Ibadah shalat misalnya, yang dimulai dengan takbiratul ihram, berupa pengakuan bahwa kita ini sebagai hamba adalah sangat hina, sedang Allah adalah sangat perkasa, kemudian diakhiri dengan ucapan salam ke arah kanan dan kiri. Ini maknanya, bahwa begitu ibadah mahdlah kita selesai ditunaikan, maka ibadah sosial kita baru dimulai. Dengan mengucapkan salam ke arah kanan dan kiri berarti kita ingin ikut menebar keselamatan, dan mendoakan lingkungan kiri kanan kita selalu mendapat berkah dan rahmat dari Allah SwT. Tentu saja doa dan harapan tidak cukup. Kita harus membuktikan bahwa kita benar-benar bisa berbuat dan beramal shalih ke arah kiri kanan. Sehingga lingkungan di sekitar kita menjadi selamat, mendapat limpahan berkah dan rahmat dari Allah SwT. Itu artinya secara dinamis kita membiakkan kebaikan, kebenaran dan keindahan nilai Islam yang kita dapat di alam shalat. Agar dapat mewujud dan dapat dimiliki serta dirasakan manfaatnya oleh lingkungan sekitar kita. Dengan demikian apa yang disebut dalam ayat Al-Qur’an bahwa shalat itu dapat mencegah perbuatan keji dan munkar betul-betul dapat kita maknakan lewat perbuatan nyata. Kalau yang kita tebarkan ke lingkungan sekitar kita adalah salam, kedamaian dan keramahan hidup maka dengan sendirinya kita sendiri dan orang lain dapat terhindar dari perbuatan keji dan munkar itu. Demikian pula dengan ibadah puasa di bulan Ramadlan. Setiap sehabis buka puasa maka upaya untuk memaknakan atau mewujudkan nilai-nilai luhur yang kita dapat selama sehari menahan hawa nafsu baru dimulai. Semangat untuk beribadah makin bertambah, termasuk semangat untuk berbagi rejeki berupa sadaqah dan berbagi ilmu. Kita juga makin ramah kepada fakir miskin, kepada sesama Muslim. Dan setelah sebulan, maka ketika malam hari menjelang Idul Fitri itulah kita seharusnya baru memulai lagi perjuangan untuk mewujudkan dan mempraktikkan nilai-nilai Islam yang luhur yang selama bulan puasa kita dapatkan. Selama sebulan kita telah terlatih untuk bersahabat untuk menahan hawa nafsu. Oleh karena itu, sebagai umat pengikut Nabi Muhammad, kita pun mengakhiri bulan puasa Ramadlan dan memulai bulan Syawal dengan penuh rasa damai. Muhammadiyah misalnya, tidak pernah mau dan tidak pernah memulai pertengkaran dengan siapa pun tentang bagaimana menentukan tanggal 1 Syawal misalnya. Muhammadiyah telah memiliki pedoman dalam menghitung tanggal awal bulan Qomariyah, khususnya awal Ramadlan dan awal Syawal, dan menentukan awal bulan Ramadlan dan Syawal berdasar pedoman yang dipilih oleh Muhammadiyah, lewat kajian intensif oleh para ulama Muhammadiyah. Semua sudah jelas dan gamblang di- umumkan jauh-jauh hari, lengkap dengan argumentasi syar’inya. Dengan demikian, jika kemudian ada pihak yang mengajak bertengkar dan memojokkan Muhammadiyah karena Muham- madiyah telah menetapkan tanggal awal bulan Qomariyah lebih dulu dibanding yang lain, maka Muhammadiyah tetap istiqomah dengan keputusannya. Muhammadiyah menghormati pilihan pihak lain, dan ingin menjadikan Idul Fitri sebagai hari kemenangan kita semua atas hawa nafsu. Dengan demikian, selepas bulan Ramadlan, keberagamaan kita dapat terus dinamis, dan tidak terpenjara oleh masalah-masalah yang sebenarnya dapat dibuat untuk tidak memenjara kita semua. Ibadah zakat dan haji juga demikian. Kita senantiasa tidak berhenti pada masalah teknisnya belaka, tetapi membuka ruang dan visi baru dengan menggali spirit yang terkandung dalam ibadah zakat dan haji. Visi kerahmatan dan visi kemanusiaan misalnya. Ini yang perlu kita kembangkan, kita hayati dan kita praktikkan dalam kehidupan sehari-hari. l t Islam mengajarkan agar dalam beragama kita tidak statis, tetapi selalu dinamis. Diajarkan kepada kita, agar selalu meningkatkan iman kita. Kita dianjurkan untuk mampu melawan kecenderungan manusia pada umumnya yang imannya kadang naik kadang turun. Lewat semua tuntutan ibadah misalnya, kita diberi isyarat agar keimanan kita tidak statis, tetapi selalu meningkat kualitasnya. Dan semua ibadah itu bukan tujuan, tetapi merupakan sarana untuk meningkatkan dan sarana untuk mendinamisasi keberagamaan kita.

Iklan