Permasalahan yang sungguh sangat ringan, namun sering terlalaikan oleh sebagian kaum muslimin, yaitu berdoa sebelum makan. Padahal lebih ringan daripada mengangkat sesuap nasi ke mulut dan lebih ringan daripada menahan lapar. Yaitu membaca: ‘Bismillah’ (Dengan nama Allah).

Dan bila lupa membacanya kemudian ingat, kita diperintahkan untuk membaca pula yaitu: ‘Bismillahi fi awwalihi wa akhirihi’ (Dengan nama Allah, di awalnya dan di akhirnya).

Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam:

“Apabila salah seorang kalian makan suatu makanan, maka hendaklah dia mengucapkan ‘bismillah’ dan bila dia lupa di awalnya hendaklah dia mengucapkan ‘bismillah fii awwalihi wa akhirihi’.” [1]

Di dalam hadits yang lain dari shahabat yang membantu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam selama 18 tahun, dia bercerita bahwa: “Rasulullah apabila mendekati makanan mengucapkan bismillah.” [2]

Hadits ini dan yang sejenisnya menunjukkan disyariatkannya mengucapkan bismillah ketika hendak makan dan bila lupa mengucapkan seperti yang disebutkan dalam teks hadits di atas. Demikian pula bila tidak mengucapkan dengan sengaja disyariatkan mengucapkannya di saat makan.

Hukum Membaca Bismillah Ketika Makan

Berdasarkan dalil yang shahih dan sharih (tegas) di atas bahwa membaca bismillah ketika makan adalah wajib dan berdosa jika meninggalkannya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda kepada ‘Umar bin Abu Salamah dan saat itu dia masih kecil:

“Hai nak, sebutlah nama Allah dan makanlah kamu dengan tangan kanan.” (HR. Imam Bukhari no. 5376)

Dalam kitab Nailul Authar disebutkan bahwa mengucapkan bismillah hukumnya wajib karena hadits-hadits yang memerintahkannya tidak ada yang menyelisi dan berlawanan dengannya serta orang yang meninggalkannya (tidak mengucapkan bismillah) maka ia makan dan minum bergabung bersama-sama setan. [3] (Nailul Authar, 9/42)

Dalam kitab Subulus Salam disebutkan bahwa sebaiknya setiap orang yang mau makan hendaknya mengucapkan bismillah. Seandainya ada salah seorang yang telah mengucapkannya maka cukup bagi yang lainnya. Dan dalam hadits yang sebelumnya disebutkan perintah makan dengan tangan kanan sebagai dalil wajibnya makan dengan tangan kanan untuk menyelisihi setan yang makan dan minum dengan tangan kiri dan perbuatan setan diharamkan bagi manusia untuk menirunya. [4] (Subulus Salam, 3/159)

Ibnul Qayyim berkata: “Yang benar adalah wajib membaca bismillah ketika makan. Dan hadits-hadits yang memerintahkan demikian adalah shahih dan sharih. Dan tidak ada yang menyelisihinya serta tidak ada satupun ijma’ yang membolehkan untuk menyelisihinya dan mengeluarkan dari makna lahirnya. Orang yang meninggalkannya akan ditemani setan dalam makan dan minumnya.” (Lihat Zadul Ma’ad 2/396)

Bolehkah Ditambah dengan ‘Arrahmanirrahim’?

Ada satu kaidah yang harus kita ketahui yakni berhenti di atas bimbingan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam merupakan satu kewajiban. Dan sungguh betapa banyak yang tersesat jalan di dalam beragama karena mengentengkan permasalahan ini. Seseorang akan bisa menjadi salah satu musuh Islam yang berbahaya karena tidak mengikuti bimbingan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Memang berjalan dengan tepat di atas petunjuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam untuk masa sekarang ini adalah hal yang berat bagi orang-orang yang tidak mendapatkan petunjuk Allah.

Oleh karena itu bermunculanlah istihnat-istihnat (anggapan baik terhadap sesuatu yang bukan dari agama) di dalam agama. Padahal, kaidah menyatakan: sesuatu itu baik apabila agama menganggapnya baik dan jelek apabila dianggap jelek oleh agama. Orang dengan mudah mengatakan ‘Hal ini termasuk agama’ padahal tidak termasuk agama sedikitpun. Dan orang dengan mudah mengada-adakan dalam urusan agama padahal tidak pernah diajarkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.

Demikianlah akibat kejahilan terhadap agama, orang akan membeo tanpa ada rasa takut sedikitpun kepada Allah dan tanpa merasa salah di hadapan agama-Nya. Salah satu contoh adalah menambah doa makan dari “bismillah” menjadi “bismillahirrahmanirrahim”.

Dalam Bahjatun Nazhirin disebutkan: Tidak disunnahkan membaca bismillah setiap kali menyuap makanan. Sesuai dengan teks hadits, disunnahkan untuk membaca “bismillah” saja tidak “bismillahirrahmanirrahim” karena tidak ada dalil yang menjelaskannya. (Bahjatun Nazhirin, 2/50)

Asy-Syaikh Al-Albani rahimahullah dalam kitab beliau Silsilah Al-Hadits Ash-Shahihah (1/152) mengatakan: “Membaca tasmiyah di permulaan makan adalah ‘Bismillah’ dan tidak ada tambahan padanya. Dan semua hadits-hadits yang shahih dalam masalah ini tidak ada tambahannya sedikitpun. Dan saya tidak mengetahui satu haditspun yang di dalamnya ada tambahan (bismillahirrahmanirrahim, pent). Hal ini termasuk bid’ah di sisi ulama fuqaha.”

Kenapa kita dilarang, bukankah itu lebih sempurna dan lebih baik? Jawabannya:

1. Kesempurnaan di dalam agama adalah kesempurnaan dalam mengikuti segala tuntunan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, tidak menambah dan tidak pula menguranginya.

2. Jika hal ini lebih baik, niscaya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam akan mengajarkan kepada kita, dan akan dinukilkan oleh para shahabat beliau, dan merekalah yang pertama kali akan melakukannya.

3. Di dalam perbuatan ini ada unsur pembebanan diri dengan beban yang tidak datang dari syariat.

4. Perbuatan ini tergolong keluar dari bimbingan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, sementara kita meyakini bahwa sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Kalau keluar dari jalan beliau dengan membuat jalan tersendiri atau menambah syariat yang tidak pernah diajarkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berarti:

a. Menentang apa yang telah difirmankan oleh Allah tentang kesempurnaan Islam.

b. Mengangkat diri setara dengan Allah dalam pembuatan syariat.

c.Menuduh beliau shallallahu ‘alaihi wasallam berkhianat dalam menyampaikan risalah sehingga perlu ditambah atau dikurangi.

d. Menuduh para shahabat Nabi radhiyallahu ‘anhum yang menukilkan kesempurnaan syariat tersebut berkhianat kepadanya.

Keempat hal ini telah dijelaskan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dalam sabda beliau:

“Barangsiapa melakukan sebuah amalan yang tidak ada perintahnya dari kami, maka amalan tersebut tertolak.” (HR. Al-Imam Muslim) [5]

Asy-Syaikh Muhammad bin Jamil Zainu berpendapat kelirunya seseorang yang mengucapkan ‘Bismillahirrahmanirrahim’ ketika hendak makan. Karena kalimat ‘Bismillahirrahmanirrahim’ disyariatkan pada penulisan-penulisan risalah dan pada awal-awal surat Al-Qur’an.

Yang benar, mengucapkan ‘Bismillah’ saja. ‘Abdullah bin ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma telah mengingkari bacaan basmalah yang sempurna ketika hendak makan. Sebagaimana dalam Al-Mustadrak (1/11) karya Al-Hakim. Imam As-Suyuthi menyebutkan di dalam Al-Hawi bahwa amalan tersebut merupakan bid’ah yang tercela.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

“Jika salah seorang dari kalian makan, maka sebutlah nama Allah Subhanahu wa Ta’ala (Bismillah), jika lupa pada awal bersantap, bacalah ‘bismillahi awwalahu wa akhirahu’.” (HR. Abu Dawud, shahih)

Bacaan basmalah yang sempurna itu diucapkan ketika mulai membuka bacaan surat-surat Al-Qur’an, selain surat At-Taubah dan juga ketika menulis surat. [6]

Wallahu a’lam bish-shawab.

_______________

[1] HR. At-Tirmidzi no. 1936 dan dishahihkan oleh Asy-Syaikh Al-Albani di dalam kitab Shahih Sunan At-Tirmidzi 2/167, no. 1513 dari shahabat ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha.

[2] Diriwayatkan oleh Ahmad (4/5062/375) dan Abu Asy-Syaikh di dalam kitab Akhlaq An-Nabi hal. 238 dan dishahihkan oleh Asy-Syaikh Al-Albani di dalam kitab Silsilah Ahadits Shahihah 1/152 no. 71.

[3] Berdasarkan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam: “Apabila seseorang masuk ke dalam rumahnya, lalu dia menyebut nama Allah ketika masuk dan ketika makan, maka setan berkata (kepada teman-temannya): ‘Kalian tidak mendapatkan kesempatan bermalam (bersamanya) dan makan malam.’ Dan bila dia masuk rumah dan tidak menyebut Allah ketika masuknya, setan berkata (kepada teman-temannya): ‘Kalian akan mendapatkan kesempatan bermalam (bersamanya)’. Dan bila dia tidak menyebut nama Allah ketika makannya maka setan berkata (kepada teman-temannya): ‘Kalian mendapatkan kesempatan bermalam dan makan malam (bersamanya)’.” (HR. Al Imam Muslim no. 2018) -pen.

[4] Yakni hadits: “Apabila salah seorang dari kalian makan, maka hendaklah makan dengan tangan kanan dan apabila dia minum, minumlah dengan tangan kanan. Karena setan apabila makan dia makan dengan tangan kiri dan apabila minum, dia minum dengan tangan kiri.” (HR. Imam Muslim no. 5332 dari shahabat Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma) -pen.

[5] Diringkas dari Majalah Asy Syariah edisi no. 02 (rubrik Doa) dan edisi no. 16 hal. 54-55.

[6] Lihat: Salah Kaprah yang Mesti Diluruskan karya Asy-Syaikh Muhammad bin Jamil Zainu, penerbit: Pustaka Salafiyah hal. 140-141.

Iklan