat di
Makassar, Madura dan Gresik. Kondisi
alam menyatukan ketiga aliran tersebut,
bukan kriteria yang disepakati. Ketika posisi
hilal yang kurang dari dua derajat seperti
akhir Ramadlan (29 Ramadlan) tahun ini,
potensi beda lebaran menjadi sangat besar.
Dalam kondisi seperti ini ada baiknya posisi
Pemerintah tetap mengacu kepada UUD
45 Pasal 29 karena mengakhiri puasa itu
terkait dengan kebebasan beragama yang
merupakan amanat konstitusi. Dalam UUD
45Pasal 29 ayat (2) disebutkan, “Negara
menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk
untuk memeluk agamanya masing-
masing dan untuk beribadat menurut
agamanya dan kepercayaannya itu.”
Dalam Pasal 28E tentang Hak Asasi
Manusia hasil amendemen UUD 1945
tahun 2000 disebutkan,(1) Setiap orang
bebas memeluk agama dan beribadat
menurut agamanya. (2) Setiap orang
berhak atas kebebasan meyakini
kepercayaan, menyatakan pikiran dan
sikap, sesuai dengan hati nuraninya.
Dengan kriteria tinggi hilal minimal dua
derajat dan bisa dilihat, Pemerintah
diperkirakan akan menetapkan 1 Syawal
1432 H jatuh pada hari Rabu, 31 Agustus
2011. Dengan mengacu pada konstitusi
tersebut, Pemerintah ada baiknya tetap
memberi peluang kepada masyarakat
yang sesuai dengan pemahaman yang
diyakini, menetapkan 1 Syawal 2011 jatuh
pada 30 Agustus 2011. Pemberian peluang
tersebut dieksplisitkan pada salah satu
bagian putusan sidang itsbat dan
ditambahkan himbauan kepada semua
pihak, terutama Pemerintah daerah untuk
bisa menghormati mereka yang bersatu
Syawal tgl 30 Agustus serta tidak
memberikan stigma berseberangan
dengan Pemerintah. Dalam menyikapi
lebaran ini, masyarakat dapat memilih hari
lebaran yang dimantapi. Perbedaan
lebaran adalah wilayah khilafiah. Umat
Islam dibenarkan memilih sesuai dengan
kemantapan dan keyakinannya. Beda
lebaran tidak identik dengan merusak
ukhuwah.
Di muka telah dikemukakan bahwa,
ukhuwah memerlukan fondasi yang
seragam untuk terbangunnya ukhuwah itu
sendiri. Tanpa fondasi yang kokoh dan
seragam, sulit dibangun suatu ukhuwah.
Apalagi kalau substansi ukhuwah
diacuhkan dan diabaikan. Dengan mengacu
pada QS. 49: 10, Al-Alusi dalam kitab Rauhu
al-Ma’âni fi Tafsir al-Qur’âni wa al-Sab’i al-
Masâni, berpandangan bahwa fondasi
ukhuwah adalah keimanan. Dengan
keimanan itu, setiap individu muslim diikat
dalam suatu persaudaraan permanen yang
menempatkan satu sama lain hidup dalam
satu ikatan. Ikatan seiman dan keimanan
kepada Allah, kapada para malaikat, kepada
kitab-kitab yang diturunkan Allah, kepada
Rasul-Rasul Allah, kepada hari akhir (Qs.
4: 136) dan keimanan kepada qadar Allah
(HR. Muslim dari Abu Hurairah dan Umar
ibn a-Khaththab). Mengabaikan unsur-
unsur keimanan tersebut menempatkan
seseorang pada kesesatan (Qs. 4: 136) dan
tercerabut dari fondasi ukhuwah. Substansi
ukhuwah dengan demikian, bukan terletak
pada keseragaman akan tetapi pada
terpeliharanya fondasi ukhuwah dan adanya
semangat saling menghargai, saling
mendukung, saling memperkokoh
(yasyuddu ba’dhuhû ba’dhan) dan saling
mengasihi serta saling peduli (fi talâthufihim
wa tarâhumihim). Substansi lain adalah,
adanya upaya secara terus menerus
melakukan ishlah, perbaikan, kedamaian
dan keharmonisan betapapun dalam
perbedaan pandangan dan pemikiran.
Agar ukhuwah tidak terbelah harus
disatukan oleh ikatan keimanan dan
memiliki semangat saling menghargai,
saling mendukung, saling memperkokoh
(yasyuddu ba’dhuhû ba’dhan), saling
mengasihi, saling peduli (fi talâthufihim wa
tarâhumihim) dan memiliki keseragaman
pandangan.
Manakala keseragaman belum bisa
digapai, fondasi dan substansi ukhuwah
relevan untuk dikedepankan. Bagi mereka
yag memilih berlebaran 30 Agustus 2011,
dituntut tetap menghargai, menghormati dan
melindungi mereka yang memilih
berlebaran 31 Agustus 2011. Begitu pula,
mereka yang memilih berlebaran 31
Agustus 2011, dituntut tetap menghargai,
menghormati dan melindungi mereka yang
memilih berlebaran 31 Agustus 2011. Apa
pun pilihan yang diambil, semangat saling
menghargai, saling mendukung, saling
memperkokoh dan saling mengasihi serta
saling peduli, selalu dikedepankan. Wallâh
A’lam bi al-Shawâb.
l

Iklan